“Mau jalan-jalan dulu, gak?” tanya Bintara saat mereka sudah berasa di dalam mobil.
“Gak ah, Mas. Nanti mama marah lagi. Kan tadi dia sudah bilang kita gak boleh ke mana-mana.”
Kali ini Bintara berdecih. Calon istrinya itu memang sangat penurut.
“Kan mama gak tahu, Sayang. Kamu juga jangan bilang. Kita udah terlanjur ketemu ini, masa Cuma sebentar terus pisah lagi?” Bintara merajuk.
“Kan tiga hari lagi kita ketemu, Mas. Dipernikahan kita malahan.”
Bintara melirik sekilas. Sepertinya sering bergaul dengan sang mama, Maharani kini menjadi gadis yang sangat kolot.
“Kasihan, padahal masih muda,” gumam Bintara pelan.
“Apa, Mas?”
Bintara menoleh dengan cepat ke arah Maharani. Dia tak menyangka jika gadis itu masih bisa mendengar suaranya, padahal dia sudah sangat mengecilkan volumenya.
“Enggak. Ya, sudah, kita pulang saja.” Akhirnya Bintara hanya bisa pasrah dan menyetujui permintaan calon istrinya itu.
“Eh, tapi kok lewat sini?” tanya Maharani saat dia sadar bahwa jalan yang diambil Bintara ternyata menyimpang cukup jauh dari jalan yang biasa dia lewati.
“Sengaja, biar jauh sedikit. Kamu gak mau diajak keluar, jadi dengan memutar jalan yang lebih jauh, setidaknya aku punya sedikit waktu untuk berlama-lama denganmu.”
Mendengar perkataan Bintara, Maharani langsung membuang muka. Dia tak mau Bintara melihat wajahnya yang mungkin sedang merona sekarang. Gadis itu menyembunyikan senyuman dibalik kaca mobil. Bintara benar-benar berhasil menyiptakan perasaan baru di hatinya.
Setelah hampir setengah jam berputar-putar, Bintara akhirnya mengantar Maharani ke asrama tempat tinggalnya.
“Terima kasih, Mas,” ucap Maharani saat mereka telah sampai di depan gerbang tempat tinggal gadis itu.
“Sama-sama. Apa permintaanmu?” tanya Bintara.
Maharani yang tak mengerti arah pertanyaan Bintara hanya menyipitkan mata. Tahu akan kebingungan Maharani, Bintara meraih tangan gadis itu.
“Sebelumnya aku sudah pernah bilang kan kalau meskipun pernikahan kita mendadak, aku ingin mewujudkan setidaknya satu impian kamu. katakan! Apa yang kamu inginkan? Kebaya, cincin atau apa? Masih ada sedikit waktu untukku mencari apa yang kamu mau itu.” Bintara menawarkan dengan menggebu-gebu.
Maharani hanya menggeleng pelan. Dia tersenyum, menatap Bintara yang sepertinya menunggu jawabannya.
“Gak usah, Mas. Bagiku semua pilihan mama sudah pasti sempurna,” jawab Maharani dengan sebuah senyuman.
“Kamu yakin? Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, Ran. Kamu berhak meminta apa pun. Dan selagi bisa, aku akan mewujudkannya untukmu.”
“Mendapatkan kamu sebagai suamiku itu lebih dari cukup untukku, Mas. Lagi pula, kan aku bisa minta banyak hal saat resepsi nanti. Jadi, siap-siap saja kamu bangkrut,” goda Maharani dengan kekehan kecil.
Bintara manatap wajah calon istrinya iutu dengan senyuman. Dia mengulurkan tangan, membelai lembut pipi gadis yang memakai seragam lengkap itu.
“Aku punya cukup banyak tabungan untuk menuruti permintaanmu. Asal jangan minta bulan dan bintang saja, pasti aku akan belikan apa pun maumu,” ucap Bintara.
Maharani tertawa. Pemandangan yang begitu jarang Bintara saksikan itu menjadi candu tersendiri bagi pemuda itu. Entah kapan dia terakhir kali melihat gadis itu tertawa seriang ini. mata yang menyipit, bibir yang melengkung sempurna, sungguh bagi Bintara tak ada yang seindah ini.
Sadar tengah diperhatikan, Maharani menghentikan tawanya. Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang terbebas. “Maaf, Mas. Aku kelepasan. Kamu lucu soalnya,” ucapnya.
Bintara kembali tersenyum. “Aku suka kamu tertawa seperti ini. kamu cantik.”
Lagi-lagi Bintara berhasil membuat Maharani tersipu. Untuk beberapa saat kedua orang itu saling diam. Jika Maharani memilih menunduk karena malu, maka Bintara justru menikmati wajah ayu Maharani dengan tangannya yang masih di pipi gadis itu.
Maharani memberanikan diri untuk mendongak. Sejenak pandangan mereka saling terkunci. Hingga perlahan Bintara mendekatkan wajahnya.
Maharani sudah gugup bukan main. Selain karena ini akan menjadi ciuman pertamanya, mereka saat ini juga sedang di depan asrama, bagaimana kalau sampai ada yang melihat mereka.
Maharani ingin sekali mencegah, tapi entah kenapa bibirnya serasa terkunci. Bintara sudah semakin dekat, hingga tanpa sadar Maharani terpejam. Hembusan napas Bintara mulai terasa semakin dekat, rasa gugup yang semula hadir, kini makin tak beraturan seperti detak jantung Maharani yang sepertinya juga sedang bekerja lebih keras.
Dugaan Maharani ternyata meleset. Ciuman Bintara ternyata tertuju pada dahi gadis itu. Meski demikian, ada semacam kehangatan tersendiri yang bisa Maharni rasakan. Cinta, ketulusan dan merasa dilindungi, semua bercampur jadi satu di sana.
“Cium yang lain nanti saja, saat kita sudah sah. Lagi pula melihatmu gemetaran seperti ini, aku jadi ragu. Takut kamu pingsan.”
Candaan Bintara itu membuat Maharani membuka matanya. Dia menatap sengit lelaki yang masih berdiri tak lebih dari sejengkal di depannya itu. Spontan saja tangannya terangkat, dan bahu Bintara menjadi sasaran yang empuk untuknya.
“Pulang sana!” usir Maharani. Gadis itu mendadak jengkel digoda seperti itu.
Kini giliran Bintara yang terbahak. Lelaki itu meraih tangan Maharani yang ada di bahunya. Maharani sontak terdiam karena Bintara kini kembali menatapnya. Ditatap sekali lagi seperti itu, Maharani tak bisa berkutik.
“Aku juga bersyukur akhirnya bisa bersama bareng kamu. Mulai sekarang, apa pun yang mengganjal pikiranmu, aku wajib tahu. Aku juga mau jadi orang pertama yang tahu segala kesuh kesahmu. Jadikanku untuk alasanmu kembali pulang dan merebahkan segala beban di pundakmu. Kamu mengerti?”
Maharani yang sedari tadi tertunduk akhirnya mengangkat kembali wajahnya. Dia mengangguk mengerti. Sebuah senyuman kembali terbit di bibir Bintara. Tak menunggu lama, lelaki itu kembali mendaratkan sebuah kecupan di bibir Maharni. Hanya sekilas, tapi berhasil membuat Maharani melongo seketika.
“Aku balik, kamu istirahat.” Usai berkata demikian, Bintara langsung berbalik dan masuk ke dalam mobilnya. Sejujurnya lelaki itu sendiri sedang salah tingkah.
Entah dorongan dari mana, tingkah Bintara tadi seakan terjadi begitu saja. Melihat Maharani yang menatapnya membuat jiwa kelakiannya terusik. Dan, ya ... semua terjadi dengan begitu cepat.
Usai mobil Bintara menghilang dari pandangannya, kesadaran Maharani kembali. Secara tak sadar, tangan gadis itu terangkat dan meraba bibirnya. Singkat tapi begitu melekat. Ciuman pertama Maharani telah tercuri. Namun, bukannya marah, gadis itu justru tersenyum sendiri. Bintara memang benar-benar pelangi baru dalam hidupnya. Dan pengalaman pertamanya malam ini, akan selalu dia kenang sepanjang hidupnya.
Gadis itu akhirnya memutuskan masuk ke rumah dengan hati yang jauh lebih tenang dan bahagia, tentunya.
**
Erna mulai sibuk mempersiapkan pernikahan anak-anaknya. Meskipun hanya berniat melakukan ijab qabul saja, tapi Erna tetaplah Erna. Dia mempersiapkan semua hal melebihi kata sederhana itu sendiri.
“Bin, jasnya sudah kamu coba, kan?” tanya Erna. Perempuan paru baya itu masuk ke kamar sang putra yang sepertinya sedang bersiap-siap hendak keluar.
Lelaki yang merasa dipanggil namanya itu menoleh. Dia tersenyum lantat mengangguk pelan.
“Kamu mau ke mana? Kok sudah rapi?” tanya Erna lagi.
“Mau ke restoran bentar, Ma. Ada yang harus diselesaikan,” jawab Bintara. Lelaki itu masih sibuk di depan cermin. Dia menyisir rambutnya beberapa kali, tak lupa menyemprotkan parfum dengan aroma parfum kesukaannya pada bagian tubuhnya.
“Gak boleh. Dua hari lagi kamu menikah, loh!”
Mendengar larangan dari sang ibunda, Bintara lantas menoleh. “Ini beneran ke restoran, Ma. Aku gak mau nemuin Rani. Sumpah.” Bintara mengkat dua jarinya, meyakinkan Erna bahwa dia sedang tak berbohong.
“Iya, mama tahu, tapi tetep aja gak boleh. Pamali, Bintara. Kamu lagi dipingit.”
“Tapi ini penting, Ma. Aku harus kelarin sebelum cuti besok,” protes Binatara tak mau kalah.
“Kamu bosnya, memang gak ada yang lain yang bisa kamu suruh? Mama gak mau tahu, pokoknya kamu harus tetap di rumah. kamu pilih mama kunciin di dalam kamar sampai hari pernikahanmu atau nurut sama mama?”
Bintara mengusap wajahnya kasar. Dia sudah akan menikah, usianya pun sudah 27 tahun, bisa-bisanya dia diancam dikunciin di dalam kamar, yang benar saja.
“Mama, sekali ini saja. aku janji akan segera pulang kalau semua urusan sudah selesai.” Bintara kembali memohon.
”Jangan protes! Diam di rumah dan pastikan jas pengantin kamu ukurannya sudah pas dan sesuai.” Erna meninggalkan kamar Bintara begitu saja tanpa memedulikan rengekan sang putra.
Bintara sekali lagi mengusap wajahnya, tak hanya itu, dia pun mengacak-acak rambutnya yang sudah sangat rapi dan klimis. Mamanya itu benar-benar tak pengertian. Tanpa melepas kemejanya, lelaki itu merebahkan tubuhnya. Mau marah terus-terusan pun percuma.
Bintara meraih ponsel yang ada di atas nakas. Usai memastikan bahwa di jam seperti ini orang yang akan dia hubungi tidak sedang sibuk, Bintara menekan satu nomor yang ada di layar ponselnya.
“Assalammualaikum, kamu sibuk gak?”
“Waalaikumsalam. Enggak, Mas. Ada apa?”
Maharani, gadis yang dihubungi Bintara saat ini. selain gadis itu, tak ada lagi yang bisa mengembalikan mood-nya yang sudah terjun bebas itu. Entah sejak kapan, yang jelas sejak rencana perjodohan itu terjadi, Maharani tiba-tiba saja menjadi pemegang kendali segala hal dalam diri Bintara. Termasuk merubah mood-nya.
“Gak papa. Aku kangen,” jawab Bintara sembari terkekeh.
“Apaan, sih, Mas. Kan kemarin sore baru ketemu. Kamu berantem sama mama, ya?” tebak Maharani to the point.
Bintara mengerutkan alisnya. Dia tahu persis calon istrinya itu bukan keturunan cenayang, tapi entah kenapa banyak sekali hal yang tanpa dia ucapkan sudah lebih dulu diketahu gadis itu.
“Kok kamu tahu, sih?” tanya Bintara penasaran.
“Nebak aja, Mas. Dari nada bicaramu terlihat lagi kesal.”
“Masa? Perasaan nada bicaraku biasa aja. Ah, iya aku tahu, kamu kan penghuni tetap hatiku, makanya tahu segala tentangku.” Lagi-lagi Bintara terkekeh.
Terkadang Bintara geli sendiri dengan apa yang dia ucapkan, tapi ada kalanya dia merasa tak ada yang salah. Bukankah Maharani calon istrinya? Sangat wajar jika dia berbicara manis seperti itu. Lagi pula posisi mereka yang berjauhan seperti ini akan menciptakan perasaan tersendiri. Membuat mereka terasa dekat tentunya.
“Ish, selalu mengalihkan pembicaraan. Kamu kenapa, Mas?”
Bintara tersenyum sendiri mendengar pertanyaan Maharani. Gadis itu memang selalu begitu, peka dan begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Jeleknya, Maharani sering lupa dengan dirinya sendiri.
“Gak papa. Kebetulan lagi ada kerjaan, tapi mama malah ngelarang keluar. Kamu tahu sendiri kan apa alasannya. Padahal ini penting banget,” ujar Bintara dengan senduh.
Maharani memahami betul perasaan calon suaminya itu. Namun, mau bagaimana lagi? Erna memang selalu seperti itu, jika dia sudah memutuskan, maka tak ada satu orang pun yang bisa menentang.
“Ya, mau gimana lagi, Mas. Kamu kan tahu Mama gimana. Minta tolong yang lain gak bisa? Kamu jangan ngelanggar perintah mama, Mas. Gak baik. Apa pun yang beliau lakukan kan juga buat kebaikan kita.” Maharani mengutarakan pendapatnya.
“Kalau kamu yang bilang gini, okelah aku nurut. Meskipun mungkin dampaknya setelah menikah kita gak bakal bisa liburan jauh karena banyak hal yang mesti aku lakukan.”
Kini giliran Maharani yang terkekeh. “Kamu apaan sih, Mas. Berarti kalau mama yang nyuruh tadi kamu gak bakalan mau? Bakalan dilanggar? Dosa, ih.”
“Enggak gitu, Sayang. Kan aku belajar jadi suami yang nurut sama istrinya. Lah, ini waktunya praktek.”
Terdengar tawa renyah dari seberang sana. Maharani sampai harus menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar oleh orang lain. Bintara sendiri merasa bahagia bisa mendengar Maharani tertawa sebebas itu. Dia berjanji dalam hati, bahwa mulai detik ini, tawa itu akan selalu menghiasi hari-hari Maharani.