Anjani pun akhirnya melepas kaca mata hitamnya. Ia melihat dirinya di cermin dan tampak matanya sudah tak begitu terlihat sembab. Ia kemudian mengambil ponsel hendak membalas chat Mischa Alexander yang belum ditanggapinya sejak dua hari lalu. Ia pun mulai mengetik.
“Hi Mischa, maaf ya baru balas. Kemarin lagi hectic banget soalnya. Salah satunya lagi ngerjain project kamu dengan Daintie hehehe.”
Padahal kemarin ia hanya malas membalas karena belum menaruh minat pada pria itu. Ia pun kemudian menekan enter. Mischa pun membalas dengan sangat cepat.
“Hey, it’s okay, An. Bisa dimengerti kok sibuknya ibu kota hehehe. Eh, btw puasa, nggak?”
Anjani langsung membalas lagi. “Lagi nggak, nih, padahal tadi udah sempat sahur.”
“Ah, I see. Walaupun nggak puasa, tetap butuh makan malam dong?”
Anjani pun membalas dengan emoticon tertawa terlebih dulu. “Pasti.”
“Kalau nanti nggak ada acara, temenin aku buka puasa, yuk.”
Anjani pun berpikir sejenak. Apa sebaiknya ia mengiyakan ajakan tersebut? Ia sebenarnya masih belum bisa move on dari Arman. Tapi mau sampai kapan dirinya menunggu pria yang sudah jelas tak menginginkannya? Usianya juga sudah 25 tahun dan sama sekali belum pernah merasakan yang namanya pacaran.
“Boleh, yuk.” Balasnya akhirnya. “Kebetulan nanti nggak ada acara.”
“Oke, deh, nanti aku jemput ke kantor kamu aja ya sore. See u.”
“See u.”
Anjani pun meletakkan kembali ponselnya. Tiba-tiba saja Fajar menghampirinya. “Mbak Anjani.”
Anjani pun menoleh. “Iya?”
“Pak Arman mau meeting dengan Mbak Anjani dan juga team leader lainnya sekarang. Ditunggu di ruangan Bapak, ya.”
Anjani pun hanya mengangguk. “Oh, oke.”
Fajar pun berlalu. Anjani langsung negative thinking, apakah dirinya akan diberikan punishment gara-gara kejadian semalam? Atau yang lebih buruk akan dipecat? Tapi untuk apa memanggil team leader lainnya juga? Ia kemudian menggelengkan kepala dan langsung beranjak.
Ia pun berjalan ke arah ruangan Digital Marketing Manager tersebut. Dilihatnya team leader lain juga berjalan ke arah sana, seperti Reza, Ajeng, Jenny, Joe, Roy, Michelle HRD dan dari Finance bernama Hesti. Anjani sengaja memilih berjalan di paling belakang.
Akhirnya mereka tiba juga di ruangan tersebut. Terdengar suara Arman yang langsung menyuruh mereka masuk dan duduk di meja melingkar depan meja kerjanya yang dikhususkan untuk meeting kecil. Anjani masih belum melihat wajah pria tersebut karena terhalang oleh yang lain. Hanya wajah Fajar yang terlihat.
Setelah teman-temannya duduk. Mata mereka berdua tak sengaja bertemu. Arman masih duduk di meja kerjanya. Anjani juga bisa melihat terdapat secangkir kopi di atas mejanya, yang artinya pria itu tak puasa.
Ia pun hendak mengambil posisi duduk. Ah, mengapa tempat duduk yang tersisa hanya yang berada di sebelahnya? Mau tak mau ia pun menempati kursi kosong tersebut. Harusnya tadi ia tak masuk paling akhir.
Pria itu kemudian beranjak dari meja kerjanya dan duduk persis di sebelahnya dan juga Fajar duduk persis di sebelah kiri Arman. Lagi-lagi wangi parfum pria itu menusuk hidungnya. Ia selalu merasa nyaman setiap mencium bau parfum tersebut.
“Oke, selamat pagi teman-teman semua.” Sapa Arman.
“Pagi, Pak.”
“Saya sengaja panggil kalian semua ke sini, karena ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait pekerjaan untuk kedepannya.” Arman berdeham sejenak. “Style saya akan berbeda dengan Burhan.”
Arman jeda sejenak.
“Pertama, kalau Burhan mungkin kalian harus report langsung ke ruangan dan waktunya juga nggak jelas, atau hanya akan menanyakan kepada kalian bagaimana progress pekerjaan A, B dan C. Nah, kalau saya tidak begitu. Saya mau setiap sore jam 16.00 WIB, kita berkumpul seperti ini, dan kalian para team leader menjelaskan apa saja yang kalian kerjakan di hari itu. Termasuk jika ada masalah atau kendala, bisa langsung disampaikan saat meeting sore.”
Para karyawan tampak mengangguk paham.
“Saya rasa … dengan berkumpul seluruh divisi seperti ini, jauh akan lebih efektif dan lebih mudah berkoordinasi. Jadi saya bisa tahu kalau ada divisi yang seharian gabut nggak ngapa-ngapain dan cuma datang untuk terima gaji.” Celetuk Arman dengan nada bercanda.
Para karyawan hanya tertawa kecuali Anjani yang sedang sulit tertawa.
“Kalian juga bisa langsung mendengarkan masalah dari divisi lain dan kita bisa brainstorming. Lalu bagaimana jika sore itu saya sedang tidak ada di kantor? Nanti Fajar akan membuatkan group WA yang isinya adalah kalian, Fajar dan juga saya. Nah kalian bikin report diketik rapi dalam satu enter saja dan dikirimkan ke grup agar semuanya bisa baca. Ingat ya, harus dalam satu enter agar tak tertumpuk dengan chat lain.”
“Baik, Pak.”
“Nanti jika ada masalah, kita bisa saling diskusi di grup itu. Begitu juga jika ada salah satu dari kalian yang sedang keluar kantor atau tidak masuk, ya kirim saja ke grup itu.”
Mereka semua mengangguk paham. “Baik, Pak.”
“Termasuk jika ada konflik dengan rekan satu tim atau dengan divisi lain yang kira-kira bisa menghambat pekerjaan, itu juga saya harus tahu.” Arman kemudian melihat ke Michelle. “Berarti ini nanti Michelle selaku HRD yang akan menengahi.”
Anjani dalam hati tertawa geli. Bagaimana bisa Michelle yang julid dan jelas berpihak pada kelompok tertentu bisa menengahi? Bagaimana pula orang itu bisa menjadi HRD Manager?
“Baik, Pak.” Michelle pun mengangguk.
“Oke, kedua, kalian harus mempersiapkan diri ya, karena Burhan barusan info saya kita akan kedatangan klien besar dari pemerintahan, cuma belum pasti. Nanti saya info lagi.”
“Baik, Pak.”
“Saya rasa cukup itu saja pagi ini, nanti sore jam 16.00 WIB kita akan berkumpul lagi di sini.”
“Baik, Pak.”
Baru saja para karyawan mau beranjak, tiba-tiba saja pintu ruangan Arman terbuka kencang. Terlihat sosok wanita cantik, blasteran, tinggi dengan rambut sebahu hitam legam memasuki ruangan tersebut.
“Hi, sayang, surprise!” Sapa wanita itu riang sambil menatap Arman mesra.
Sayang?
Dada Anjani langsung sesak melihat sosok wanita cantik itu memanggil Arman dengan sebutan sayang. Cantik sekali wanita yang mengenakan setelan blazer dan pants hitam itu. Bak bidadari. Jadi ini pacar Arman yang semalam diceritakannya? Atau selingkuhannya? Anjani yang mengerti barang branded, dapat melihat bahwa semua yang dikenakan wanita itu, tidak ada yang murah. Tas nya saja Hermes.
“Sayang, kok kamu nggak seneng sih lihat aku datang?” Rajuk wanita itu manja.
Wajah Arman masih shock karena dirinya tak menyangka wanita itu tiba-tiba datang. Para karyawan langsung buru-buru keluar. Anjani pun keluar paling akhir. Arman bergantian melihat wajah wanita itu dan menatap punggung Anjani yang terbirit-b***t keluar ruangan.