Tinggal 1 bulan lagi ujian akhir kelas 3 akan diadakan. Sekolah mengadakan tambahan jam belajar setiap sore untuk persiapan menghadapi ujian tersebut.
Pagi seperti biasa, Nia menunggu Dina di depan gang rumahnya. Sebuah motor berhenti dedepan Nia.
"Hai Ndre.." Nia sudah hapal dengan motor Andre karena setiap pagi Andre selalu menemuinya dan menemaninya menunggu kedatangan Dina.
Andre membuka helmnya dan mematikan motornya.
"Hai Nia.." jawab Andre sambil tersenyum
"Kayaknya hari ini akan hujan lagi" kata Andre lagi
"Iya sepertinya."
"Eh iya Nia, Setelah lulus nanti lu rencana lanjut kemana?"
"Aku ngajuin beasiswa di Universitas Nusa Bangsa Ndre. Semoga Nilaiku nanti memenuhi syarat."
"Oh.. Universitas Nusa Bangsa ya.. " jawab Andre sambil mengangguk.
"Duh, tumben Dina lama datangnya. Biasanya dia udah datang jam segini." kata Nia sambil melihat jam di tangannya
Secara reflek Andre pun melihat jam ditangannya. 06.40 Wib, ini sudah kesiangan. Bisa-bisa mereka berdua terlambat kesekolah
"Kayaknya Dia gak masuk sekolah deh hari ini. Sudah naik lah. Kalau kita tunggu lagi, kita bisa terlambat" Kata Andre
"Hmm.. gimana ya?" Nia menggerak-gerakkan kakinya. Dia takut nanti Dina datang menjemputnya saat dia sudah berangkat duluan dengan Andre.
"Sudah, gak bakalan datang dia jam segini. Percaya deh sama gue. Naik gih" kata Andre sambil memakai helmnya.
Nia melihat Andre kemudian melihat ke arah jalan. Hatinya meragu namun akhirnya Nia pun naik ke motor Andre.
"Pegangan.. Ntar jatoh loh. Kita udah telat nih." Andre tersenyum dibalik helmnya.
Nia pun terpaksa memegang baju dibagian pinggang Andre. Andre melihat tangan Nia yang hanya memegang bajunya menancapkan gasnya membuat Nia terkaget dan reflek memeluk pinggang Andre.
Andre tersenyum penuh kemenangan merasakan tangan Nia kini melingkar di pinggangnya. Dia pun sedikit melambatkan laju motornya berharap lebih lama menikmati kebersamaan bersama Nia.
*
Sesampainya di kelas, Nia mencari keberadaan Dina namun dia tidak menemukannya. bangku Dina kosong, tak ada tas Dina disana.
"Kemana Dina ya? Huftt... Seandainya aku punya handphone"
Jam pelajaran pertama dan kedua pun selesai. Bel istirahatpun berbunyi. Segera Nia menemui bu Farida untuk menanyakan kenapa Dina tidak masuk sekolah hari ini.
"Tadi pagi supir pribadi Dina datang ke sekolah mengantarkan surat sakit Dina. Asma Dina kambuh jadi sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit, Nia." Jelas bu farida.
"Terima kasih bu." Nia berpamitan dengan bu Farida
Nia kembali ke bangkunya. Diambilnya bekal makanan yang dibawanya dari dalam tas.
"Sepi kalau gak ada Dina. Cepat sembuh ya Din." batin Nia
Baru mengeluarkan bekal dari tasnya, Nia melihat sambal yang di masukkannya ke bekalnya tadi pagi tercecer keluar.
"Aduh.. Pasti tadi pagi aku kurang rapat menutupnya." Nia mencoba membersihkan tasnya dari ceceran sambal dari bekal makannya.
Dibawanya bekalnya keluar kelas bermaksud membersihkan namun ketika akan melewati pintu, seseorang tanpa sengaja menabrak Nia dan bekal Nia pun tertumpah.
"Aduh.." Nia kaget dan bekal makannya terjatuh dari tangannya.
"Maaf." Jawab Leon, orang yang menabrak Nia sambil membantu Nia membersihkan bekalnya yang jatuh
"Gak apa-apa Leon."
Nia melihat Leon berjalan terhuyung-huyung. Wajahnya merah.
"Dia kenapa ya?" Batin Nia
Setelah membersihkan bekal Nia yang tercecer, mereka berdua kembali ke tempat duduk masing-masing.
Jam demi jam pun berlalu. Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid bersiap untuk pulang. Nia yang terdiam ditempat duduknya benar-benar sudah kelaparan. Bekal makannya hari ini tumpah. Sejak siang tadi Nia belum makan. Tidak mungkin dia pulang untuk makan tanpa ongkos. Lagi pula bagaimana dia akan datang lagi ke sekolah? Nia hanya bisa menempelkan kepalanya ke meja. Tangannya nemegangi perutnya yang sudah dari tadi bergemuruh.
Leon masih terduduk dibangkunya. Napasnya tersengal-sengal. Matanya panas. Kepalanya sakit. Dilihatnya Nia yang masih tertunduk di mejanya. Hanya tinggal mereka berdua di kelas itu.
"Kenapa lu masih disini? Lu gak pulang?" Tanya Leon dengan suara lirih
Nia yang sedari tadi tertunduk dimejanya terkejut dan melihat kebelakang.
"Hmm.. Aku memang gak pulang. Kamu kenapa masih disini?" Tanya Nia balik
"Kamu gak kelaparan nunggu disini? 3,5jam lagi baru les dimulai."
"Hahaha.. Bekalku udah tumpah tadi. Gak apa-apa. 3,5jam itu gak lama kok."
Leon kemudian mengambil tasnya dan menarik tangan Nia
"Ikut aku. Kita makan." Kata Leon
"Eh.. Eh.. Ehh" Nia bingung karena tangannya tiba-tiba ditarik. Segera diambilnya tasnya dan setengah berlari mengikuti tarikan Leon.
Sampai diparkiran mobil, Leon segera masuk ke dalam mobilnya. Nia hanya diam membisu berdiri melihat kearah Leon.
"Lu ngapain berdiri disitu? Cepat masuk. Lapar kan?" Perintah Leon.
Nia yang polos pun mengikuti perintah Leon masuk kedalam mobil. Setelah Nia masuk, Leon pun segera melajukan mobilnya.
Di kelas Nia, Andre berlari tersengal-sengal masuk ke dalam kelas Nia. Dilihatnya sudah tidak ada orang didalam kelas itu.
"Arrgghh.. Telat gue.. Kemana dia? Dina kan gak masuk. Apa dia pulang sendiri?" Batin Andre sambil berkecak pinggang berusaha mengendalikan napasnya yang tersengal-sengal karena berlari cepat dari lapangan basket.
*
Nia melihat ke arah Leon. Dia bingung mau dibawa kemana oleh Leon. Dia pun menyesali kenapa dia mau diajak oleh Leon, si anak baru.
"Kita cuma mau makan. Lu jangan takut. " Kata Leon yang menyadari sedari tadi di tatap oleh Nia.
Nia hanya tersenyum tidak enak.
Ternyata Leon sadar dari tadi aku liatin, batin Nia
Tiba-tiba ditengah jalan leon menepikan mobilnya.
"Kenapa Leon? Kita udah sampai ya?" Nia bingung melihat ke arah luar.
Leon memegangi kepalanya. Napasnya tersengal-sengal. Nia yang melihat Leon begitu langsung memegangi kepala Leon.
DEMAM!!!
"Leon, kamu demam. Badanmu panas sekali" Kata Nia panik
"Kita kerumah gue dulu. Gue kayaknya gak sanggup nyetir lebih jauh. Rumah gue dekat dari sini. Lu tenang aja. Gue bukan cowok b******k. Lu makan dirumah gue aja. Ada bik Siti dirumah." Jawab Leon sambil tersengal-sengal.
Nia hanya mengangguk. Dia panik dan kebingungan kasihan melihat Leon.
Leon berusaha mengumpulkan tenaga dan konsentrasinya menyetir sampai ke rumahnya.
Mobil Leon berhenti di sebuah rumah megah berlantai 2 bercat putih gading. Halamannya begitu luas dan dipenuhi bunga. Nia sampai ternganga melihat kemegahan rumah Leon.
"Turunlah. Ini rumahku." Leon bersiap keluar dari mobil. Setelah diluar, Leon terhuyung. Kepalanya sakit bukan main. Nia yang melihat Leon hampir terjatuh dengan segera keluar dari mobil dan memegangi Leon.
"Badan kamu panas sekali Leon." Nia memegangi tangan leon sambil memapahnya menuju pintu masuk rumah Leon.
Nia membuka pintu dan seorang perempuan tua berlari kearah mereka.
"Ya ampun den. Kenapa begini? Duh panas sekali badannya den." bik Siti panik dan membantu Nia memapah Leon.
"Baringkan disini aja dulu non." Kata bik siti menunjuk sebuah sofa besar diruang itu.
Leon terbaring lemah. Tubuhnya panas.
"Bentar ya non, bibik telponkan dokter dulu." Kata bik siti pada Nia.
Nia hanya mengangguk. Nia memegang kepala Leon.
Panas sekali badannya, batin Nia
Nia melihat ke segala arah, mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk mengompres Leon.
Di lihatnya sebuah ruangan seperti dapur dan Nia berjalan cepat kesana. Diambilnya sebuah baskom sedang, mengisinya dengan air biasa dan handuk kecil bersih dari lemari yang dilihatnya.
Nia kembali ke ruang depan lalu duduk di sebelah Leon dan mengompres Leon yang terbaring di sofa. Berulang-ulang sampai bik Siti kembali.
"Dokter Roy sedang dijalan menuju kemari non." Kata bik siti
"Iya bu. Bu, bisa minta tolong buatkan teh hangat untuk Leon bu?"
"Boleh non. Sebentar ya non."
Dengan telaten Nia mengompres Leon. Tak berapa lama, bik siti datang dengan membawa 2 gelas teh manis hangat.
"Ini Non. Bibik bawakan 2 gelas. 1 untuk den Leon, 1 lagi untuk non. Diminum ya non. Itu dokternya sudah datang non" bik Siti meletakkan minuman diatas meja.
Nia berdiri melihat seorang berpakaian kemeja masuk sambil membawa tas hitam.
"Selamat siang. Saya dokter Roy. Dokter keluarga ini." Dokter Roy memperkenalkan diri sambil menyalami Nia.
"Saya Nia, temannya Leon." Nia membalas salam dari dokter Roy.
"Sejak kapan mas Leon mulai demam mbak?" Tanya dokter Roy kepada Nia sambil memeriksa Leon dengan alatnya.
"Sepertinya baru hari ini dokter. Soalnya tadi pagi dia masih terlihat sehat."
"Oke. Sepertinya mas Leon kecapekan dan masuk angin. Dia terlalu sering begadang dan terlambat makan. Ini saya kasih beberapa obat. Kalau mas Leonnya sudah bangun dan makan, obatnya harus diminum ya." Dokter Roy memberikan obat kepada Nia.
Nia dan bik siti hanya mengangguk mendengar penjelasan dokter roy. Kemudian dokter Roy pamit pulang.
Nia duduk disamping Leon dan kembali dengan telaten mengompresnya. Diambilnya teh manis yang telah dibuat oleh bik Siti tadi dan meminumnya sampai habis. Lumayan menolong perutnya yang mulai kembung.
"Orangtua Leon dimana bik?" Tanya Nia pada bik siti
"Ibu dan bapak keluar kota non. Sibuk dengan kerjaannya. Pulangnya bisa seminggu, dua minggu bahkan berbulan-bulan non. Gak tentu." Jawab bik Siti
Ya ampun, pantas Leon begitu dingin. Ternyata dia selalu kesepian dan diabaikan, pikir Nia sambil memandang Leon.
Tiba-tiba Leon terbangun. Dilihatnya sekelilingnya kemudian memegang kepalanya.
"Leon.. " kata Nia
Leon melihat kearah Nia. Kemudian duduk.
"Kalau masih pusing, baring aja Leon." Nia memegangi Leon yang akan duduk.
"Aku gak apa-apa." Napas Leon terengah-engah.
"Bik, tolong ambilkan air minum ya" Pinta Leon.
Nia pun mengambil Teh hangat yang dibuat bik Siti tadi dan menyerahkannya pada Leon.
Segera air teh hangat tadi habis diminum oleh Leon.
"Leon, kamu makan ya. Setelah itu minum obat" kata Nia
Leon membuka matanya
"Lu udah makan?" Leon menatap Nia
"Aku gak lapar. Kamu yang harus makan. kan kamu lagi sakit" jawab Nia
"Ayo makan sama-sama" Leon beranjak dari sofa ke meja makan.
Nia hanya berdiri terdiam
"Ayo.. Kalau kamu gak makan, aku juga gak akan makan." ancam Leon
Nia pun berjalan mengikuti Leon dan duduk berhadapan dengannya.
Bik Siti sibuk menyiapkan makanan mereka.
"Untukku biar aku ambil sendiri bu," kata Nia pada Bik siti
Nia makan dengan lahap. Tanpa sadar dia sedang diperhatikan oleh Leon.
"Kalau lapar kenapa gak dari tadi makan." Leon tersenyum geli melihat Nia
Nia tersipu malu dan menghentikan suapan makannya yang memang sudah habis dilahapnya.
"Ayo dimakan. Habis ini kamu harus minum obat. " kata Nia
Leon terdiam menatap Nia. Baru kali ini ada orang yang memperhatikan dia, selain bik Siti. Leon memasukkan 1 suapan kecil kedalam mulutnya kemudian menghentikan makannya.
"Kenapa berhenti?"
"Aku sudah kenyang."
"Lagi dong. Sedikit sekali. Nanti perut kamu kembung." kata Nia kemudian berpindah duduk menjadi disamping Leon.
Diraciknya sendiri lauk dan nasi Leon kemudian menyuapkannya ke Leon. Leon terkejut melihat keberanian Nia.
"Dirumah, kalau ada yang sakit selalu aku yang urus. Kata bapakku, suapan dari tanganku itu mengalahkan obat dari dokter. Nih aaaa. " kata Nia sambil memberikan suapan pada Leon.
Leon menatap dalam wajah Nia. Kemudian membuka mulutnya dan memakan suapan dari Nia. Beneran, makanan ini jadi terasa enak. Padahal tadi benar-benar tak ada rasa di lidah Leon. Suapan demi suapan pun masuk ke dalam mulut Leon sampai akhirnya 1 piring pun habis.
"Oke. Sebentar aku ambilkan obatnya ya. Kamu minum dulu." kata Nia menyerahkan segelas air putih kemudian beranjak mengambil obat yang diberikan dokter Roy tadi.
Diambilnya 1 per satu obatnya sesuai etiket dan memberikannya pada Leon.
"Nih diminum dulu obatnya." Nia memberikan beberapa obat kepada Leon.
Leon pun menurut dan meminum obatnya.
"Setelah ini aku pulang ya. Sudah sore. Kelas juga udah mau bubar. Kamu ganti baju dan langsung istirahat. Nanti malam jangan lupa makan dan minum obatnya laginya." Nia berdiri dan beranjak mengambil tasnya.
"Maaf ya karena gue lu jadi ga ikut kelas sore. Gue antar aja ya. " kata Leon sambil berdiri dan mengikuti Nia.
"Gak usah. Aku naik ojek aja dari sini. Kamu istirahat aja."
"Aku sudah sembuh."
"Ayo" kata Leon lagi
"Kamu benar-benar sudah kuat Leon? " kata Nia tak percaya
"Sudah. Tadi ada tangan ajaib yang menyuapiku" seloroh Leon sambil berlalu ke arah mobilnya.
Nia pun mengikutinya dan masuk ke dalam mobil.
Didalam mobil, Leon tak berhenti melirik ke arah Nia.
"Sepertinya tangannya memang ajaib. Entah dapat kekuatan dari mana aku bisa sesegar ini. Padahal tadi aku begitu lemas." batin Leon
"Aku disini aja Leon. Rumahku didalam gang ini. Mobil sulit masuk. Gak jauh kok ke dalam." kata Nia setelah sampai di depan gang rumahnya.
"Jangan lupa nanti makan dan minum obatnya lagi ya. Jaga kesehatan. Besok kalau masih lemas gak usah masuk sekolah aja. Istirahat dulu." wejangan Nia panjang lebar sampai membuat Leon tersenyum geli.
Belum pernah aku diperhatikan sedetil ini, batin Leon.
"Oke makasih ya, Leon" kata Nia didepan pintu mobil Leon.
Leon pun keluar dari mobilnya dan berdiri didepan Nia.
"Gue yang harus berterima kasih" kata Leon sambil menatap Nia.
"Bye.. Hati-hati bawa mobilnya. Pelan-pelan aja. Oke" kata Nia sambil melambaikan tangannya dan berjalan pergi
Leon memandangi Nia dari belakang.
"Gadis ini baik dan polos" batinnya.