Gadis itu berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan d**a. Menegaskan kekuasaan yang ia genggam dengan angkuh. Jelas-jelas merasa tersinggung dengan cemoohan bocah-bocah itu di belakang punggungnya. Sayang sekali, ia sudah mendengar semuanya secara nyata. Padahal, niat awalnya hanya untuk memastikan mereka semua sudah masuk ke Barak Menacer karena sekarang memang sudah batas jam malam.
Jill—gadis itu, menatap tajam siapapun yang berani melihat ke arahnya. Termasuk gadis pembangkang yang ternyata pasangan Menacer Panca. Gadis pembangkang itulah yang pertama kali membahas-bahas dirinya tadi, sehingga seisi ruangan itu ikut membahasnya berapi-api. Rasanya Jill ingin menampar wajah menyebalkan gadis itu. Tapi sayangnya kekerasan antar divisi tanpa tujuan, dilarang. Jill maju selangkah. Namun, seseorang menahan dirinya dengan cara mencengkeram bahunya, Arya. Restrain lain yang kebetulan menjadi petugas kedisiplinan juga hari ini.
"Tahan dirimu." Suara Arya begitu tenang. Namun, entah mengapa terdengar begitu mengintimidasi bagi Jill sendiri. Arya selalu bisa menahan Jill. Meredam emosinya, menguasai dirinya. Jill tak pernah tahu mengapa ia begitu mudahnya menurut pada Arya.
"Urus mereka!" Jill mengempaskan tangan Arya yang ada di bahunya. Mengatakan hal itu lebih keras daripada yang dimaksudkannya. Kemudian meninggalkan Arya sendirian di antara para Menacer yang terlihat lega sepeninggalnya Jill.
"Terimakasih." Seorang laki-laki tersenyum sopan padanya. Dan Arya tahu itu Menacer 11. Arya balas tersenyum.
"Kau tahu, kau adalah dewa pelindung kami." Seorang gadis menatapnya penuh binar kegembiraan, ada sorot terima kasih di sana. Arya tahu dia Menacer 18. Karena gadis itulah yang pertama kali ditatap Jill dengan dingin saat ia dan Jill tiba di Barak Menacer ini. Dan bukannya tanpa alasan Jill membenci gadis itu.
Jill sudah bercerita padanya secara terang-terangan tentang sifat pembangkang yang dimiliki gadis itu terhadap Jill, dan mengklaim bahwa dirinya membenci gadis itu sedemikian rupa. Namun, dalam hati Arya tahu ada alasan lain Jill membenci gadis itu. Itu pasti karena Patron gadis itu, Panca. Jill sudah pernah mengatakannya sebelum para Menacer itu dibawa ke sini, Jill akan keberatan jika Panca menjadi Patron seorang gadis. Tidak ada yang mau mengakuinya. Baik Panca, Jill maupun Arya sendiri. Namun, dalam hati masing-masing mereka tahu, Jill menyukai Panca. Jadi itulah alasan Jill membenci gadis yang sedang tersenyum di depan wajah Arya sekarang.
Di mana sifat pembangkang yang dibicarakan Jill?
Arya ingin tahu, sebesar apa sifat pembangkang gadis itu sehingga mampu memengaruhi emosi Jill yang memang seringkali tak terkendali.
"Menacer 18?" Arya pura-pura meneliti mereka satu persatu dengan alis bertahutan. Namun, gadis itu segera mengangkat tangannya. "Ya?"
"Bisakah kau ikut bersamaku sebentar?"
Gadis itu mengangguk. Dan Arya buru-buru keluar kamar itu dan menemukan tempat yang cukup aman, di ujung koridor menuju ruang santai para Menacer.
"Ada apa?" Arya mendengar suara gadis itu terdengar gugup. Apa-apaan? Arya bukan seseorang yang cukup berpengaruh di sini, ayolah! Tak perlu gugup begitu.
"Tentang Jill ...." Arya menimbang-nimbang untuk meneruskan kalimatnya atau tidak. kemudian, " ... dan Panca."
Gadis itu mendongak, matanya membulat penuh tanda tanya. Arya sudah terlanjur mengatakannya dan ia harus melanjutkannya. Setidaknya memperingatkan gadis itu untuk tidak membuat Jill marah. Karena itu akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kami bertiga ... bisa dibilang sahabat. Aku yakin kau sudah tahu bahwa divisi Restrain dan Patron berada di satu distrik sejak mereka lahir." Arya menunggu gadis itu bereaksi, Namun, gadis itu hanya diam memperhatikannya.
"Ah, aku tidak akan berbelit-belit." Arya menarik napasnya. "Kau sebaiknya tidak mencoba membuat Jill marah."
"Aku tidak membuatnya marah. Dia yang ingin marah padaku. Aku hanya terlambat beberapa menit dan ia seperti ingin membunuhku? Kau pikir hal seperti itu masuk akal?"
Wow. Wow. Arya tidak tahu bahwa gadis itu sama galaknya dengan Jill. Mungkin inilah penyebab utama mengapa Jill sangat tidak menyukai gadis itu bahkan di hari pertama mereka bertemu. Bayangkan saja, batu bertemu dengan batu? Apa yang terjadi jika mereka terlalu sering berbenturan? Tentu saja akan muncul percikan api.
"Tidak. Itu tidak masuk akal, tapi dia punya alasan." Arya mencoba melunakkan emosi gadis itu dengan berbicara setenang mungkin, seperti ia menghadapi Jill.
"Alasan seperti apa? Fakta bahwa Panca adalah Patron-ku? Fakta bahwa ia dan Panca bersahabat sejak kecil? Ia cemburu padaku." Gadis itu mendengus keras, dan Arya terkaget-kaget. Dia baru saja memanggil Panca dengan namanya.
"Pelankan suaramu." Nada suara Arya penuh peringatan. Khawatir ada orang lain yang mendengar pelanggaran ini, dan Arya yakin gadis ini tidak akan bisa menatapnya seperti itu lagi jika tahu seberat apa detensi akibat pelanggaran ini.
Gadis itu menatap Arya tajam, seolah menantang. "Apa?!" Arya menghela napasnya. Kemudian sadar, ia sedang menghadapi Jill yang lain. "Kau melanggar peraturan!"
"Oh, melanggar-peraturan adalah nama tengahku." Gadis itu mendeklarasikannya di depan Arya seolah bangga.
"Tolong hentikan itu." Arya meraih bahu gadis itu dengan wajah letih.
"Apa?"
"Memanggil Patron dengan namanya. Kau berbeda divisi dengannya. Kau tahu peraturan itu 'kan?"
Gadis itu angkat bahu. "Aku tahu, dan aku sebenarnya tak perduli. Dewa ...."
"Arya. Namaku Arya."
"Dewa Arya." Gadis itu tersenyum geli.
"Kau tahu, kau sedang menghampiri masalah. Dan jika kau tidak cepat memutar arah, kau akan tenggelam dalam masalah itu." Arya membiarkan gadis itu tenggelam dalam pikirannya selama beberapa saat.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Pertanyaan tak terduga keluar dari bibir gadis itu. Dan sekali lagi, Arya dibuat kaget. Sehingga Arya hanya memperhatikan gadis itu tanpa berdaya mengucapkan apa-apa. Merasa diabaikan, gadis itu bicara lagi.
"Kau bercerita tentang Panca, Jill, dan dirimu sendiri dengan title kisah persahabatan klasik itu, lalu kau memperingatkanku untuk tidak membuat Jill marah. Ini semua tentang Jill. Aku mengerti. Tapi apa yang kau inginkan dariku?" Tidak ada emosi dalam ekspresi wajah itu, mungkin nada suaranya yang tinggi itu bukan bentuk amarah, melainkan memang caranya berbicara.
"Terserah kau saja," ujar Arya letih. Akhirnya menyerah dengan sukarela. Gadis ini lebih sulit diatur daripada Jill. "Jangan membahayakan dirimu sendiri."
Lalu Arya meninggalkan gadis itu sendiri. Ia telah menemukan letak sifat pembangkang dalam diri gadis itu.
"Aku tidak membahayakan diriku sendiri!" Gadis itu berteriak pada bayangan Arya yang masih tampak di belokan koridor menuju tangga.
"Menyebalkan. Semua orang berbicara tentang Jill. Jill. Jill. Aku akan membunuhnya nanti!" Gadis itu menggerutu. Sementara kakinya menyusuri koridor yang bermandikan cahaya redup menuju Barak Menacer. Sama sekali tidak ingat bahwa ia mungkin sedang dipantau dengan cara yang sama sekali tidak diketahuinya.
***