Clarinda masih saja menundukan kepalanya tidak ingin menatap wajah Antaka yang berada di depannya, sedang sibuk membalut telapak tangannya yang terluka. Sudah sejam lalu Clarinda tenang dan berakhir bisa menenangkan dirinya agar tidak menggila lagi meskipun, berada dalam pelukan laki - laki yang bukan suaminya dan seharusnya sosok yang memeluknya adalah suaminya sendiri bukan pria yang sangat ingin di hindari oleh Clarinda. Pak Erno datang dan menaruh gelas berisi kopi juga sebuah air bening tepat di depan meja membuat Clarinda mendongak untuk menatap supirnya tersebut sungkat sebelum dengan cepat kembali menunduk saat tatapan pria paruh baya itu bertemu dengannya juga, memastikan keadaanya. "Makasih Pak. Bapak untuk hari ini bisa pulang saja dulu." "Eh— nggak apa non ?" Tanya Pak Erno

