Malam Pertama

1091 Kata

Bintara buru-buru keluar dari kamarnya. Usai puas berbincang dan bersendau gurau dengan sang istri lewat telepon seluler, Bintara kini mempunyai tujuan lain. “Loh, kok sudah ganti baju, kamu mau ke mana?” tanya Erna yang kebetulan melihat sang putra seperti orang terburu-buru. “Mau nemuin istri. Sudah boleh, kan?” Bintara nyengir, sama sekali tak takut melihat wajah Erna yang sudah siap menelannya hidup-hidup. “Bisa-bisanya kamu mau pergi sementara di sini banyak tamu. Mama harus bilang apa sama mereka kalau sampai tanya ke mana pengantinnya? Sudah mempelai perempuan tidak ada, masa mempelai pria juga tidak ada?” omel Erna panjang lebar. Bintara menghembuskan napas, sedikit sebal karena kalau sudah seperti ini, endingnya pasti dia tidak mendapatkan ijin. Lelaki itu mendekat ke arah sof

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN