Leon turun dari lantai dua rumahnya setelah selesai berpakaian selepas mandi. Leon mengenakan kaos polos berwarna biru navy dengan celana pendek selutut berwarna abu-abu terang. Dilihatnya Nia sudah duduk di ruang tamu sambil menikmati segelas jeruk peras hangat ditangannya. Leon pun sampai di sofa tepat di depan Nia kemudian duduk. Nia yang tampak melamun sama sekali tidak menyadari kedatangan Leon di hadapannya.
“Hei.” Sapa Leon Lembut ke arah Nia
Nia yang sedang di sapa Leon masih juga tidak bergeming. Dia masih berkutat dengan lamunannya.
“Nia.. haloo Nia..” Leon melambaikan tangannya ke depan Nia, berusaha mencuri perhatian Nia dari lamunannya.
Nia yang tersadar dari lamunannya tidak sengaja menumpahkan sedikit air jeruk hangat yang ada ditangannya karena terkejut.
“Hmm.. Aduh..” Nia panik melihat ke arah Leon kemudian menyadari telah menumpahkan air yang ada ditangannya. Dia mengambil tisu yang ada di depannya kemudian dengan segera mengelap kaki dan karpet yang terkena tumpahan air jeruk itu. Leon dengan segera membantu Nia dengan mengambil gelas yang ada ditangan Nia dan ikut membersihkan kaki Nia. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya.
“Maaf Leon, aku tadi tidak tahu kalau kamu sudah datang.”
“Gak apa-apa. Kamu fokus sekali melamun. Aku boleh tahu apa yang sedang kamu lamunkan?” Leon melihat ke arah Nia.
“Hmm.. Kenapa aku bisa sampai di rumah kamu, Leon?”
“Oh itu.. Tadi dijalan kamu tertidur pulas sekali. Aku sudah berusaha membangunkan kamu tapi tampaknya kamu benar-benar tertiduk nyenyak. Sedangkan aku sudah lupa dimana alamat rumah kamu. Hampir 2 jam kita berputar keliling Jakarta tapi kamu masih pulas tertidur. Karena sudah sore jadi aku putuskan membawamu kemari. Aku tadi sempat berpikir apakah kamu pingsan atau meminum obat tidur sebelumnya. Bahkan saat aku menggendongmu ke kamar atas, kamu sama sekali tidak terganggu.”
“Jadi aku benar-benar tertidur pulas tadi?” Tanya Nia yang masih belum percaya bagaimana dia bisa tertidur seakan sedang pingsan.
“Iya begitu.” Leon mengangguk, “Lalu kenapa tadi kamu terlihat panik dan menangis di kamarku? Kenapa kamu sampai bisa masuk ke kamarku, Nia?” Kali ini Leon yang penasaran.
“Hmm itu..” Nia terbata. Dia malu menceritakan tentang apa yang dilakukannya tadi dan apa yang ada didalam pikirannya tadi.
Leon terus melihat kearah Nia dengan tatapan penuh Tanya.
“Oke. Aku akan cerita tapi kamu harus janji tidak menertawakanku.” Nia akhirnya menyerah untuk menceritakan apa yang terjadi di kamar Leon sedetai-detailnya. Dia juga tidak mau Leon berpikiran macam-macam padanya karena masuk ke kamar laki-laki dan memeluk seorang laki-laki yang saat itu hanya mengenakan selembar handuk.
“Aku janji.” Jawab Leon mantap karena begitu penasaran dengan cerita Nia.
Nia menghela napas, berusaha mengambil kekuatan untuk dapat menceritakan hal konyol yang telah dilakukannya tadi.
“Ketika aku bangun tidur tadi, aku sangat terkejut karena merasa asing dengan ruangan dimana aku tidur saat itu. Seingatku tadi sore kita sedang dijalan menuju rumahku. Lalu aku mencari tasku bermaksud untuk menghubungimu dengan handphoneku namun aku tidak mendapati tasku diruangan itu. Aku panik dan mulai berpikir yang tidak-tidak.” Nia terdiam sejenak berusaha mencari dan merangkai kata yang tepat agar tidak terlalu menjatuhkan harga dirinya.
“Berpikir yang tidak-tidak? Maksudnya?” Leon semakin bingung dan penasaran.
“Ma..maksudnya aku tadi sempat berpikir kalau kita dirampok dijalan dan aku diculik. Terus tadi aku lihatmobil kamu dibawah, aku kira kamu udah dibunuh atau di culik juga dan mobil kamu dicuri. Begitu ceritanya.” Nia melihat pelan ke arah Leon. Nia benar-benar merasa bahwa ini adalah pemikiran terkonyol selama hidupnya.
“Kamu pasti mentertawakan aku kan?” Tanya Nia sambil terus melihat ke arah Leon.
Leon menggelengkan kepalanya, “Nggak kok. Menurutku wajar juga sih kamu berpikiran seperti itu. Secara kan kamu perempuan, ketika di jalan tadi benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tahu-tahu sudah berada ditempat yang asing bagi kamu. Pemikiran kamu bagus. Menjadi pribadi yang waspada itu kan baik.” Leon menatap Nia.
Nia bernapas lega mendengar perkataan Leon. Dia senang ternyata Leon tidak menganggap bahwa apa yang dilakukannya tadi adalah hal konyol.
“Lalu apa yang terjadi dengan kaki kamu, Nia? Kenapa tadi kamu berjalan sambil berjingkat?” Tanya Leon lagi.
“Oh itu.. Tadi ketika aku keluar dari kamar tidur tepat saat aku akan menuruni tangga lantai dua, tiba-tiba aku mendengar suara sebuah pintu yang dibuka kemudian ditutup dari lantai bawah. Aku kira itu adalah penjahat yang merampok dan menculik kita. Jadi dengan cepat aku membalikkan badan dan memutar arah agar kembali ke kamar tadi. Namun sialnya karena gerakan yang terlalu cepat, kakiku malah jadi terkilir. Nah pada saat itulah aku malah salah masuk kamar, malah masuk ke kamar kamu karena terburu-buru takut orang yang aku kira penculik itu bakal naik ke lantai dua. Sepertinya tadi bunyi pintu itu adalah Bik Siti yang keluar masuk rumah.” Nia panjang lebar menjelaskan.
Leon berjalan mendekati Nia kemudian berjongkok didepan Nia dan memegangi kaki Nia yang terkilir, “Ini kakinya yang terkilir?” Tanya Leon.
“Hmm.. iya itu.. ouch.. sakit itu Leon.” Rintih Nia saat Leon menyentuh titik sakit di kaki Nia.
“Sebentar ya aku panggilkan Bik Siti. Bik Siti itu pinter banget pijat untuk terkilir. Dulu waktu kecil pernah beberapa terkilir karena bermain, Bik Siti yang nyembuhin.” Leon meletakkan lembut kaki Nia yang dipegangnya.
Baru saja hendak berdiri dan beranjak memanggil Bik Siti, ternyata Bik Siti sudah berjalan mendekati mereka.
“Den, Non, makan malam udah Bibik siapin. Mau makan malam sekarang atau nanti?” kata Bik Siti begitu sampai di dekat Leon dan Nia.
“Nah, pas banget bibik datang. Kaki Nia terkilir, Bik. Bisa nggak Bik Siti ngurut kaki Nia?” Leon menjelaskan kepada Bik Siti.
“Loh kok bisa terkilir, Non? Non Nia tadi terjatuh? Terjatuh dimana? Bik Siti gak dengar tadi, Non?” Bik Siti panik mendengar kaki Nia terkilir.
“Tadi di atas Bik, waktu mau turun kebawah.” Jawab Nia
“Oalah.. Sini bibik urut Non. Non Nia mau diurut di kamar atau disini, Non?”
“Disini aja Bik.” Jawab Nia
“Bentar Bik Siti ambil minyak urutnya ya Neng.” Bik Siti beranjak menuju kamarnya untuk mengambil minyak urut yang biasa dipakainya untuk mengurut.
Beberapa menit kemudian Bik Siti kembali dengan tergopoh-gopoh jalan khas Bik Siti,membawa minyak untuk mengurut.
“Nah, ini Neng minyak urutnya. Neng baring ya di sofa.” Bik Siti membantu Nia berbaring di sofa dengan mengangkat kaki Nia secara pelan-pelan.
“Kalau gitu aku ke depan dulu ya. Kamu jangan khawatir, Nia. Bik Siti handal dalam hal ini. Setelah diurut Bik Siti, kaki kamu pasti lebih baik.” Leon tersenyum ke arah Nia.
“Aman den.” Bik siti mengangkat jempolnya ke atas
Leon melangkah menuju pintu keluar dari rumahnya. Dirogohnya saku celananya dan mengeluarkan kunci mobil. Di bukanya pintu mobilnya dan mengambil tas Nia yang terletak di kursi mobilnya.
“Dirampok, diculik dan mau dibunuh? Ada-ada saja Nia.. Nia..” Leon tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.
***
“Aduh.. aduh Bik.. Sakit banget daerah situ.” Nia meringis kesakitan sambil menarik-narik kakinya beberapa kali
“Sabar ya neng. Tahan sedikit lagi. Habis ini pasti enakan kakinya. Ini titik terkilirnya neng.” Bik Siti menarik pelan kaki Nia yang di tarik-tarik Nia.
Bik Siti memijat titik terkilir Nia beberapa kali kemudian pada pijatan yang terakhir, dipijatnya agak lebih kuat diikuti dengan teriakan Nia pertanda bahwa ritual pijatnya telah selesai.
“Nah sudah selesai Neng. Coba neng berdiri, sudah lebih enakan gak kakinya?”
Nia mengusap air mata yang menetes di pipinya karena menahan sakitnya pijatan Bik Siti, kemudian duduk dan perlahan berdiri dan mencoba menapak di kakinya yang tadi terkilir.
“Eh.. Udah gak sakit lagi loh bik.” Wajah Nia cerah seketika. Di langkahkan kakinya berjalan beberapa langkah, “Berjalan juga tidak sakit bik.” Nia tertawa senang.
“Syukurlah non sudah lebih baik kakinya.” Bik Siti ikut tertawa senang.
“Kan sudah ku bilang. Soal seperti ini, Bik Siti ahlinya.” Leon datang dengan membawa tas milik Nia ditangannya.
“Ini tas kamu. Tadi tasnya tertinggal di mobil.” Leon meletakkan tas Nia di atas meja yang berada di depan Nia.
Nia yang masih takjub dengan kakinya yang telah sehat masih terus berjalan ke kanan dan ke kiri. Setelah puas barulah Nia duduk kembali di sofa diikuti dengan Leon yang kembali duduk di depannya.
“Tapi non, saran Bibik sebaiknya non jangan banyak gerak dulu agar uratnya gak terkejut non. Kalau berlatih jalan selangkah dua langkah gak apa-apa non.” Saran Bik Siti.
“Baik Bik. Makasih ya Bik sudah ngurut kakiku sampai sembuh begini.” Nia tersenyum ke arah Bik Siti.
“Sama-sama non. Bibik tinggal dulu ke belakang ya non. Permisi den.” Pamit Bik Siti
“Makasih ya, Bik.” Ucap Leon di balas dengan senyuman dan anggukan Bik Siti.
Setelah Bik Siti berjalan menjauh, Nia mengambil tasnya dan mengeluarkan handphonenya. Diceknya handphonenya namun ternyata handphonenya mati.
“Loh habis baterai rupanya.” Nia menekan tombon untuk menghidupkan handphonenya.
“Charge aja handphonenya, Nia. Kita makan malam dulu menjelang handphonenya penuh. Aku ada charger. Sini aku chargerin.” Leon berdiri kemudian meminta hanphone Nia.
“Sepertinya aku harus pulang, Leon. Sudah malam dan handphoneku juga mati. Takutnya ibuku menelpon dan khawatir karena aku tidak ada kabar.”
“Atau kamu mau menelpon ibu kamu dulu? Kamu bisa pakai handphoneku,Nia.” Leon menyerahkan handphonenya kepada Nia
“Hmm.. Gak perlu, Leon. Sepertinya aku langsung pulang aja.” Nia mengambil tasnya
“Baiklah kalau begitu. Aku antar kamu sekarang ya.” Jawab Leon sambil menyerahkan handphone Nia.
Nia mengambil handphone yang ada ditangan Leon kemudian berjalan mengikuti Leon menuju mobil yang terparkir di garasi depan.
Melihat Leon dan Nia berjalan keluar rumah, Bik Siti tergopoh-gopoh menghampiri.
“Loh Den, Non.. makan dulu. Bibik sudah siapin makan malamnya.”
“Nia sudah mau pulang, Bik. Takut ibunya khawatir.” Leon menghentikan langkahnya kemudian melihat ke arah Bik Siti.
“Iya Bik. Kapan-kapan Nia datang lagi deh nyicip masakan Bik Siti.” Nia tersenyum
“Oalah.. hati-hati dijalan ya Non. Ingat pesan bibik, 2-3 hari ini jangan terlalu banyak gerak dulu ya non.”
“Iya bik. Makasih ya bik udah nolongin.”
“Kami jalan dulu ya bik,” pamit Leon sambil berlalu menuju mobil. Di pencetnya tomol buka pada kunci mobilnya dan membukakan pintu untuk Nia. Setelah Nia masuk ke dalam mobil, barulah dia masuk ke dalam mobil.
“Ke arah yang tadi sore kan, Nia?” Tanya Leon sambil mengendarai mobilnya
“Iya. Nanti aku kasih tahu arahnya kemana lagi.”
“Kamu lagi gak ngantuk lagi kan?” Leon melirik kearah Nia sambil tersenyum, “Kalau kamu tidur lagi, akan aku bawa lagi ke rumahku.”
“Hahaha.. aman. Aku udah puas tidur tadi.” Nia tertawa
“Nanti dirumah kamu jangan lupa minum obatnya ya. Jangan pikirin soal kantor dulu selama kamu istirahat di rumah. Jaga pola makan kamu dan kalau kamu ada apa-apa, kamu harus hubungi aku ya.” Kata Leon sambil terus mengendarai mobilnya.
Nia melihat ke arah Leon. Nia semakin bingung dengan sikap manis Leon seharian ini.
“Kenapa?” Tanya Leon yang sadar terus dilihat oleh Nia.
“Hmm.. gak ada Leon. Kamu ternyata orang yang baik ya. Selama ini semua orang salah menilai pribadimu yang dingin.” Jawab Nia
“Aku bukan orang baik walaupun benci dengan orang yang jahat. Penilaian orang-orang selama ini juga belum tentu salah.”
Nia terdiam sambil melihat ke arah luar. Nia memikirkan sesuatu dengan lama.
“Hmm.. Leon kita bisa putar arah?” kata Nia tiba-tiba
Leon menginjakkan rem mobilnya dan menepikannya.
“Putar arah? Kenapa?” Tanya Leon bingung sambil melihat ke arah Nia.