"Itulah kenapa aku bilang kau berani. Tidak bisa kubayangkan jika, kau masih mau mempertahankannya. Karena aku dulu sama sepertimu, aku mempertahankannya karena ia bilang tidak akan mengulanginya tapi, itu hanya waktu sebelum dia membunuhmu." Clarinda menatap manik hitam yang di dalamnya tergambar sebuah kabut kesedihan di sana. Luka itu rupanya masih ada disana. Tidak akan bertahan untuk selamanya tapi, pasti akan memudar secara perlahan suaru saat nanti. Sedikit demi sedikit. Dengan tersenyum manis perempuan tersebut membalas pandangan Clarinda dengan sebuah senyuman yang seolah mengatakan bahwa dirinya telah baik - baik saja. "Aku terus menunggu dan membiarkannya menipuku secara berulang - ulang. Berpikir bahwa dirinya akan segera berubah, layaknya sebuah buah busuk yang kupercay

