"Siapa dia ?" Langsung saja pertanyaan tajam itu meluncur dari mulut Savalas setelah pintu ruangan telah di tutup dari oleh Antaka. Clarinda yang masih berada posisinya di atas bangkar rumah sakit sengan jejak - jejak air mata yang menetes segera mengelap air matanya tidak ingin dilihat oleh Savalas. Sementara Savalas yang masih dapat dengan begitu jelas melihat jejak air mata di kedua pipi isterinya hanya mengabaikannya, pertanyaan siapa pria yang berani memeluk isterinya itu lebih penting. Wajah blasteran itu jelas tidak pernah dikenal olehnya, sejauh apapun Savalas mencoba mengingat teman - teman pria dari Clarinda dirinya yakin ridak menemukannya terlebih dengan sifat Clarinda yang memang sedikit memilih dalam hal pertemanan lawan jenis jadi, tidak susah bagi Savalas mengingat teman

