"Karena aku lelaki, bukankah kamu akan menikah dengan seorang lelaki?” jawabnya singkat, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak. Aku terdiam. Tiba-tiba teringat perkataanku tadi pagi waktu interview. “Hmmm … satu lagi, apa kriteria orang yang akan menjadi suamimu?” pertanyaan terakhir waktu interview tadi mendadak terngiang-ngiang. “Kriterianya dia harus seorang lelaki, Pak ….” Itulah jawaban sekenanya yang kuberikan pada Direktur Adireja Grup tadi pagi. Apakah Tuhan semudah itu mengabulkan perkataanku. Baru pagi tadi kubilang akan menikah dengan seorang lelaki. Siang ini seseorang mengajak menikah dengan alasan karena dia seorang lelaki. Sepertinya perkataanku mulai sakti. Perasaan kesel muncul juga jadinya. Masa dilamar kayak gini? Gak ada romantis-romantisnya. Paketnya

