Suara nyanyian itu terdengar nyata dalam telingaku. Seolah dibisikkan persis di telinga. Sehingga dalam kedamaian panjang yang kukira dirasakan selama ini berani kutinggalkan. Aku membuka mata, merasakan sinar biru lampu bangsal yang digantung rendah menusuk netraku yang entah berapa lama tidak terbuka. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit yang berwarna putih bersih, kemudian kakiku tergantung tinggi berselimut perban tebal. Aku merasakan bantal yang kukenakan memiliki lubang besar di tengahnya seperti donat, aku yakin bagian itu masih meneteskan darah, atau mungkin itu hanya cairan obat? Aku tak tahu. Tak ada siapapun di sekelilingku. Lalu siapa gerangan yang menyanyi-nyanyi dalam kepalaku? Hanya sebatas khayalan kah atau itu benar nyata? Tapi hening masih merajai bangsal yang s

