“Ehmmm!” suara dehemannya membuatku gelagapan. Tatapan matanya langsung beradu tepat dengan kedua netraku yang sejak tadi memperhatikannya. Aku langsung menarik diri hendak kembali masuk ke kontrakanku. Namun suara bariton itu menghentikan langkahku. “Kapan orang tua kita bisa bertemu? Orang tuaku siap kapan saja, bahkan hari ini pun bisa!” “S-secepatnya!” Aku mendadak tergagap. Lupa sudah rasa penasaranku tentang laptop mahalnya. Kini fokusku beralih pada rencana itu kembali. Aku meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi. Masuk ke dalam bangunan petakan tempat tinggalku dengan d**a berdebar-debar. Segera kuhubungi mama, menanyakan waktu luang mereka, dengan catatan jangan mengajak Nanda---adikku yang rese itu. [Ma, apakah sudah dapat jadwal ayah? Dia udah nanyain lagi] tulisk

