Sirene di distrik utama berbunyi nyaring. Dua orang yang sejak awal memang sulit tidur karena tubuh mereka yang digunakan secara maksimal siang tadi terbangun. Lalu saling berpandangan. Salah satunya berinisiatif meraih arloji, matanya menyipit, kesulitan melihat jarum arloji itu karena keadaan yang sedikit redup. Menyadari kesulitan itu, yang lain segera menyalakan lampu kecil di sebuah meja yang terletak di antara ranjang mereka berdua.
"Pukul tiga pagi. Astaga! Apa yang mereka lakukan?" Si pemegang arloji itu mendesis tajam, lalu tiba-tiba keduanya duduk dan memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada yang terbangun. Hanya mereka berdua. Menacer 17 dan 18.
"Sebaiknya kita tidur lagi dan pura-pura tak mendengar." Menacer 18 berbaring lagi. Namun, tangannya siaga dalam posisi meraih Cocator peraknya.
"Kau tahu detensi bisa mengancam kapan saja. Dan demi tuhan! Jangan pernah memintaku lari sprint dengan jarak sejauh kemarin lagi." Menacer 17 menunjukkan tampangnya yang sarat akan sarkasme.
"Jadi, bagaimana sekarang?" Menacer 18 duduk lagi, menyilangkan kaki dan menatap malas ke sekeliling. Sementara sirene itu berbunyi makin nyaring.
Mereka berdua menunggu. Nyaris saja berpikir suara sirene itu hanya ilusi mereka, ketika tiba-tiba seseorang yang ranjangnya bernomor 9, yang berhadapan dengan ranjang bernomor 18 duduk sambil menatap kaget ke sekeliling.
"Kita terlambat? Kenapa kalian berdua tidak membangunkan kami?" Seseorang itu, yang mereka yakini adalah Menacer 9. Kedua gadis itu sama-sama menatap malas ke arah lelaki itu.
"Terlambat? Ini bahkan masih jam tiga pagi." Menacer 17 membalas, tersinggung karena tuduhan tak beralasan yang menanyakan alasan mengapa mereka berdua tidak membangunkan mereka.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana." Setelah berkata begitu, laki-laki itu berbaring lagi.
"Tentu saja sudah terjadi sesuatu!" Salah satu dari dua gadis itu berseru sambil memutar bola matanya.
"Kau tahu sudah terjadi sesuatu, tapi yang kau lakukan hanya kembali berbaring?" Gadis yang satunya menggelengkan kepala dengan gemas pada lelaki, oh, pada ranjang lelaki itu, Menacer 9.
"Ryan!" seru kedua gadis itu bersamaan. Barangkali kesal karena mereka tidak dihiraukan sedari tadi.
"Diamlah, aku sedang berpikir," sahut Ryan datar. Matanya terpejam rapat dengan kedua tangannya terlipat di belakang kepala.
"Berpikir untuk tidur kah?" Itu suara Diah, Menacer 17.
Ryan seketika terbangun, seolah baru saja dijatuhi ribuan ilham. Kedua gadis itu menatapnya dengan ekspresi apa-orang-di hadapanku-gila? "Kalian berdua, periksa keadaan di luar. Aku membangunkan yang lain."
"Apa? Seharusnya kau yang ke luar, kami yang membangunkan." Menacer 17 protes sambil mengangkat kedua tangannya ke kedua sisi wajahnya sendiri.
"Sebenarnya kau itu lelaki atau bukan?" Menacer 18 memandang lelaki itu dengan tampangnya yang kriminal. Entah gadis itu mau mengakui atau tidak. Ia tidak memiliki filter kata di mulutnya. Alhasil, ia terkesan ketus dan cadas dalam berbicara. Walaupun ia tidak pernah benar-benar memiliki maksud di balik kata-katanya.
"Baiklah." Lelaki itu mengangkat tangan, menyerah. "Kau ikut aku keluar. Dan Diah, tolong bangunkan mereka."
"Apa-apaan?!" Gadis cadas itu memprotes tak terima. "Kau tidak bisa melakukannya sendiri?"
"Kalau begitu, kau saja pergi sendiri." Lelaki itu mengerutkan dahi, menantang gadis yang berhadapan dengannya. Sementara Menacer 17 sudah membangunkan yang lain sedari tadi.
Gadis itu melotot kesal, dia sendirian? Yang benar saja!
Untunglah sebelum adu mulut itu berubah menjadi adu tinju, Menacer 17 berdiri di antara Menacer 9 dan 18. Memisahkan mereka. "Kita periksa bertiga." Lalu Menacer 17 menyeret tangan kedua rekannya hingga mereka tiba di depan lift.
Keadaan di luar Barak Menacer masih gelap dan terkesan lebih mencekam. Mereka bertiga keluar dari gedung Menacer dengan waspada. Ketiganya menjaga satu sama lain. Berputar ke segala arah demi menemukan apapun yang terasa janggal.
Mereka berjalan mengendap-endap, dipimpin oleh Ryan dan diikuti oleh kedua gadis yang sedari tadi tidak melepaskan tangan mereka satu sama lain.
"Eh!" Ryan tiba-tiba berhenti lalu berbisik pelan kepada dua orang di belakangnya, "Ikuti aku."
"Jangan berhenti tiba-tiba begitu!" Menacer 18 menggerutu sambil mengusap-usap hidungnya yang menabrak punggung lelaki itu tadi.
"Orang itu juga muncul tiba-tiba!" bisik Ryan tajam. Mereka sampai ke sisi barat gedung Menacer yang berhadapan langsung dengan gedung utama yang biasanya menjadi tempat perkumpulan orang-orang dari divisi satu.
"Orang apa? Siapa?" Menacer 17 mengintip ke arah jalanan yang mereka datangi tadi, dan tak melihat apa-apa.
"Entahlah."
"Mungkin petugas keamanan." Menacer 18 mengangkat bahu tidak perduli.
"Aku yakin bukan. Mereka tidak memakai seragam. Dan seragam adalah salah satu hal wajib di tempat ini. Kau harusnya tahu." Menacer 9 lagi-lagi berbisik tajam.
"Benar. Setiap divisi memiliki seragam, seperti kita." Menacer 17 memperjelas kata-kata lelaki itu. Pandangan matanya terlihat jauh. "Ada yang salah."
Dari ujung jalan di sebelah kiri mereka, segerombolan orang berjalan tanpa suara, benar-benar tanpa suara. Dan jika kau tak melihat mereka, pastilah kau hanya mengira itu suara angin. Mereka ramai-ramai menuju gedung utama.
Ketiga Menacer itu memikirkan satu hal yang sama, Apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah gerombolan itu hilang, mereka bertiga mengendap-endap menghampiri gedung utama itu dan berusaha mencuri dengar suara-suara di dalam.
Menacer 9 mencoba mengintip situasi di lobi gedung itu melalui celah pintu, Namun, ia terkesiap begitu ada mata lain yang terlihat dari sisi dalam gedung itu, mata itu langsung menemukan matanya. "Lari!" perintahnya pada dua gadis yang ada di belakangnya.
Kedua gadis itu berlari tersandung-sandung diikuti oleh lelaki yang tadi memerintah mereka. Mereka baru berhenti setelah tiba di area lapangan tembak.
"Kau tahu," Menacer 18 menoleh pada Menacer 17 dengan posisi masih terbungkuk-bungkuk. "Seharusnya kita tidak perlu berlari seperti ini. Kita kan bukan tawanan. Akan lebih baik bila tadi kita bertanya langsung."
"Kau tidak tahu siapa yang ada di dalam sana, Menacer 18. Kita tidak tahu. Mungkin saja ada penyusup yang berhasil masuk ke daerah ini dan menyekap semua orang." Menacer 9 berbicara dengan nada datar.
"Kau pikir gerombolan tadi itu penyusup?" Menacer 18 mengangkat alisnya.
"Aku pikir itu Patron." Menacer 17 mengangkat bahunya, "tapi tidak tahu juga, lagipula situasi di sana tadi benar-benar gelap."
"Lebih baik waspada." Ryan membimbing kedua gadis itu kembali menyusuri jalanan. Sirene peringatan terdengar sekali lagi di seluruh daerah distrik utama itu. Mereka bertiga tergagap dan langsung menepi dari jalanan.
"Ada baiknya kita menghubungi Menacer yang lain. Kita harus tahu apa yang terjadi." Menacer 17 merogoh saku bajunya, "Aku meninggalkan Cocator-ku."
"Punyaku masih tergeletak di samping bantal." Menacer 18 mengangkat bahu minta maaf.
Satu-satunya harapan yang tersisa ada pada Ryan. Kedua gadis itu menatap lelaki di depan mereka penuh harap. "Tidak. Aku lupa membawa Cocator-ku."
Bahu mereka turun seketika, tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Sementara sirene peringatan itu tetap berbunyi meresahkan. Ketika mereka mendekati gedung utama lagi, seseorang menepuk bahu Menacer 17. Membuat gadis itu berteriak karena terkejut.
"Psst. Diamlah."
Ketiga Menacer itu berbalik waspada, "siapa kau?!" Menacer 9 yang pertama kali menemukan suaranya.
"Prima. Aku Patron 5," jelas lelaki itu sabar. Sorot matanya menyiratkan cahaya gelap. Apa itu? Duka? Kecemasan? Rasa takut? Tidak ada yang tahu.
"Ap ... Apa yang terjadi?" Menacer 17 mencoba untuk menenangkan suaranya walaupun terdengar sia-sia.
"Seseorang berhasil menyusup ke sini melewati tembok pembatas dunia luar dengan kita."
"Tembok besi itu maksudmu?"
Patron 5 mengangguk cemas.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Menacer 18 yang terakhir menemukan suaranya setelah diserang dengan keterkejutan tadi.
"Aku memisahkan diri dari rombongan Patron untuk melihat situasi di gedung Menacer."
"Rombongan Patron?" Menacer 9 mengangkat sebelah alisnya.
"Kami diperintahkan ke gedung utama untuk persiapan, siapa tahu penyusup itu berbahaya."
"Bagaimana keadaan Menacer dalam gedung?"
"Mereka baik-baik saja. Jadi biarkan aku meneruskan ceritaku."
Ketiganya angkat bahu mengizinkan Prima melanjutkan bicaranya. "Mereka khawatir pada kalian. Kemudian aku menemukan kalian ada di sini. Kembalilah ke gedung Menacer." Setelah Prima selesai mengatakan itu, bunyi bip terdengar dari saku bajunya.
"Ya! Apa? Aku ketahuan? Katakan pada mereka aku tersesat."
"..."
"Aku harus memastikan Menacer 9, 17 dan 18 kembali ke gedung mereka."
"..."
"Iya, baiklah. Akan kukatakan."
Lalu bunyi bip kembali mengudara. Mengakhiri percakapan itu.
"Kami bisa pulang sendiri," ucap Menacer 9 tersinggung.
"Aku hanya akan memastikan kalian sampai di lobi dengan selamat. Oh ya, Menacer 18, Patron-mu akan menemuimu sekembalinya kami dari gedung utama. Dan jangan lupa angkat Cocator-mu."
Menacer 18 memutar bola matanya. "Aku akan mengangkatnya jika aku membawa benda itu. Sayangnya aku lupa."
"Nah, lebih baik kita segera kembali, jalanan mungkin sedang tidak aman."
***
Mereka sudah memasuki lobi sepuluh menit yang lalu. Prima sudah sejak awal meninggalkan mereka begitu mereka bertiga menginjakkan kaki di gedung itu. Rupanya ia menangkap gestur tersinggung yang ditunjukkan Ryan. Ya, siapapun bisa mengerti bahwa lelaki menjunjung tinggi derajatnya di hadapan dunia. Kalau hanya untuk menjaga dirinya sendiri dan dua gadis berisik itu, Ryan bisa melakukannya. Ia tidak butuh bantuan dari siapa pun, bahkan Patron itu.
Mereka bertiga masih berdiri di lobi itu tanpa berniat mendekati lift untuk kembali ke Barak Menacer. Mereka yakin bahwa penyusup itu kemungkinan besar adalah orang yang tadi dilihat oleh Ryan. Dan Ryan melihatnya berjalan di depan gedung ini, sebelum akhirnya menghilang. Entah orang itu masuk ke sini dan bersembunyi di suatu tempat. Atau sedang berusaha masuk ke sini dan masih bersembunyi di luar sana.
"Sebaiknya kita kembali ke Barak Menacer. Besok kita harus menjalani latihan. Dan aku tak mau terlambat lagi." Menacer 17 memecah keheningan yang cukup lama terjadi di antara mereka.
"Kalau kau harus ke Barak Menacer, pergilah. Dan Ryan, jika kau juga tidak ingin terlambat, pergilah. Aku akan tetap di sini." Kata Menacer 18 keras kepala. Ia bahkan tidak ingat bahwa ia sudah bersumpah untuk membuat Jill tidak bisa menghukumnya lagi.
"Setelah kekacauan ini, program latihan itu masih akan dilakukan? Kalau begitu, orang-orang itu gila. Aku juga tetap di sini." Menacer 9 sebenarnya ingin kembali ke tempat tidurnya sejak ia menginjakkan kaki di gedung ini tadi. Namun, di mana sikap gentleman-nya jika ia meninggalkan seorang gadis di sini sendirian? Ia harus tetap di sini. Lagipula mereka adalah keluarganya sejak dan selama ia di sini.
"Baiklah. Kalau kau yakin latihan bodoh itu tidak akan dilakukan, aku juga akan tetap di sini." Menacer 17 menghampiri deretan kursi yang terlihat nyaman di pojok lobi dan duduk di sana sambil memeluk dirinya sendiri. Sementara Menacer 18 dan 9 mencari posisi nyaman mereka masing-masing sambil menunggu hal yang entah apa.
Menacer 9 hampir menutup matanya ketika pintu gedung itu tergeser perlahan-lahan. Sampai pintu itu tergeser lebar dan menampakkan sosok yang tidak begitu jelas. Yang mereka tahu, dari siluet lelaki itu, yang nampak hanyalah ia memakai topi, dan ada kacamata bertengger di hidungnya. Meskipun keadaan gelap, Namun, kacamata itu masih terdeteksi oleh mata mereka yang mengantuk. Menacer 17 berdiri dari kursinya dan segera bergabung dengan kedua rekannya.
Tanpa sadar, Menacer 9 yang sedang bersandar di dinding telah menempatkan sikunya di atas sakelar lampu sehingga ruangan itu tiba-tiba terang benderang, menyilaukan. Kemudian ia bergumam pelan, "aku tak tahu di sini ada lampu."
Lalu semua orang yang ada di ruangan itu mengerjapkan mata. Menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba itu. Selanjutnya, semua orang yang ada di sana menahan napas. Dua di antaranya waspada akan orang yang berdiri di depan pintu lobi dan memakai hoodie berwarna abu-abu. Dan dua yang lainnya sedang berusaha mempercayai apa yang mereka lihat. Setelah penerangan lebih baik, segalanya menjadi jelas.
"Kanya ...." Suara yang dirindukan Menacer 18 keluar dari mulut lelaki yang sedang berdiri di depan pintu lobi itu. Suara itu sedikit serak, Namun, masih tetap dikenali oleh Menacer 18.
Bagaimana ia bisa ada di sini?
Menacer 18 menatap lurus ke arah lelaki itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang berimajinasi.
Suara lelaki itu meyakinkannya sekali lagi, "Kanya ...."
Dorr!
Menacer 18 bertanya-tanya suara apa yang baru saja didengarnya. Akankah itu suara letusan senjata? Senjata apa? Senjata api? Sepertinya begitu, karena ia sendiri tidak pernah mendengar suara itu, kecuali di serial film action yang biasa ditontonnya. Lalu ...
Bruk!
Sekarang Menacer 18 menyadari apa yang sedang terjadi, apa yang mungkin terjadi, "Dylon!!"
Lalu lelaki itu ambruk di bawah kaki seseorang.
***