“Sudah siap ternyata. Baguslah. Ayo berangkat!” Ya Tuhan. Maharani menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yang benar saja, padahal dia sudah keluar sepagi mungkin, bisa-bisanya Lingga datang lebih pagi darinya. Kalau tahu seperti ini akan lebih baik dia tidak keluar tadi. “Ngapain bengong? Ayo!” ajak Lingga sembari mendekat ke arah Maharani. Maharani menatap lelaki itu dengan tatapan kebencian. Dia melengos, mengambil kunci rumahnya lagi yang sebelumnya sudah di masukkan ke dalam saku dan berniat untuk kembali ke dalam rumah. “Loh, kok masuk? Gak jadi keluar? Jangan begitu, Ran. Pemandangan di sana beneran bagus, kamu pasti suka,” ucap Lingga meyakinkan Maharani. Kali ini Lingga tak berbohong. Pemandangan di tempat yang dia maksud memanglah sangat indah. Tempat itu bahkan ki

