Move On

1543 Kata
Anjani kini duduk seorang diri di atas pohon sambil melamun. Pemandangannya tak banyak berubah sejak 15 tahun lalu, kecuali kini ia hanya seorang diri. “Kenapa nggak bilang dari awal, Mas, kalau nggak mau ketemu Anjani lagi?” Air matanya tak terasa menetes. Dadanya masih sesak. Arman yang sekarang bukan seperti Arman yang ia kenal dulu. Sifatnya jauh bertolak belakang. “An!” Tiba-tiba saja ada yang memanggil dan menepuk punggungnya. Anjani langsung tersentak dan menoleh. “Mona?” Mona tahu-tahu sudah berada di atas pohon dan duduk di cabang sebelahnya. “Gila, gue panggil-panggil dari tadi di bawah nggak denger lo?” Omelnya. “Mau manggil Bu Dewi juga nggak tega bangunin.” Anjani langsung tertawa cekikikan. “Lo berani manjat pohon?” “Gara-gara lo, nih, memaksa gue untuk manjat.” Mona masih mengomel. “Lagian lo ngapain sih di sini malam-malam? Gue pikir tadi kuntilanak. Turun, yuk.” Seharusnya celetukan Mona membuatnya tertawa, tapi wajahnya tetap saja sedih dan terus menatap kosong ke depan. Mona pun langsung merasa bersalah. “An, gue salah ngomong, ya?” Tanya Mona dengan nada takut-takut. “Maksud gue tadi cuma bercanda, lho. Nggak ada maksud ngatain lo kuntilanak.” “Dulu pohon ini … yang jadi tempat favorit gue dan Mas Arman.” Ujar Anjani lirih. “Dari pohon ini, kita bisa melihat pemandangan di luar, berangan-angan ingin jadi apa saat dewasa nanti dan dia sempat janji katanya suatu saat akan bikinin rumah pohon supaya gue nggak kepanasan. Itu … hal paling romantis yang pernah gue dengar.” Mona hanya menatap iba meski sudah sering mendengar itu. “Gue tunggu dia selama 15 tahun, ternyata … semuanya itu sudah berakhir. Dia nggak akan pernah kembali, Mon.” Isaknya. Anjani kemudian menceritakan semuanya apa yang ia alami saat buka puasa tadi. Sama persis dengan yang ia ceritakan ke Bu Dewi tadi. Mona langsung emosi mendengarnya. “Gila!” Maki Mona, “dia pikir lo mau minta uang? Sampai dia udah siap-siap mau nulis cek? Ya keputusan baguslah, lo langsung pergi aja dan ke sini.” Anjani hanya diam dan memandang kosong ke depan. “Jadi gini ya akhirnya, Mon?” Tanya Anjani lirih, “15 tahun gue sia-sia.” “Nggak sia-sia lah, An. Setidaknya lo lega udah tahu semuanya.” “Berarti hidup gue selama ini dibiayai oleh keluarga mereka?” Tanya Anjani tak percaya, “mulai dari tempat tinggal ini, pekerjaan sekarang bahkan sampai mobil.” “Ya kecuali sekolah, An.” Anjani hanya mengangguk. “Emangnya jadi anak yatim serendah itu ya?” Tanya Anjani lirih. “Gue kalau bisa milih … nggak mau jadi anak yatim, Mon. Di kantor juga gitu, meraka pada ngomongin gue di belakang. Padahal gue juga kepengen akrab sama mereka.” “Ya kan lo masih punya gue … punya Bu Dewi … punya anak-anak panti yang sayang tulus sama elo. Lagian punya orang tua juga nggak selalu menyenangkan kali, ada juga orang tua yang toxic dan problematik.” “Hah, maksudnya?” Mona menghela napas. “Lo masih ingat ‘kan waktu pertama kali gue datang ke sini? Waktu itu umur gue 5 tahun.” Anjani mengangguk. “Iya ingat.” “Ada yang belum gue ceritain ke elo sih. Waktu itu orang tua gue bilang, mau ngajak gue pindah ke tempat tinggal baru.” Ujar Mona lirih. “Gue pikir, kita sekeluarga bakal pindah ke kontrakan lain. Tau-tau gue diturunin di depan pagar itu dan gue udah nggak tau kabar orang tua gue lagi.” Anjani ingat bagaimana Mona kecil tiba-tiba berada di depan pagar dan menangis terus memanggil kedua orang tuanya. Bu Dewi pun mengajaknya masuk dan memberinya makanan. “Awalnya gue sedih ditinggal mereka, tapi ternyata baru beberapa jam di sini, gue malah happy karena kalian semua sangat welcome,” Mona tersenyum lebar. “Dan gue berharap orang tua gue nggak pernah muncul lagi selamanya. Alhamdulillah terwujud.” “Loh, kenapa gitu?” Tanya Anjani bingung. “Gue sering banget dengerin orang tua gue berantem, saling maki, pukul-pukulan.” Ujar Mona lirih. “Gue juga sering dipukulin sama bokap, dipaksa untuk ngamen. Nah, begitu di sini … gue bahagia banget. Bu Dewi sayang kita kayak anaknya sendiri. Kita disayang, dikasih makan cukup meski seadanya. Nggak pernah dipaksa bekerja, cuma disuruh sekolah yang pintar dan boleh main kalau sudah belajar.” Pantas saja selama ini bawaan Mona selalu riang. “Gue udah nggak mau tahu lagi orang tua kandung gue sekarang ada di mana, gimana kabarnya.” Lanjut Mona. “Bagi gue mereka udah mati. Nggak kebayang deh mental gue gimana kalau sampai gede diasuh mereka. Bisa-bisa gue dinikahin muda dan belum tentu sukses kayak sekarang.” Mona jeda sejenak. “Kita ini beruntung banget loh dibesarin di sini.” Lanjut Mona. “Panti asuhan lain juga belum tentu pengurusnya sebaik Bu Dewi dan almarhum Bapak. Kita diadopsi orang, juga belum tentu orang tua angkat kita baik. Intinya punya orang tua belum tentu semenyenangkan itu. Teman-teman kantor gue aja sering curhat berantem sama orang tuanya, dikekang, banyak lah dramanya.” Mereka saling terdiam sejenak. “Terus soal Arman,” lanjut Mona hati-hati, “mungkin memang harus begini takdirnya. Ada alasan saat itu lo punya feeling harus kerja di Aftive. Biar dapat semua jawabannya. Jadi pertanyaan lo selama 15 tahun, semua sudah terjawab hari ini.” Anjani hanya diam. “Gue juga sebenarnya udah tahu dari zaman kuliah … Bu Dewi cerita ke gue.” Ujar Mona. “Rese lo, bukannya kasih tahu gue!” Nada Anjani hanya datar saja. “Iya, Bu Dewi juga barusan bilang.” “Makanya kan gue berkali-kali bilang, kalau lo nggak perlu nunggu dia lagi. Apalagi kita sudah beda kasta dengan mereka.” “Gue harusnya udah sadar ya, Mon, sejak dia pergi dari panti dengan mobil mewah.” Ujar Anjani sambil tertawa getir. “Udah sadar kalau status sosial kita berbeda sejak itu.” Mona tersenyum. “Ya sudah, kan sekarang status Arman kan sudah jelas. Mendingan lo move on, mulai lah kasih respon cowok-cowok yang selama ini berusaha deketin lo. Ya tapi jangan semuanya sekaligus lah, pilih satu aja yang paling lo suka.” “Kayaknya Mischa Alexander aja.” Ucap Anjani tanpa berpikir panjang. Ekspresinya hanya datar saja. “Oh iya, nggak dia nggak Managernya, neror gue mulu nanyain lo!” Nada Mona langsung heboh. “Nanya, kok Anjani kalau balas chat lama kadang suka nggak balas. Terus sering banget suruh gue cari-cari alasan supaya bisa lebih sering kerja bareng lo. Bagus lah lo pilih dia, biar gue nggak pusing. Ganteng parah sih tuh orang!” Anjani menggeleng. “Gue pilih dia, bukan karena dia ganteng atau artis papan atas sih, tapi gue sama dia punya banyak kesamaan. Background kita mirip-mirip lah. Jadi kalau ngobrol nyambung.” “Maksudnya?” “Dia juga nggak punya orang tua, kan? Bapaknya meninggal waktu dia masih kecil dan Ibunya meninggal pas remaja. Sejak itu dia jadi tulang punggung buat adik-adiknya ditambah saudara-saudaranya. Ambil job shooting sana sini. Ya makanya mirip-mirip sama gue.” Mona pun mengangguk. “Oke gue dukung! Mischa orangnya baik banget, kok dan humble juga. Dia juga nggak masalah dengan kondisi lo yang besar di panti asuhan.” “Terus pacar lo siapa sekarang?” Anjani terkekeh. “Nggak ada, lagi repot urusin collab produk DaintieXMischa Alexander.” Mereka berdua tertawa bersama. “Oiya, ngomong-ngomong gue juga kepengen resign, Mon.” Ujar Anjani tiba-tiba. “Pengen pindah kerja.” “Iya gue ngerti sih, An. Pasti kondisi kayak tadi udah bikin nggak nyaman kerja sih ya. Tapi terus cicilan mobil lo gimana? Bukannya kata lo belum bisa resign, ya?” “Kalau resign saat cicilan mobil belum lunas, mobil bisa dikembalikan ke kantor. Gue nggak peduli lah, gue pengen ngajuin resign aja besok.” “Ya, jangan gegabah juga, An. Lo harus keterima di tempat yang baru dulu baru resign. Lo mulai apply-apply aja dulu di tempat lain.” “Nah, makanya gue mau minta bantuan lo, biar bisa cepat keluar dari Aftive.” Anjani jeda sejenak. “Lo bisa masukin gue ke Daintie, nggak? Kan lo juga lagi butuh orang di tim creative.” Anehnya Mona terlihat kaget mendengar permintaan sahabatnya tersebut. Anjani mengernyitkan dahi. “Lo kenapa, Mon? Gue soalnya pengen kerja di tempat yang jauh dari area Sudirman juga. Terus nanti kita juga bisa satu kosan.” Mona langsung terbata. “An, gue ngerti sih lo itu masih kalut karena masalah tadi. Tapi saran gue, jangan ambil keputusan di saat lagi emosi. Apalagi lo baru saja dipromosi. Apa nggak sayang? Terus … nanti kalau Ci Emily lebih suka sama lo, posisi gue bisa kesingkir dong kayak Sonia dan Selvy.” Anjani langsung tertawa. “Oh, jadi itu yang lo takutin? Ya nggak lah, Mon. Gue nggak bakal rebut posisi lo.” Mona tampak mencari-cari alasan lagi. “An, takutnya nih ya … kalau kita satu kantor apalagi satu divisi, itu bisa merusak persahabatan kita. Nah, gue nggak mau itu. Udah banyak kok contohnya.” Anjani merasa omongan Mona ada benarnya. “Tapi gue bisa bantu lo tanya-tanyain lowongan ke klien-klien atau kenalan gue.” Janji Mona. “Gue akan rekomendasiin lo. Gue cariin deh yang kantornya agak jauh dari Sudirman.” “Thank you ya, Mon.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN