"Clarinda ?" Suara dai Santi yang begitu terkejut dengan kedatangan puterinya tersebut berhasil menarik kesadaran Clarinda dari tenggelamnya pikirannya yang terus memikirkan ucapan Antaka kemarin pagi. Jujur saja ucaapn dari pria tersebut berhasil mempengaruhinya bahkan membuatnya tidak bisa tidur,meakipun sebenarnya tanpa ucapan itupun juga Clarinda tidak yakin apakah masih bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang saat menyadari bahwa suaminya Savalas ternyata tidak pulang kerumah. Itu adalah tusukan pisau kedua yang sangat tajam padanya. Clarinda melangkah mendekati ibunya dan langsung memeluknya, seolah ingin menguatkan dirinya sendiri dengan berusaha menahan tangisannya yang sebentar lagi akan memecah. "Kenapa Clarinda ? Kamu kenapa sih ?" Tanya Santi khawatir pada puteri sulun

