Dia menengok ke arah kanan dan kirinya tanpa henti, selagi langkah membawanya jauh menyusuri lorong-lorong lembab dan dingin menuju sebuah bangsal. Pukul dua dinihari. Maka siapa pula yang sudi terbangun selarut itu jikalau bukan karena hal-hal penting yang amat sangat mendesak? orang itu mengendap-endap menuju bangsal rumah sakit tempat seseorang sedang berbaring lemah, sedikit putus nyawa dari raganya. Ia ingin keberadaannya tak diketahui. Ia ingin tak meninggalkan jejak. Ia tak ingin siapapun melihat jati dirinya. Maka di malam buta itu, ketika sejenak semua mata Restrain semacam Arya lepas dari monitor pengawasan, ia mengendap-endap, berusaha tetap melangkah ringan meskipun sedikit putus asa. Tubuh jangkungnya berbelok dan menghilang dalam lorong gelap di sektor kesehatan distrik

