“Antaka.” Panggil Clarinda untuk kesekian kalinya, mencoba menghentikan langkah pria tersebut yang terus saja menyeretnya pergi dari sana. Barulah saat Clarinda menyentakan tangannya yang di genggam oleh Antaka dengan kuat dirinya baru terbebas, hal tersebut juga celah yang di dapatnya dari pria berlesung pipi saat tengah mencoba membuka pintu mobil. “Apa yang kau lakukan ?” Tanyanya menatap pada sosok Antaka yang terlihat begitu gelisah, sembari mengelus lengannya yang sedari tadi di tarik oleh Antaka. Baru saja dirinya terlepas dari cengkraman dokter anak itu ia sudah kembali mendapatkan genggaman pada kedua bahu kecil miliknya, menggegam bahunya dengan kuat namun masih berusaha mengontrol kekuatannya sendiri. “Aku tahu kau sedang memendam amarah padaku, tapi kau tidak bisa melak

