36. Pulang II

1910 Kata

Aku dan Arya berangkat menggunakan mobil tua yang seingatku dulu dipakai oleh Panca untuk menjemputku ke sini. Namun, kali ini jalanan benar-benar berlumpur dan licin. Baik Arya ataupun diriku sendiri sepertinya bingung harus memulai percakapan dari mana. "Apakah Panca—" Arya mendengus, sehingga aku tak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku. Dia menatapku dengan pandangan letih, lengah sejenak dari jalanan becek di depan. "Berapa kali harus kukatakan padamu, berhenti memanggilnya dengan nama." "Apa bedanya?" tanyaku kesal. "Pak Inspektur sudah tahu, dan dia bilang akan menghukumku. Jadi akhirnya aku tetap dihukum." "Paling tidak ada kemungkinan dia akan berubah pikiran. Jika kau terus melanjutkan ini, dia akan—“ "Membunuhku. Memenggal kepalaku. Dan dia akan memintamu untuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN