FORELSKET~05

1701 Kata
"Clarinda, papa lihat dari tadi mata kamu merah begitu kayak habis nangis ? Kamu kenapa ?" Reiko akhirnya membuka suaranya di tengah meja makan yang di kelilingi oleh seluruh keluarga inti miliknya. Membuat seluruh keluarganya tersebut menghentikan pembicaraan mereka yang sangat berisik di atas meja dan beralih memusatkan perhatian pada Reiko dan Clarinda secara bergantian. Memang sedaritadi kedatangan puterinya itu Reiko sangat peka dengan keadaan Clarinda yang sangat lengket padanya, jadi saat melihat wajah puterinya yang tidak bersemangat bahkan hanya memaksakan makanan di piringnya untuk masuk kedalam mulutnya, membuat Reiko tidak bisa menahan diri untuk melontarkan pertanyaan. Bahkan jika puterinya itu hanya sekali - kali menanggapi pembucaraan di tengah keluarga dengan senyuman yang selalu di umbarkannya. Mungkin Reiko melemparkan pertanyaan tersebut pada puterinya sendiri tetapi, kedua mata hitam tajamnya yang kini berubah serius sedikit menoleh sinis pada menantu laki - lakinya, Savalas. Menyelidik atau mungkin curiga dengan apa yang membuat Clarinda menangis. Reiko juga pernah membuat isterinya Santi itu menangis jadi hal ini bukanlah sekali - kalinya atau pertama kalinya  bagi Reiko sebagai seorang ayah dan suami untuk tidak pantas menaruh curiga pada suami puterinya tersebut. Setahunya perempuan yang sudah menikah hanya akan menangisi tiga hal yaitu : suaminya,keluarganya,dan lingkup sosial yang di rasakannya.Tetapi karena Clarinda sudah memiliki seorang suami jadi sudah sepantasnya jika yang harus di curigai lebih dahulu adalah Savalas.  Instingnya sebagai seorang ayah berkata dan sebuah insting lainnya sebagai sesama laki - laki.  Clarinda yang kini menjadi pusat perhatian dari seluruh keluarganya itu hanya tersenyum sebelum menggelengkan kepalanya "Nggak apa kok, Yah."  Savalas yang melihat raut wajah dari ayah mertuanya kini mengerut tidak bia menerima alasan dari isterinya itu langsung saja spontan memegang bahu Clarinda lembut. Tidak ingin menunggu ayahnya yang harus turun tangan pada akhirnya untuk melemparkan pertanyaan yang harus di jawabnya, terlebih Reiko adalah sosok ayah yang sangat mengutamakan puteri - puterinya jadi tidak mungkin kalau ayahnya akan berdiam diri saja setelah menaruh curiga. "Kamu kenapa sayang ? Kurang sehat ?"Savalas berhasi membalikan tatapan kedua bola mata hitam milik isterinya dari ayah mertuanya untuk berbalik menatap dirinya yang duduk sedari tadi tepat di samping Clarinda, sementara ibu mertuanya dan Clarisa tepat duduk di depan mereka dan ayah mertuanya tentu saja duduk di posisinya sebagai kepala keluarga, menengahi mereka berempat.  "Iya loh Clarinda kamu kelihatan lesu gitu, nggak nafsu makan gitu, nak. Kenapa sih sayang ? Makananya nggak sesuai selera kamua ya ? Mau mama pesenin makanan aja ?" kali ini Santi yang menyela bertanya pada puterinya yang lagi - lagi hanya tersenyum menatap ke empat anggota keluarganya yang memusatkan seluruh perhatian kepada nya. "Nggak koka, Ma. Makanannya enak. Abis capek aja akunya baru pulang kerja."  Clarinda berusaha memeberikan penejelasan kepada keluarganya dengan sedikit menunduk melirik makanannya yang berada di atas pirinya, terlihat bahwa dirinya belum terlalu banyak menyentuh makanan - makanan tersebut dan hanya menyuap kecil saja. Jujur saja Clarinda tidak ada nafsu makan lagi sekarang, rasanya tubuhnya lemas semua entah karena berbagai faktor pikirannya yang kacau atau memang tubuhnya ini hanya membutuhkan tempat tidur sekarang. Entahlah, terlalu banyak hal yang membingungkan untuknya. Terlebih pertengkaran terakhirnya bersama Savalas sang-suami.  "Kakak mau istrahat dulu aja nggak ? Nanti suami kamu bawain makanan ke kamar kalo kamu udah bangun. Istrahat aja sayang." ucapa Santi yang langsung saja di anggukan olehnya sendiri saat penawaran itu keluar dari mulut ibunya. Seandainya dirinya berada di rumahnya sendiri hanya berdua bersama Savalas mungkin sudah sedaritadi Clarinda masuk kedalam kamar untuk beristrahat dan membiarkan perasaan dan tubuhnya untuk beristrahat.  Hari ini adalah hari berat baginya.  "Makasih Ma. Ayah, aku pamit istrahat di kamar ya." Pamit Clarinda yang di anggukan langsung oleh kedua orangtuanya tersebut.  Sebenarnya Reiko masih belum ingin membiarkan Clarinda lepas tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi tetapi, saat wajah Clarinda sudah terlihat sangat letih pada akhirnya dirinya membiarkan puterinya tersebut berdiri dari kursinya menuju kamar Clarinda sendiri sewaktu masih tinggal bersama mereka berdua dan adiknya, Clarisa.  Jika Savalas dan Clarinda  akan menginap di rumah orangtuanya maka kamar Clarinda akan menjadi kamar pribadi dari Savalas dan Clarinda sendiri sebagai sepasang suami isteri yang sah. Seperti malam ini mereka berdua sudah sepakat untuk menginap di rumah orangtua Clarinda dan Clarisa yang sekarang juga menjadi mertua dari Savalas.  Disaat Clarinda sudah berdiri dari duduknya maka dengan cepat Savalaspun juga berdiri lalu memegang tangan isterinya dengan lembut dan semua itu tidak lepas dari tatapan tajam ayah mertuanya, menilai tingkah mereka. "Aku antar ke kamar ya, yang." Savalas sedikit membungkukan tubuhnya untuk menatap wajah Clarinda yang menunduk tidak menatapnya.  "Nggak usah, kamu lanjutin makan kamu aja dulu." tolak Clarinda dengan pelan bahkan nada suara yang di gunakannya tidak bisa dibilang sebuah penolakan, hanya saja ucapannya di iringi dengan tingkahnya yang secara perlahan melepaskan genggaman tangan Savalas di kedua tangannya dengan pelan tetapi, penuh siratan bahwa dirinya sekarang benar - benar tidak ingin di temani oleh suaminya itu. "Aku mau sendiri dulu." sambung Clarinda dengan lirih sebelum kembali mengambil langkah pergi dari ruang makan.  Meninggalkan Savalas yang terdiam mematung di tempatnya, baru kali ini isterinya menolak kehadirannya itu. Sementara Reiko mulai mengerutkan keningnya saat melihat hubungan puterinya Clarinda dan menantu laki - lakinya Savalas. Ada yang mengganjal. *** Savalas ingin segera pergi dari ruang makan saat dirinya dan keluarga dari isterinya itu telah selesai menyantap makan malam mereka yang kembali berjalan lancar setelah Clarinda permisi untuk pergi dari sana, hanya saja meskipun ibu mertuanya dan juga Clarisa adik iparnya tersebut kembali berbicara mengenai hal yang tidak penting dan menyeretnya kedalam topik, tetap saja Savalas tidak bisa merasa nyaman.  Bagaimana tidak ayah mertuanya sendiri sedari tadi tidak ikut dalam pembicaraan mereka bahkan saat Santi, isterinya menanyai pendapatnya atau mengajaknya bergabung dalam percakapan ringan itu tetap saja Reiko hanya fokus menatap Savalas dengan raut wajah tidak terbaca, bahkan secara terang - terangan menatap dirinya. Terlalu serius dalam suasana santai mereka mungkin itu dikarenakan aura yang di keluarkan ayah mertuanya kini sebagai mantan seorang AD (Angkatan Darat) yaitu TNI yang berpangkat Perwira Tinggi dan menjabat sebagai Mayor Jenderal. Sebelum pensiun di usianya yang ke 55 tahun dan kini telah menginjak usia 58 tahun yang berarti telah pensiun selama tiga tahun terakhir.  "Mama Ayah aku permisi dulu ya mau pergi lihat Clarinda." Alasan Savalas berdiri dari duduknya yang langsung disetujui ibu mertuanya itu dengan berkata "Iya,inikan udah selesai Savalas. Kamu keatas aja tanya isteri kamu ya, dia butuh apa biar mama siapin nantinya." dan Savalas hanya menganggukan kpalanya mengerti lalu bersiap untuk pergi dari sana.  "Savalas." Baru tiga langkah yang di ambilnya dan suara dari ayah mertuanya itu sudah menyapa gendang telinganya, spontan saja membuat Savalas menghentikan langkahnya lalu segera berbalik. Reiko tidak meneriakinya atau menaikan nadanya saat memanggilnya, hanya memanggilnya dengan biasa melalui suaranya yang dalam dan tegas, seolah bukan ayah mertuanya yang memanggoilnya tetapi, seorang perwira tinggi yang memegang jabatan Mayor Jenderal.  "Iya ayah ?" Reiko berdehem lalu ikut bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati menantunya tersebut, setibanya di depan Savalas di tepuknya bahu kiri Savalas sebelum kembali membuka suaranya. "Ayah mau bicara."  Reiko tidak pernah berlaku kasar pada keluarganya ataupun pada Savalas yang berstatus sebagai pendamping hidup dari puterinya karena Savalas kini adalah anggota keluarganya yang harus dilindunginya demi sang puteri.  Hanya saja saat Reiko melihat bahwa sebuah 'sampah' akan mengikat puterinya dalam penderitaan maka kata keluarga mungkin tidak akan berguna untuk melindungi orang tersebut. Dan Savalas tahu itu dengan jelas.  Puterinya telah diberikannya padamu karena kau terlihat mampu, maka kau harus bertanggung jawab atas kemampuan yang kau tunjukan. *** Clarisa mengetuk pintu ruang perpustakaan pribadi milik ayahnya yang tepatnya dulu itu menjadi ruang kerja sebelum pensiun dan diubah menjadi sebuah perpustakaan pribadi sang ayah dan di isi oleh kumpulan buku - buku tebal yang rata - rata berukuran besar tetapi,bertulisakan angka kecil dan berbagai buku - buku yang tidak akan pernah menarik minat dari isterinya dan Clarisa yang hanya mengerti mengenai dunia permodelan dan fashion. Tetapi, hal itu berbanding terbalik dengan Clarinda yang memang memiliki beberapa hobi yang kembar dengan ayahnya tentu saja seperti gemar membaca buku dan beberapa hobi lainnya, sehingga Clarinda jauh lebih dekat dengan Reiko dibanding dengan Santi yang lebih satu passion bersama Clarisa, adik kembarannya itu.  Karena Clarinda sudah berkeluarga sendiri dan tidak tinggal bersama mereka lagi maka ruang kerja miliknya yang baru di rombaknya setelah pensiun menjadi perpustakaan pribadi secara otomatis menjadi ruangan pribadinya kembali, padahal  Reiko tidak melarang Santi dan Clarisa sebelum pindah ke LA dua tahun lalu itu untuk datang tapi, tetap saja kesukaan mereka berbeda.  "Masuk."saat ayahnya telah bersuara untuk menanggapi ketukan Clarisa yang tengah mengantar kopi untuk ayahnya  dan iparnya, maka dirinyapun mulai membuka pintu yang membatasi mereka.  Clarisa hanya melirik singkat kekasih gelapnya itu Savalas yang juga meliriknya sebelum keduanya segera berbuang pandang dan ketahuan oleh ayahnya yang berinsting tajam. "Ayah, mau ngomong apa sih sama Kak Savalas ? Padahal bisa diomongin diluar."  "Savalas minum." persilakan Reiko saat puteri bungsunya itu telah menaruh dua gelas kopi hitam panas di atas meja depan mereka yang langsung saja di patuhi oleh Savalas sendri. "Kamu nggak perlu tahu Clarisa. Coba kamu pergi cek kakak kamu. Siapa tahu dia butuh sesuatu." sambung ayahnya lagi yang ditujukan pada Clarisa yang masih berdiri di tempatnya.  "Mama udah naik keatas cek kak Clarinda. Aku juga pengen tahu ayah sama kak Savalas mau ngomongin apasih kok sampai di sini bukannya di luar aja, santai."  "Kamu nggak perlu tahu. Udah sana, bukannya kamu mau kasih kakak kamu itu oleh - oleh dari LA ya ? Buruan pergi sana. Unboxing - Unboxing, apa namanya. Kamu sama mama kamukan suka. Mumpung kalian bisa kumpul di antara cewek." usir Reiko mencari - cari alasan agar puterinya itu segera pergi dari sini.  "Yaudah. Aku keatas dulu ketemu mama sama kak Clarinda." nyerah Clarisa menutup pintu dibelakangnya kembali meninggalkan Savalas bersama ayahnya tersebut.  Clarisa tahu jika ayahnya sampai hanya ingin berbicara empat mata berarti itu hal serius dan Clarisa tahu kenapa ayahnya berpikir seperti itu. Ayahnya melihat ada hal yang tak beres di antara Savalas dan Clarinda, bahkan tadi dirinya juga melihat hal tersebut.  Membuat Clarisa berpikir apa yang terjadi pada hubungfan suami isteri dari kakak kembarannya itu dan tanpa sadar sebuah pemikiran muncul bahwa apakah kejadian kemarin saat dirinya yang menjawab telepon dari Savalas itu menjadi awal dari kerenggangan rumah tangga ini ? Apa Clarinda sudah berpikir bahwa suaminya itu sudah berselingkuh ?  Memikirkannya entah kenapa tidak membuatnya sedih selayaknya sebagai seorang adik atas hubungan rumah tangga dari kakaknya tersebut ataupun takut sebagai selingkuhan dari Savalas suami kakanya, bahkan Clarisa kini tidak bisa menahan senyumannya sendiri. Bahagia. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN