Aku berbaring di tempat tidur sambil menggantungkan kaki tinggi-tinggi. Mataku nyalang memandang langit-langit ruang istirahat Menacer yang dicat biru muda dihiasi mozaik-mozaik berwarna gelap antara biru tua yang nyaris hitam. Sementara tanganku memutar-mutar cocator baru yang dititipkan pak inspektur kepada Iqbal selaku pemimpin sementara kami. Aku tak mendapatkan cocatorku secara langsung karena tahu sendiri apa yang terjadi padaku hari ini.
Aku tidak yakin di mana aku berada sekarang. Kurasa akal dan jiwaku telah berkelana jauh meninggalkan raga. Meski saraf-saraf rasa sakit tak pernah meninggalkanku sendirian. Tubuhku rasanya akan hancur jika dipaksakan bangkit dari tempat tidur sekarang. Ngilu di setiap sudut raga benar-benar menyiksa. Kakiku yang paling parah.
Wanita berambut tembaga itu benar-benar tak memiliki perasaan. Bagaimana jika tadi aku mati? Bukankah mereka akan kehilangan seorang petarung? Seorang yang bisa membantu memerangi musuh? Tapi tunggu dulu! Aku menangkap kata janggal dalam suara ku barusan ... perang? Benar! Aku mendengar kata perang.
Aku segera bangkit dari ranjang, dan merasakan darah berdesir menghilang dari wajah, kepalaku seperti baru saja ditikam ratusan godam besar. Seolah bertalu-talu merusak koordinasi tubuh, dan mataku tak dapat memandang apa-apa. Aku berbaring lagi sambil menutup mata. Menggenggam erat-erat cocator perak di tanganku sambil meringis. Rasanya seperti akan mati. Kemudian wajah Dylon membayangi, hari-hari burukku di sekolah, hukuman-hukuman strap. Tiba-tiba aku memahami sebuah rasa yang sebelumnya tak pernah kumiliki, rindu.
Aku merindukan semua kesialan itu. Kesialanku mengenal Dylon yang membawaku pada rasa bosan akibat mendengarkan celotehnya selama dua jam penuh seminggu sekali. Kesialanku untuk IQ jongkok yang membuatku seringkali mendapatkan detensi. Atau yang lain, bahkan kesialanku saat kehilangan semua teman-teman yang pernah kumiliki sebelum SMA. Aku merindukan setiap kesialan yang terjadi di hidupku. Apa pun, asalkan aku bisa terbebas dari tempat ini. Aku bersedia menukarkan apa pun demi terbebas dari sini. Kecuali kebahagiaanku.
"Masih sakit kalian berdua?" Entah sejak kapan seseorang masuk dan berdiri di antara ranjang Diah dan aku. Aku meliriknya sekilas sebelum memejamkan mataku lagi.
"Aku hampir mati." Aku mendengar suara Diah menjawab dramatis.
"Aku kebetulan memiliki beberapa botol minyak urut, mungkin akan berguna." Suara tuk kecil menandakan bahwa seseorang baru saja meletakkan sesuatu di meja kecil yang ada di antara ranjangku dan Diah. Setelah itu kudengar sebuah suara yang pamit untuk berkumpul lagi dengan yang lainnya. Lagi-lagi hanya Diah yang merespons. Aku sudah tidak lagi memikirkan konsep berbaur yang diajarkan Panca.
"Tidakkah kau ingin berkumpul bersama mereka?" Suara Diah memecah keheningan yang terjadi sekian lama di antara kami. Sesaat aku hanya membuka mata dan kembali menatap langit-langit kamar.
"Mungkin tidak. Aku butuh tenaga untuk latihan besok."
"Tapi bagaimana pun, kita harus tahu apa yang terjadi selama kita absen di latihan pertama kita."
"Jika kau ingin keluar, silakan. Aku tetap di sini," jawabku malas. Dan aku harus tidur sekarang jika aku ingin pulih dan bangun tepat waktu besok. Aku bersumpah tidak akan pernah membuat Jill dapat menghukumku lagi. Aku tidak akan membuatnya merasa menang terhadapku. Atas kekuasaannya, atau atas keakrabannya dengan Panca.
Suara bip kecil dari tanganku membuatku terkesiap. Otak lambanku memproses suara itu dengan kecepatan kura-kura merangkak. Tentu saja itu suara dari cocator baruku.
"Menacer 18!" Kupikir tadinya itu Panca. Tapi Panca tidak pernah seantusias itu saat memanggilku.
"Siapa?" Aku sekilas melihat caller id di cocator perak itu. Di situ tertulis M 11, aku tak mengerti tentang kode apapun di tempat ini. Tapi satu-satunya yang paling mendekati huruf M adalah Menacer. Dan aku bahkan tak ingat siapa itu Menacer 11.
"Renaldo."
"Oh."
Diah berbaring miring ke arahku dengan kepala ditumpukan di atas sikunya, menunggu percakapan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kami akan ke Barak Menacer sekarang jika kau dan Diah tidak keberatan. Kita perlu berdiskusi satu sama lain, dan kami mengerti kalian kelelahan."
Kulihat Diah menggeleng, kupikir artinya ia tidak setuju dengan gagasan itu. "Tidak," jawabku bingung.
"Tidak apanya?"
"Tidak keberatan." Diah mewakili menjawab pertanyaan itu. Kupikir suara Diah cukup untuk didengar oleh Renaldo, tapi nyatanya Renaldo bertanya lagi.
"Tidak. Kami tidak keberatan," balasku cepat.
"Kami akan sampai lima menit lagi." Lalu suara bip menandakan berakhirnya percakapan itu.
"Syukurlah kita tidak perlu bersusah payah turun ke bawah." Diah mengembuskan napas lega.
Aku mengangguk setuju.
"Tidakkah kau merindukan kehidupan normalmu?" tanyaku penasaran. Cocator perak milikku sudah tergeletak di samping bantal.
"Ini baru dua hari. Agak berlebihan jika kubilang aku merindukan orang-orang di luar sana. Tapi jika aku punya kesempatan untuk menengok mereka, aku akan senang sekali." Pandangan gadis itu menerawang ke satu titik yang tidak mampu kujangkau. Menyusup ke dalam isi pikirannya sendiri, mungkin?
"Aku tak mengerti mengapa aku terpilih," dengkusku pelan. Jika tahu begini, lebih baik aku tetap berdiri di depan kelas lusa kemarin. Aku mungkin bisa menyusun alasan untuk membuat Panca kembali tanpaku. Tapi Panca adalah satu-satunya hal yang tidak akan sanggup kulewatkan.
"Takdir?" Suara Diah terdengar seperti pertanyaan. Tapi mungkin pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Aku diam lagi. Sadar bahwa selama ini aku tidak terlalu menghargai hidup. Aku mengabaikan orang-orang di sekitarku yang mungkin peduli padaku. Aku tidak pernah serius belajar, meremehkan segala hal, muak pada hidupku sendiri, dan terkesan menghindari kedua orang tuaku dan lingkungan yang membesarkanku.
Seharusnya aku sadar sejak awal. Sehingga aku tak perlu mendapatkan ujian serumit ini. Banyak hal yang tidak ingin aku pahami di sini. Di otakku hanya ada sebaris kalimat; aku ingin kembali kedalam hidupku yang akrab dengan kekacauan. Aku hanya merasa harus pergi dari hidup baruku yang penuh peraturan memuakkan.
Namun, kemudian aku menemukan sebuah makna baru: Aku telah kehilangan hidupku yang lama karena aku meremehkan mereka. Maka sebaiknya aku berhenti menyia-nyiakan hidupku yang sekarang. Aku harus mulai hidup.
"Kau sedikit pendiam," ucap Diah terang-terangan. Dia benar. Aku memang pendiam. Hanya saja sekarang aku sudah membuat keputusan, aku tidak lagi pendiam.
"Mungkin." Aku angkat bahu tak acuh, Namun, senyum sudah menghiasi wajahku sekarang.
Lalu dentuman langkah di luar pintu kamar bergaung sangat jelas dari posisiku sekarang. Menginterupsi percakapan kecil dan konflik batinku yang akhirnya menemukan titik terang. Aku hanya harus bersikap normal. Dan bukannya menjadi pura-pura tidak peduli seperti biasanya.
Seseorang terdengar mengucapkan kata sandi, semacam hullaballo? Aku tak pernah tahu apa artinya kata itu. Tapi kemudian aku hanya menurut untuk menyebutkan kata itu agar aku bisa kembali ke kamarku. Bunyi ribut menandakan bahwa sistem keamanan pada pintu itu sedang bekerja. Sistem itu baru dipasang tadi pagi, setelah bunyi sirene keras membangunkan kami pukul empat pagi, dan seseorang—yang belakangan kuketahui sebagai restrain—membuat kami berbaris rapi di antara deretan ranjang kami untuk kemudian menjelaskan sistem keamanan itu.
Aku jadi ingat serial Harry Potter yang baru sempat k****a sampai The Goblets of Fire. Semua tentang kata sandi yang berubah-ubah. Hanya saja di sini tidak mengajarkan sihir sama sekali. Atau diajarkan? Aku akan bertanya pada Panca nanti.
"Hei? Bagaimana keadaan kalian?" Gerombolan itu berdesakan melalui pintu berhamburan bagaikan air bah yang mendesak menerobos celah kecil. Aku tergelak. Tidak ada yang rela mengalah. Sehingga tirai hitam yang sejak tadi digulung ke atas sekarang jadi menghalangi pintu lagi. Orang pertama yang tiba di dekat kami adalah seorang perempuan bernama Apsi. Napasnya menderu cepat tanpa keteraturan. Postur tubuhnya mendefinisikan dengan jelas alasan ia dapat lebih dulu mencapai kami.
"Kami cukup terhibur." Sudut bibirku terasa berkedut. Sangat tidak sopan jika aku tertawa sekarang. Satu persatu dari mereka mulai membentuk halo di sekeliling kami—aku dan Diah. Serbuan pertanyaan yang mereka lontarkan tanpa saling menunggu, juga deru napas cepat mereka yang terengah-engah, membuat tawaku akhirnya meledak tanpa sanggup kukendalikan. Ah, sudah berapa lama aku tidak tertawa seperti ini? Tawa yang tanpa desakan dari siapapun.
"Bagus sekali. Aku jadi bahan tertawaan, huh?" Mataku mencari-cari pemilik suara itu, dan aku menemukan satu-satunya orang yang berwajah cemberut, perempuan itu bernama Yohana.
Aku mengedikkan bahu, dan wajah cemberut gadis itu akhirnya melunak dengan humor. Mereka membentuk lingkaran lagi, seperti saat pertama kali aku melihat mereka. Akhirnya aku dan Diah turun dari tempat istirahat kami dan bergabung dengan mereka.
"Bagaimana hari kalian?" Seseorang yang kupikir namanya Alvhi bertanya sambil menatapku dan Diah bergantian.
"Begitulah."
"Melelahkan."
Aku dan Diah menjawab hampir bersamaan lalu saling pandang. Berkompromi jawaban apa yang seharusnya kami berikan melalui kontak mata. Sejenis kode yang aku sendiripun tak mengerti bagaimana cara kerja kode mata itu secara teknis, itu terjadi begitu saja.
"Baiklah, kupikir memang sedikit melelahkan." Aku tersenyum kikuk pada mereka semua, meralat jawaban awalku yang sebenarnya netral.
"Sudah kubilang padanya bahwa dihukum bersama Patron tidak menyenangkan. Tapi ia hanya tersenyum seperti orang bodoh. Syukurlah senyum itu segera menghilang sejak latihan dimulai." Diah memutar bola matanya, orang-orang di sana terkekeh.
"Aku kan tidak membaca semua peraturan itu." Aku mencoba membela diri.
Diah mengedikkan bahu. "Sebaiknya kalian tidak coba-coba melanggar peraturan."
"Apalagi di depan restrain kejam itu," gumamku tanpa sadar.
"Apa?" Mereka semua menatapku penuh tanda tanya.
"Jill?" Diah bertanya pelan sambil melirik kanan kiri, seolah ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan kami.
Aku mengangguk monoton. "Siapa lagi?"
"Oh! Perempuan menyebalkan berambut tembaga itu?" Semua mata tertuju kepada si pemilik suara, Adelien. Kemudian dia membungkam mulutnya sendiri.
Kurasa kami memang sedang diawasi. Karena mereka semua sangat menjaga bicaranya, dan aku tak ingin terlihat bodoh dengan bertanya siapa yang sedang mengawasi kami dan bagaimana caranya. Mungkin tidak ada salahnya membuka buku peraturan dan panduanku malam ini. Aku berdeham pelan. Mencoba mencairkan suasana yang sedikit hening gara-gara pembicaraan tentang Jill. "Bagaimana dengan kalian?"
"Semua teknik tentang menghadapi perang, kebanyakan cara memegang senjata dan pertahanan diri ringan. Aku bersyukur tidak perlu melakukan sprint. Karena itu tidak baik bagi jantungku." Renaldo menjelaskan secara menyeluruh kegiatan Menacer yang seharusnya kujalani juga hari ini.
"Itulah salah satu hal yang kami lakukan hari ini." Diah mendengus. Kupikir ia sedang memikirkan harinya yang buruk tadi.
Aku mengangguk mendukung argumen Diah sambil memicingkan mata kearah pintu karena aku melihat sekilas ada bayangan di balik tirai hitam itu.
"Ada seseorang dibalik tirai itu," desisku pelan. Aku yakin kami semua sedang menahan napas sekarang.
"Siapa di sana?" Entah siapa yang memberanikan diri membuka percakapan itu.
"Aku. Perempuan menyebalkan berambut tembaga."
Kupikir bukan diriku saja yang sedang membelalakkan mata. Astaga, dia mendengar semuanya?
***