13. Agresi

1894 Kata

Hari sudah senja ketika tank-tank yang kami tumpangi berhenti di sebuah sabana yang menampakkan panorama senja yang begitu nyata. Kaki-kaki kami menindas entah berapa jengkal rerumputan di sabana itu dan secara tidak langsung merusaknya. Mataku segera mencari-cari Panca. Karena aku tahu bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanan kami. Kami justru masih harus berjalan melintasi sabana ini untuk tiba di markas musuh. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Karena keheningan yang telah tercipta begitu meresap membuat semua orang enggan untuk merusaknya sedikit pun. Hanya sesekali saja terdengar suara jangkrik, burung hantu, kelelawar, dan yang paling dekat, deru napas kami sendiri. Tank-tank itu berbalik arah kembali ke markas sekejap kemudian. Berhasil atau tidaknya p*********n terselubung ini,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN