Pov Dinda Pagi itu aku bangun kesiangan. Setelah mendapat ucapan selamat malam untuk pertama kalinya dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku cukup membuatku bisa tidur nyenyak. Berlebihan memang, tapi entah mengapa itu memang benar terjadi. Ah, mungkin inilah yang dinamakan cinta kadang tidak memakai logika. Hati mencari sendiri tempat berlabuhnya. Ucapku sambil menatap pantulan wajahku pada gawai. Kadang aku pun berpikir kelebihan apa yang dimiliki lelaki itu selain menang di ganteng dan postur tubuh. Kharismatik dan pekerja keras mungkin? Bisa jadi sih, yang jelas entahlah. Kadang aku sendiri tidak mengerti kenapa akhirnya aku memilih dia. Pagi ini terasa hambar. Duh, belum sehari ditinggal pergi sudah seperti ini. Pemandangan di depan tidak membuatku semangat, hanya

