bc

Neglected

book_age18+
227
IKUTI
2.1K
BACA
mystery
city
like
intro-logo
Uraian

Anjani Halleyna, seorang gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak lahir. Selama di panti, ia akrab sekali dengan anak laki-laki bernama Arman. Usia mereka terpaut lima tahun. Anjani sudah menganggapnya sebagai kakak, atau mungkin lebih.

Arman selalu menjaga Anjani selama di panti, bahkan ia sendiri yang menyaksikan gadis itu saat baru lahir dan harus kehilangan orang tuanya.

Saat Anjani berulang tahun yang ke-10, tiba-tiba saja sepasang suami istri datang ke panti untuk menjemput Arman, yang ternyata adalah orang tua kandung Arman.

Saat hendak meninggalkan panti, Arman berjanji akan sering-sering datang mengunjungi Anjani dan juga meneleponnya. Bahkan Arman juga berjanji kalau mereka akan bersama-sama saat dewasa nanti.

Namun sudah berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun Anjani menunggu, Arman juga tak kunjung datang. Ia juga tak tahu bagaimana kabar Arman.

Hingga akhirnya, mereka tak sengaja bertemu kembali 15 tahun kemudian di tempat Anjani bekerja. Pria itu malah bersikap dingin, cuek, dan pura-pura tak mengenalinya.

Sebagai yatim piatu, Anjani menjalani hidup yang tak mudah. Apalagi ketika ia harus keluar dari panti. Tak hanya Arman dan keluarganya saja yang tak menyukainya, tapi juga teman-teman kantor Anjani yang sering membicarakannya di belakang. Untung saja masih ada Mona, sahabat Anjani dan juga ibu panti, Bu Dewi, yang selalu ada di sisinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
-       Tahun 2008 – “Anjani!” Teriak seorang lelaki remaja berusia 15 tahun begitu melihat gadis kecil berlarian kencang di area pekarangan panti asuhan. Ia pun langsung mengejarnya. “Anjani, jangan lari-larian ah, besok ‘kan mau ulang tahun yang ke-10.” Namun gadis itu acuh tak acuh, dan malah mengajak seseorang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri ikut berlari. “Ayo, Mas Arman ikut. Aku mau manjat pohon.” “Eh, jangan!” Pekik Arman. “Nanti jatuh lagi.” “Nggak, ‘kan aku udah jago sekarang.” Sahutnya santai. “Ih, susah ya dibilangin!” Arman sudah mulai kesal. Anjani kecil yang sudah tiba di depan pohon tinggi tersebut langsung menaikinya begitu saja. Wajahnya begitu senang karena menemukan permainan baru. Ia terus memanjat cabang demi cabang pohon sambil tertawa-tawa. “Pelan-pelan, Anjani!” Arman panik. “Nanti Mas yang dimarahin Bu Dewi. Bu Dewi merupakan ibu panti yang biasa menjaga mereka semua. Gadis kecil itu begitu lincah sehingga membuat Arman kewalahan karena terpaksa ikut memanjat sekaligus khawatir kalau gadis itu jatuh lagi. Apalagi gadis itu kini sudah hampir tiba di atas. “Anjani, udah di situ aja nggak usah naik lagi.” Teriak Arman sambil mendongak ke atas “Nggak seru, enakan paling atas bisa lihat pemandangan.” Ia terus memanjat. “Bahaya, Anjani!” Akhirnya gadis itu sudah tiba di spot yang diinginkannya dan ia pun langsung duduk di salah satu cabang. Arman juga duduk tak jauh darinya begitu juga sudah tiba di atas. Lelaki itu langsung menghela napas panjang dan mengomel. “Aduh, Anjani! Kamu tuh nggak ada capeknya, ya? Mas nyesel ngajarin kamu manjat pohon.” Gadis itu hanya tertawa renyah kemudian mengedarkan pandang ke luar area panti. “Mas Arman benar, di sini kita bisa melihat banyak hal di luar panti.” “Lain kali … tunggu Mas kalau mau ke sini, jangan sendirian.” Arman masih kesal. “Aku tadi lagi bosan banget, Mas, terus pengen ke sini.” “Iya, tapi ‘kan bahaya kalau sendirian.” Gadis itu kemudian melihat pemandangan danau yang jernih dari atas sana dan juga orang lalu lalang.  Wajahnya mendadak sedih saat melihat seorang ibu dan anak yang tampak sedang bermain bersama. Arman bisa melihat apa yang membuat raut wajah gadis kecil itu berubah. “Gimana ya, Mas, rasanya punya orang tua?” Tanya gadis itu lirih, “aku mau deh tiap bangun tidur, ada ibu yang bangunin dan ucapin selamat pagi. Terus ada ayah yang selalu ajakin aku main.” “Selama ini ‘kan sudah ada Bu Dewi.” Hibur Arman. “Bu Dewi ‘kan baik banget sama kita, sudah seperti ibu sendiri.” Anjani mengangguk. “Iya, tapi tetap saja aku pengen ngerasain punya ibu sendiri. Sampai sekarang … kenapa yah, belum ada yang mau adopsi kita? Kalau di sekolah aku suka sedih kalau lihat teman-teman pada dijemput sama orang tuanya.” Arman yang sudah berkali-kali mendengar keluh kesah tersebut, hanya tersenyum dan tetap sabar memberi pengertian. “Anjani … seandainya kamu diadopsi pun, belum tentu kamu bahagia di luar sana. Sifat orang tua angkat itu macam-macam, ada yang baik dan ada yang jahat.” “Bukannya kalau mau adopsi anak itu, harus lolos berbagai macam tahapan? Kalau mereka bisa adopsi anak, pasti kan dinyatakan layak.” “Betul, tapi banyak orang yang di awalnya ‘kan cuma nunjukin yang baik-baiknya saja. Kita nggak bisa tahu nantinya bakal gimana. Sudah banyak kejadian yang kayak gitu. Makanya Mas kadang bersyukur sampai sekarang belum diadopsi. Mas lebih nyaman di sini, karena Bu Dewi dan almarhum Bapak tuh baik banget. Kita juga harus bersyukur karena dunia luar bisa jadi lebih kejam.” Anjani hanya mengangguk. “Iya, Mas.” Mereka terdiam sejenak sambil melihat-lihat pemandangan. “Ngomong – ngomong … tiga tahun lagi Mas kuliah.” Ujar Arman tiba-tiba dengan mata menerawang. “Itu artinya, Mas harus pergi dari sini. Rasanya aja berat banget.” “Nanti kalau Mas Arman pergi, siapa yang temenin aku main? Manjat pohon kayak gini lagi? Terus setiap berangkat dan pulang sekolah, aku jalan kaki bareng siapa?” Tanya gadis itu polos. Anak lelaki itu menyembunyikan rasa sedihnya sambil memaksakan senyum. “Anjani, pada akhirnya umur kita akan bertambah. Kita semakin dewasa dan harus menjalani hidup masing-masing. Kita juga harus belajar giat, kejar cita-cita dan sukses supaya nggak direndahkan orang lagi.” “Tapi nanti … kalau sudah dewasa kita akan ketemu lagi nggak, ya?” Arman langsung tertawa. “Anjani, kalau pun Mas kuliahnya jauh, kita kan tetap bisa teleponan. Terus Mas akan ke sini setiap libur. Nggak akan ada yang berubah.” Wajah Anjani tetap saja sedih. “Nanti kita tetap bisa sama-sama saat dewasa, Anjani.” Hibur Arman. “Udah ah jangan cemberut terus. ‘Kan besok ada yang mau ulang tahun.” “Terus nanti … aku nggak ada teman juga buat lihat rumah istana sambil berangan-angan kalau suatu saat punya rumah begitu.” Rumah istana yang Anjani maksud merupakan rumah terbesar di dalam komplek yang sama dengan panti asuhan mereka. Maka dari itu mereka berdua menyebutnya rumah istana. Arman hanya tertawa renyah. “Masih 3 tahun lagi Mas kuliah, Anjani. Masih lama.” ************** “Happy birthday, Anjani …. Happy birthday to you.” Seluruh anak panti langsung bertepuk tangan dan bersorak sorai usai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Anjani yang ke-10. Anak-anak memang sangat senang setiap merayakan momen tersebut. Gadis kecil itu kemudian meniupkan lilin angka sepuluh di depannya. Semuanya pun lagi-lagi bertepuk tangan, bersorak sorai dan saling bersahutan mengucapkan selamat. Anjani kemudian memotong kuenya, kemudian memberikan kue pertama untuk Bu Dewi  dan kue kedua untuk Arman. Saat mereka sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba pasangan muda yang usianya berkisar awal 30-an datang. Suasana mendadak sunyi. Mereka kelihatannya juga orang berada dengan pakaiannya yang branded. Semua anak termasuk Anjani, berpikir kalau pasangan tersebut ingin mengadopsi, namun biasanya tak mendadak seperti ini. Melihat pasangan muda tersebut, Bu Dewi langsung terkesiap dan buru-buru menghampiri mereka. Bu Dewi kemudian mengajak mereka agar berbicara di dalam ruangan kantor saja. Anak-anak kemudian lanjut bercanda tawa sambil makan-makan. Sekitar setengah jam kemudian, Bu Dewi keluar dari ruangan dan memanggil Arman. “Arman, ayo ke sini sebentar!” Suasana kembali sunyi dan semua mata tertuju kepada Arman. Arman yang bingung hanya menuruti Bu Dewi dan memasuki ruangannya. Anjani kecil yang penasaran sengaja menguping dari luar ruangan tersebut. Ia bisa mendengar dengan sangat jelas dan kaget apa yang dikatakan oleh ketiga orang dewasa tersebut. Ternyata pasangan tersebut merupakan orang tua kandung Arman yang menitipkannya di panti selama ini. Dan kini mengajaknya kembali pulang. Terdengar Arman yang begitu marah dan kecewa. Lelaki remaja itu menuntut penjelasan mengapa kedua orang itu tega membuangnya kemarin. Ia juga sempat tak percaya penjelasan kedua orang tuanya dan menolak untuk ikut mereka. Anjani hanya mampu mendengar samar-samar. Berkat bujuk rayu Bu Dewi, akhirnya Arman pun mau ikut pulang dengan kedua orang tuanya. Hal itu membuat Anjani sedih. Gadis itu belum siap kehilangan orang terdekatnya secepat ini. Mereka berempat pun akhirnya keluar ruangan dan Arman langsung membereskan barang-barangnya. Dengan wajah sedih, ia pamit kepada Bu Dewi dan adik-adik di panti. Terakhir ia menghampiri Anjani yang terus menangis. Hal itu membuatnya semakin sesak. “Hei.” Ia mengusap air mata gadis kecil itu. “Jangan sedih, ya. Mas akan sering-sering ke sini, kok. Katanya rumah Mas juga nggak jauh.” Tangis gadis kecil itu mulai mereda. “Beneran?” Arman mengangguk sambil tersenyum. “Nggak ada yang berubah. Malah ini lebih bagus, karena Mas sekarang bisa beliin makanan yang selama ini Anjani pengen. Kayak croissant, waffle, pizza dan masih banyak lagi. Terus tiap kamu ulang tahun, Mas bisa kasih hadiah yang lebih bagus daripada ini.” Ia menunjuk gelang ungu di lengan Anjani yang ia berikan tadi. Gadis kecil itu hanya tertunduk sedih. “Besok Mas datang, kok,” hibur Arman. “Jangankan besok, nanti aja Mas langsung telepon kalau sudah sampai. Pokoknya sampai Anjani bosan, deh.” Anjani kemudian mulai bisa tersenyum lagi. Gadis itu sedikit merasa lega. “Jangan manjat pohon sampai Mas datang, ya.” Arman memperingatkan. “Ingat, tunggu Mas datang!” Anjani hanya mengangguk. “Mas janji, kita akan sama-sama saat dewasa nanti, membangun keluarga kecil sendiri seperti yang selama ini kamu impikan.” Janji Arman. “Maksudnya?” Arman tersenyum simpul. “Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan ngerti maksud Mas. Sekali lagi … selamat ulang tahun ya.” Arman pun kemudian harus dibawa pergi oleh kedua orang tuanya. Anjani bersama Bu Dewi dan teman-temannya yang lain mengantar Arman sampai depan dan melihat kakak tertua mereka ikut menaiki mobil hitam mewah sambil terus melambai. Anjani terus memandangi mobil MPV premium hitam tersebut hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Hari demi hari Anjani menunggu kedatangan Arman ke panti, namun lelaki itu tak kunjung datang atau menelepon. Ia selalu bertanya kepada Bu Dewi, namun ibu panti tersebut hanya menjawab sudah tidak tahu menahu soal kabar Arman maupun keberadaannya. Hampir setiap hari, gadis kecil itu selalu menungguinya di teras, berdiri depan pohon yang biasa mereka naiki sampai menunggu depan pagar dan mengharapkan sosok Arman akan muncul. Lelaki itu tak pernah datang hingga tiba waktunya Anjani harus keluar dari panti asuhan tersebut untuk melanjutkan kuliah. “Bu Dewi … nanti kalau Mas Arman datang cari Anjani,tolong kasih nomor telepon, nama kampus dan alamat kosan ya.” Pintanya sebelum meninggalkan panti. “Pokoknya kasih semua informasi.” Bu Dewi dalam hati mengatakan kalau Arman tak akan pernah datang, tapi ia hanya mampu mengangguk dan tersenyum. “Kamu sering-sering main ke sini ya.” Seorang anak perempuan sepantaran Anjani yang juga anak panti langsung menggandeng lengan Anjani. “Yuk, An, kita pergi sekarang. Nanti ketinggalan bus.” “Sebentar, Mona.” Mona merupakan sahabat Anjani dan mereka hendak berangkat kuliah ke tempat yang sama.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.2K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook