Aku mendongak, dan melihat tangan seseorang menggenggam pergelangan tangan kananku, tangan itu melewati jendela gerbong, tangan besar dan kasar, tapi hangat. Tak lama setelah itu, kepala seseorang menyembul melewati jendela gerbong itu. Aku waspada, kalau-kalau akan menyaksikan sosok yang lebih menyeramkan daripada sosok Iqbal versi Savage. Tapi kemudian, wajah Arya lah yang muncul di sana. Aku kemudian menarik napas panjang, ketegangan yang kualami beberapa saat yang lalu sudah berakhir. Arya ada di sini, dan itu artinya aku aman. "Aku tidak bisa menarikmu masuk lewat sini, bisakah kau cari pijakan dan berusaha sampai ke pintu gerbong yang di sebelah sana?" Ujar Arya sembari mengeluarkan satu tangannya yang lain untuk menunjukkan arah padaku. Aku mengangguk, lalu segera menunduk untuk m

