Terungkap Alasan Arman

1843 Kata
Tak lama kemudian, keluarga owner pun datang menggunakan buggy car. Arman terlihat yang mengendari buggy car tersebut dan Burhan duduk di sebelahnya. Sontak para karyawan langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Anjani bisa melihat dua wajah familiar yang merupakan wajah kedua orang tua Arman. Wajah yang menjemput pria terdekatnya 15 tahun silam. Wajah mereka tak berubah sedikit pun dan tampak awet muda. Buggy Car tersebut kemudian berhenti dan mereka satu persatu turun. Terlihat Bu Lidya yang usianya sekitar 80-an masih tampak kuat berjalan seorang diri. Wajahnya sangat terlihat penuh wibawa dan energik. Keluarga owner kemudian langsung menempati posisi masing-masing. Acara kemudian dimulai dengan sambutan dari Bu Susanti sekaligus memperkenalkan para owner terutama Bu Lidya. Ia kemudian memberikan salam perpisahan yang mengharukan karena hari ini merupakan hari terakhirnya bersama Aftive, dan besok posisi CEO akan digantikan oleh Burhan. Setelah Bu Susanti selesai, dilanjutkan dengan kultum oleh seorang Ustadz. Akhirnya tibalah waktunya berbuka puasa. “Nah, sudah waktunya berbuka,” ujar Bu Susanti melalui pengeras suara, “silakan mengambil makanan dan minum di stall-stall yang telah disediakan. Mau langsung makan berat juga boleh.” Mereka semua hanya tertawa kemudian dengan tertib menuju stall-stall yang mereka incar. Tentu saja stall dari brand besar lebih menarik perhatian mereka. Sedangkan Anjani yang sudah biasa kelaparan sejak kecil dan tak begitu suka makanan mahal, tampak santai saja. Ia sengaja mencari stall yang sepi. Ah, matanya tertuju kepada gorengan yang begitu menarik minatnya dan sepi juga. Hanya OB dan driver kantor yang mengambil makanan tersebut. Ia pun berjalan ke area itu, mengambil beberapa gorengan kesukaannya dan juga sambal kacang. “Mbak Anjani nggak mau ambil makanan yang di sana saja?” Tunjuk sang driver kantor ke arah stall brand ternama. Anjani hanya menggeleng sambil tersenyum. “Nggak, Pak, saya nggak terlalu suka. Bapak saja yang ambil ke sana.” “Sama, saya juga nggak doyan.” Sahutnya terkekeh. Anjani kemudian juga mengambil es teh manis. Para geng ghibah pun langsung melihat ke arah gadis tersebut dengan tatapan heran. “Itu yakin si anak yatim nggak mau makan yang enak-enak?” Bisik Damar. “Kirain ndese demen yang gratisan.” Yang lainnya pun hanya menanggapi dengan tawa cemooh karena sudah lapar. Arman yang sedang memakan kolak pisang tersebut juga memerhatikan gadis itu. Ia sendiri juga heran karena malah memilih makanan yang biasa ia makan sejak kecil. Mata mereka tiba-tiba saja bertemu dan Arman lagi-lagi membuang muka. Setelah selesai berbuka, mereka pun salat Magrib berjamaah yang diimami oleh Ustadz yang tadi membawakan kultum, kemudian lanjut dengan makan berat sambil para karyawan saling berbincang. Tampak anggota keluarga yang lain, termasuk anak-anak dan adik Arman pun ikut bergabung untuk mengambil makanan. Tentu saja makanan seperti Bakmi GM, KFC dan Hokben lagi-lagi lebih menarik banyak peminat. Anjani pun lagi-lagi tak ambil pusing, ia pilih saja yang sepi. Kebetulan makanan kesukaannya nasi uduk. Ia juga mengambil gorengan lagi dan sambal kacang. “Buset, lo makan gorengan lagi?” Ceplos Sonia saat melihat piringnya. “Emang nggak bosen udah di kantor jajan gorengan mulu? Hati-hati jantung, lho!” Anjani hanya tertawa renyah, “terus apa bedanya sama kalian yang suka makan manis-manis? Hati-hati diabetes, lho!” Sonia langsung menggangga. Anjani meninggalkan Sonia begitu saja, kemudian kembali duduk di tempatnya dan menyantap makanannya. Setelah selesai ia pun meneguk minumannya dan melihat sekeliling. Dilihatnya Arman berjalan pulang ke rumahnya melintasi kolam renang, air mancur kemudian lapangan tenis. Anjani hendak menyusul, namun ia melihat sekeliling terlebih dulu dan memastikan bahwa tak ada orang yang sedang memerhatikannya. Begitu ia yakin tak ada yang memerhatikan, ia pun langsung mengikuti pria itu. Inilah kesempatannya untuk mendapatkan penjelasan setelah 15 tahun. Ia berjalan cepat melewati jalur yang dilewati Arman tadi. Ternyata lumayan jauh juga jika tak menaiki buggy car. Untung saja dirinya biasa jalan kaki, jadi tidak kelelahan. Ia terus mengikuti Arman yang kini memasuki rumahnya lewat garasi mobil. Melihat garasi mobilnya saja, Anjani langsung terpukau. Ini garasi atau showroom? Anjani pun nekat saja memasuki garasinya toh tak ada penjaganya juga, mungkin hanya CCTV. Ah, peduli amat! Toh dirinya tak berniat mencuri. Deretan mobil-mobil mewah seperti Ferari dan Lamborghini pun terparkir rapi. Mobilnya banyak sekali, mungkin sekitar 10. Mobil yang paling murah di sana sekitar 600 jutaan. Arman terlihat memasukkan kode pada salah satu pintu di ujung area tersebut, kemudian langsung masuk. Sebelum pintu itu tertutup rapat, Anjani buru-buru berlari dan menahan pintu hitam kayu tersebut dan langsung masuk. Ternyata ruangan itu merupakan ruang kerja Arman yang begitu luas. Posisi pria itu sedang membelakanginya sambil membaca sebuah berkas dan belum menyadari keberadaannya. Pintu kemudian tertutup dan Anjani dengan lantang memanggil. “Mas Arman.” Arman langsung shock mendengar suara tersebut dan langsung menoleh. Wajah pria itu jelas sekali terlihat kesal. “Kenapa kamu bisa masuk sini?” Ketus Arman sambil meletakkan berkas yang tadi ia baca ke atas meja. Anjani pun menjelaskan bagaimana dirinya bisa sampai sini. “Lancang banget kamu!” Amuk Arman, namun pria itu tak punya nyali untuk memanggil sekuriti. “Mas, tolong,” Anjani memelas. “Aku cuma butuh penjelasan … kenapa Mas Arman saat itu nggak ada kabar, sampai akhirnya kita ketemu di Aftive? Aku tiap hari nungguin Mas, berharap Mas datang ke panti atau setidaknya telepon.” Anjani mulai terisak. Arman hanya menatap datar sambil menunggu gadis itu selesai bicara. “Apa Anjani saat itu ada salah ngomong? Atau mungkin … ada orang lain di panti yang bicara nggak-nggak? Ngadu domba? Apapun itu, Anjani nggak pernah berniat melakukan sesuatu yang nyakitin Mas. Atau Mas mungkin waktu itu langsung berangkat ke Amerika? Kalau iya, kan masih bisa telepon.” Arman masih diam. “Mas … tolong …” Gadis itu semakin terisak. “Tolong kasih Anjani penjelasan, kenapa Mas tiba-tiba pergi.” Arman tetap tak bergeming. “Dulu kita selalu lewatin rumah ini, Mas, setiap berangkat sekolah.” Kenang Anjani terisak. “Mas sendiri yang kasih nama rumah ini rumah istana. Kalau selama ini Mas tinggal dekat sekali dari panti, kenapa nggak pernah mampir? Kenapa nggak pernah kasih tahu? Anjani kangen, Mas.” “Kamu beneran nggak tahu kenapa?” Arman akhirnya bicara. Tatapannya begitu tajam. “Kamu itu bodoh atau gimana, sih?” Anjani pun shock mendengar kata kasar yang keluar dari mulut pria itu. “Ya karena memang gue nggak mau ketemu lo lagi apalagi berhubungan dengan panti!” Teriak Arman. Anjani tentu saja jauh lebih kaget dari sebelumnya. Kaget dibentak seperti itu. Arman menatap Anjani dengan mata menyala-nyala. “Belum ngerti juga, ya? Kamu lihat nih … rumah ini!” Ujar Arman sombong sambil tangannya menunjuk-nunjuk seisi rumahnya, “dan juga fasilitasnya. Kira-kira dengan fasilitas kayak gini, gue bakal mau balik ke panti, nggak? Meski sekadar main?” Anjani tak dapat berkata-kata. “Saat orang tua gue jemput dan bawa gue ke rumah ini, yang ternyata ini adalah rumah gue, rumah yang gue impikan selama ini, gue bahagia banget. Hidup gue langsung berubah drastis. Gue dilayani, dimanja bak pangeran, punya kamar sendiri yang luas, ber-AC dan bersih … nggak kayak di panti yang tidur harus bareng-bareng, sempit, bau dan cuma pakai kipas angin.” Arman mengambil napas sejenak. Saking emosinya pria itu, ia sampai tak sadar kalau ada panggilannya yang tak konsisten, antara saya, kamu, gue dan lo. “Terus di sini gue bisa leha-leha melakukan apapun tanpa harus bersih-bersih, pakai fasilitas kolam renang sepuasnya, bisa belanja ini itu tanpa mikir, dan saya sekolah di sekolah internasional … kamu tahu dong, American School? Yah, saya sekolah di situ selama tiga tahun. Sedangkan kamu, hanya bisa mengagumi dari luar dan lanjut jalan ke Sekolah Negeri.” Anjani sesak mendengar itu sekaligus tak menyangka, kalau pria yang menjaganya sejak kecil itu, yang harus mencela kemiskinannya. “Di sekolah itu, fasilitasnya nggak main-main. Ada ekskul berkuda juga lho. Oh yang paling penting, langsung banyak cewek cantik yang deketin. Wah, gue waktu itu sekali pacaran bisa sama 3-4 orang.” Arman jeda sejenak. “Setelah lulus dari American School, saya berangkat kuliah ke Amerika sampai S2 dan kerja di sana. Paling pulang ke Indonesia hanya setahun dua kali saat itu.” Arman jeda lagi. “Saya sekarang juga punya pacar dan akan segera nikah.” Tegas Arman. Bohong jika Anjani tak cemburu. “Pacar saya cantik, blasteran dan dari keluarga terpandang juga. Selingkuhan saya, itu sekelas artis, model dan Puteri Indonesia. Oiya, kamu tahu Anjani … bedanya keluarga kami dengan rakyat jelata?” Anjani hanya diam dan menunduk. “Kami mencari pasangan yang selevel, tujuannya untuk mempertahankan kekayaan, supaya tidak habis tujuh turunan. Terus kamu yang nggak punya apa-apa, berani berharap aku nikahin untuk memperbaiki nasib kamu? Nenek dan orang tua saya bekerja sangat keras, bukan untuk orang asing yang hanya ingin menumpang hidup.” Anjani sesak mendengar itu. “Yah, saya dulu memang sempat punya janji bodoh sih sama kamu,” Arman sambil tertawa geli, “membangun keluarga sama kamu? Itu cuma janji anak kecil miskin yang berangan-angan hidup di negeri dongeng. Saya nggak pernah lagi mau mengingat-ingat masa kelam saya di sana, apalagi kembali ke sana.” Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Arman begitu menyayat hati. “Kamu sama sekali nggak paham ya, kalau hidup kita sekarang ini jauh berbeda?” Cemooh Arman. “Dunia kita berbeda, gaya hidup dan mindset semuanya berbeda. Saya nggak akan cocok kembali ke lingkungan itu lagi. Jadi kamu juga tahu diri lah!” Arman kemudian berjalan mendekat ke arah gadis itu, menatap tajam dan menunjuk-nunjuknya. “Kamu jangan berani-berani bilang ke siapapun, ya, kalau saya pernah tinggal di panti asuhan. Kalau kamu berani cerita ke siapapun … keluarga saya bisa lakukan apa pun ke kamu.” Ancamnya. “Apalagi, nggak ada yang lindungin kamu kalau kenapa-napa.” Gadis itu hanya terisak. Mas Arman yang dulu, pasti tak akan mengancamnya seperti ini. “Emang Bu Dewi nggak bilang apapun ke kamu?” Tanya Arman. Anjani menatap Arman bingung. Apa maksud pertanyaannya itu. “Mulai hari ini, anggap kita nggak pernah kenal sebelumnya.” Ujar Arman. “Besok kerja saja seperti biasa. Anggap ini nggak pernah terjadi. Saya bisa saja pecat kamu, tapi masalahnya kamu aset berharga buat Aftive.” Arman kemudian berjalan kembali ke mejanya dan tampak mengambil pulpen beserta buku cek, kemudian berjalan kembali menghampiri gadis itu. “Berapa uang yang kamu butuhkan?” Tantangnya sambil bersiap menulis, “saya kasih kamu uang, tapi setelah itu tolong jangan ganggu saya. Oh, hitung-hitung sebagai uang tutup mulut.” Anjani mengernyitkan dahi. Sedikitpun ia tak ada niat untuk meminta uang sejak tadi. “Berapa? 100 – 200 juta? 500 juta?” Cemooh Arman. “Saya rasa itu cukup buat biaya kamu dan anak-anak Panti. Atau 1M? Ya lumayanlah kamu bisa beli rumah di daerah pinggiran.” Anjani tentu merasa tersinggung. Harga dirinya terluka. Namun, dirinya tak punya nyali untuk marah. “Ya sudah saya tanda tangan aja nanti kamu isi sendiri ya nominalnya.” Anjani malah langsung pergi keluar dari ruangan itu begitu saja. Begitu gadis itu sudah keluar, sontak pulpen dan buku cek yang Arman pegang terlepas dari tangannya, matanya berkaca. Pria itu langsung terduduk di atas karpet dan menangis sejadi-jadinya. “Maafin Mas ya, Anjani.” Isaknya kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN