Pagi-pagi sekali, suasana distrik sudah riuh seperti suasana di sekolahku dulu saat istirahat makan siang. Tanpa sirene berisik itu pun sebenarnya aku sudah terbangun. Sebenarnya bukan sudah terbangun, aku hanya tidak ingat bagaimana caranya tidur. Akibatnya, aku terjaga semalaman. Di kepalaku terkenang lagi waktu singkat yang kuhabiskan dengan Arya di perbatasan distrik utama dan distrik rahasia—tempat tinggal tetap Patron dan Restrain—yang ternyata dipisahkan oleh jurang yang lebar, semalam. Kami berdua menantang nyawa dengan duduk di bibir jurang dengan kedua kaki menggantung bebas mencuil tepi jurang. Samar-samar kudengar kembali suara Arya yang bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. "Aku tidak benar-benar suka mengendalikan hidup orang lain. Sementara diriku sendiri pun diatur

