Maharani terbangun dengan kotak jepitan yang masih di tangan. Dia melihat sekali lagi jepit rambut tersebut. Bintara selalu saja hadir dengan segala keunikannya. Maharani memilih bangkit setelah sebelumnya menyimpan jepit rambut itu ke atas nakas. Maharani berjalan keluar, sepi tak terlihat tanda-tanda mamanya di dalam rumah. gadis itu langsung berjalan ke arah kamar Erna, sama saja, kosong. Maharani memilih berjalan ke dapur, barangkali mamanya sedang memasak atau membuat sesuatu, tapi ternyata sama saja, tak ada aktivitas apa pun di sana. Maharani melangkahkan kaki keluar rumah, ternyata mamanya itu sedang duudk sendirian di taman dengan arah pandang entah ke mana. Sama seperti dirinya, Maharani yakin ibunya itu pasti juga sedang mengingat Bintara. “Ma, sudah bangun?” tanya Maharani

