Setelah merasa cukup terdiam Clarinda pada akhirnya bersuara, menanggapi Antaka yang masih terlihat tidak seperti biasanya dengan ekspresi tersebut. Pria berlesung pipi di depannya lebih banyak memasang wajah tersenyum manis miliknya saat bertatapan dengan Clarinda, namun tidak untuk sekarang. “Maaf. Aku hanya berpikir untuk membuatkanmunsarapan sebagai permintaan maafku semalam. “ ucapnya sembari membuang pandangannya ke arah ruang kerja besar ini. “Tapi, aku lupa jika, kau memiliki pelayan yang akan menyiapkannya. Karena, tidak bisa tidur lagi jadi aku memilih kembali berkeliling. Kurasa aku terlalu lancang, maaf.” Lanjut Clarinda semakin mengecilkan suara miliknya menuju akhir perkataannya. Antaka jelas menyadari bahwa perempuan di depannya ini sedikit tidak nyaman akan situasi

