bc

Benih Rahasia Rival Posesif

book_age18+
17
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
escape while being pregnant
pregnant
arranged marriage
brave
heir/heiress
drama
bxg
serious
like
intro-logo
Uraian

“Salah masuk kamar, aku malah menyerahkan diriku pada Iblis yang paling ditakuti tunanganku.”

Tiga tahun menjadi keset bagi Kalandra Altamis adalah batas akhir Elara Jauza. Satu rencana nekat disusun untuk mengikat sang tunangan selamanya. Tetapi, kegelapan dan aroma maskulin yang asing mengkhianati logikanya.

Pria yang mengklaimnya malam itu bukan Kalandra.

Dia adalah Arlo Danendra. Pria arogan, berbahaya, dan sosok yang seharusnya tidak pernah Elara sentuh. Satu kesalahan fatal yang meninggalkan nyawa baru di rahimnya.

Kini, Elara harus lari. Sebelum Arlo menemukannya, atau sebelum Kalandra sadar bahwa calon istrinya telah dinodai oleh musuh terbesarnya sendiri.

“Aku membelinya dengan harga diri, tapi dia membayarnya dengan kehancuran.”

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
“Gaun ini terlihat murah untuk calon menantu keluarga Altamis.” Suara Aruna Maheswari memotong keheningan di dalam toilet restoran mewah itu. Elara terpaku di depan cermin, tangannya masih memegang ujung kain gaun berwarna nude yang baru dibelinya. Ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering dan perih. Cermin di hadapannya memantulkan tatapan menghina dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya. Aruna melangkah mendekat, aroma parfum mawar yang menyengat memenuhi ruang sempit tersebut. Ia menarik sedikit kerah gaun Elara dengan gerakan kasar. Matanya memicing, meneliti setiap jahitan kain seolah sedang mencari cacat produksi. Elara hanya bisa berdiri kaku, membiarkan tubuhnya diperlakukan seperti barang dagangan yang sedang ditawar. “Warna ini membuat kulitmu terlihat pucat dan tidak bertenaga,” lanjut Aruna sambil melepaskan cengkeramannya. Ia mengeluarkan bedak padat dari tas tangannya yang seharga satu unit mobil. Elara melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak rapuh di samping keanggunan Aruna yang mengintimidasi. Tidak ada ruang untuk membela diri di hadapan wanita ini. Semua pilihan Elara selalu dianggap sebagai kesalahan yang memalukan bagi reputasi besar keluarga Altamis. “Maaf, Ma. Saya pikir model ini cukup sopan untuk acara formal,” ucap Elara pelan. Aruna mendengus, suara yang lebih mirip sebuah ejekan daripada napas. “Sopan saja tidak cukup bagi kami, Elara. Kamu adalah wajah dari Kalandra. Jangan sampai orang-orang berpikir putraku memilih wanita dari kalangan kelas bawah.” Wanita itu merapikan syal sutranya lalu berbalik menuju pintu tanpa menunggu balasan. Elara menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia membasuh ujung jarinya dengan air dingin, berharap rasa beku itu bisa membantunya tetap tegar. Langkahnya terasa berat saat ia harus mengikuti Aruna kembali ke meja perjamuan. Restoran itu sangat sepi, hanya ada denting alat makan perak yang beradu dengan porselen mahal. Kalandra Altamis duduk di sana dengan punggung tegak yang kaku. Matanya terpaku sepenuhnya pada layar ponsel di tangan kiri. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika Elara menarik kursi dan duduk tepat di sampingnya. “Kal, kamu mau pesan hidangan penutup apa?” Elara mencoba membuka percakapan. Kalandra menggeser layar ponselnya dengan cepat, mengabaikan pertanyaan tersebut. Ia tampak sedang mengetik pesan bisnis yang sangat mendesak. Elara mencoba menyentuh lengan kemeja Kalandra untuk mendapatkan sedikit perhatian. Pria itu justru menarik lengannya dengan cepat untuk meraih gelas air putih. “Jangan sekarang, aku sedang sibuk,” jawab Kalandra dingin. Suaranya datar, tanpa ada sedikit pun kehangatan yang tersisa di sana. Elara menarik kembali tangannya dan meletakkannya di pangkuan yang kini terasa dingin. Ia menatap piring di hadapannya yang masih dipenuhi potongan daging yang tidak tersentuh. Rasa lapar sudah hilang, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit d**a. Aruna kembali memimpin pembicaraan dengan nada bicara yang penuh otoritas. Ia membicarakan tentang relasi bisnis baru yang akan memperkuat posisi keluarga mereka di pasar global. Kalandra sesekali memberikan tanggapan singkat yang menunjukkan kepatuhannya pada sang ibu. Elara merasa dirinya hanyalah hiasan meja yang sengaja diletakkan di sana agar terlihat lengkap. “Pesta pernikahan kalian akan dilaksanakan dua bulan lagi.” Kalimat Aruna membuat garpu di tangan Elara terlepas dan berdenting keras di atas piring. Ia menatap Aruna dengan mata yang membelalak karena terkejut. Tidak ada diskusi sebelumnya, tidak ada pembicaraan tentang kesiapan mental atau detail acara. Keputusan itu dijatuhkan begitu saja seperti sebuah vonis pengadilan yang tidak bisa diganggu gugat. “Dua bulan? Tapi bukankah itu terlalu mendadak, Ma?” tanya Elara dengan suara bergetar. Aruna meletakkan serbetnya dengan gerakan yang sangat pelan dan elegan. Ia menatap Elara dengan pandangan yang membuat Elara merasa sangat kecil. “Persiapan sudah hampir selesai karena aku yang mengurusnya sendiri. Kamu hanya perlu datang, berdiri tegak, dan jangan merusak suasana.” Elara menoleh ke arah Kalandra, mencari dukungan atau setidaknya penolakan atas rencana sepihak itu. Kalandra justru mematikan ponselnya dan menatap Elara dengan ekspresi yang sangat kosong. Tidak ada tanda-tanda keberatan di wajah pria yang sudah tiga tahun menjadi tunangannya tersebut. Ia tampak setuju dengan apa pun yang diperintahkan oleh ibunya. “Aku rasa dua bulan waktu yang cukup, Elara,” kata Kalandra singkat. Ia kembali menyalakan ponselnya seolah pengumuman pernikahan mereka bukanlah hal yang penting. Elara merasakan matanya mulai panas karena air mata yang mendesak ingin keluar. Ia merasa terjebak dalam sebuah kontrak yang akan merenggut seluruh kebebasannya sebagai manusia. Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan tentang penggabungan aset dan menjaga nama baik. “Apa pendapatku tidak penting di sini?” Elara memberanikan diri untuk bertanya kembali. Aruna tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat tajam di telinga Elara. “Kamu akan menjadi bagian dari keluarga Altamis. Pendapatmu adalah pendapat kami, dan aku sudah memutuskan yang terbaik untuk semua orang.” Elara mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia merasa udara di dalam restoran itu mendadak hilang, membuatnya sulit untuk bernapas. Rasa tidak berdaya ini begitu nyata hingga membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin. Namun, ia hanya bisa diam dan menunduk, membiarkan harga dirinya kembali diinjak. Suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk utama restoran. Aroma sandalwood yang maskulin dan tajam tiba-tiba menyapu ruangan, mengalahkan wangi bunga mawar Aruna. Elara mendongak, melihat bayangan seorang pria tinggi melintas di balik dinding kaca di samping meja mereka. Bayangan itu tampak begitu dominan, seolah memiliki kekuatan untuk menguasai seluruh ruangan. Pria itu mengenakan setelan hitam yang dijahit dengan sangat sempurna di tubuhnya yang tegap. Ia tidak berhenti, hanya berjalan lurus dengan langkah kaki yang penuh percaya diri. Tatapan Elara terpaku pada gerakan pria tersebut hingga sosoknya menghilang di belokan koridor. Ada sesuatu yang sangat magnetis dan berbahaya dari kehadiran pria asing itu. “Siapa itu, Kal?” tanya Aruna dengan nada yang mendadak waspada. Kalandra mendongak dan melihat ke arah koridor yang sudah kosong. Ia mengernyitkan dahi, seolah mengenali langkah kaki yang baru saja lewat. “Mungkin hanya tamu lain, Ma. Tapi aromanya terasa sangat familiar.” Elara merasakan jantungnya berdegup lebih kencang tanpa alasan yang masuk akal. Ia meraba tas kecilnya dan menemukan sebuah kartu nama hitam di atas lantai, tepat di bawah kursinya. Tampaknya kartu itu jatuh saat pria tadi melintas dengan sangat dekat. Elara memungutnya dengan cepat sebelum Aruna sempat memperhatikan gerakannya. Tinta perak di atas kartu hitam itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal. Nama yang tertera di sana membuat napas Elara seolah terhenti untuk beberapa detik. Nama itu bukan sekadar nama biasa di dunia bisnis yang keras ini. Pria itu adalah sosok yang paling dihindari sekaligus dikagumi oleh semua orang di Jakarta. Arlo Danendra. Nama itu terasa seperti sebuah janji sekaligus ancaman yang sangat nyata bagi Elara. Ia segera memasukkan kartu itu ke dalam saku gaunnya dengan tangan yang gemetar. Kalandra berdiri dari kursinya, memberikan isyarat bahwa perjamuan makan malam yang menyesakkan ini telah berakhir. Ia berjalan mendahului Elara tanpa menawarkan bantuan untuk membawakan tas atau sekadar menggandeng tangannya. “Cepatlah, Elara. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi,” ucap Kalandra dari arah pintu keluar. Elara berdiri dan merapikan gaunnya yang baru saja dihina sebagai barang murah. Ia menatap punggung Kalandra dengan rasa putus asa yang semakin dalam menyusup ke hatinya. Di dalam sakunya, kartu nama Arlo Danendra terasa sangat panas, seolah-olah benda itu memiliki nyawa. Ia menyadari bahwa hidupnya akan segera menghadapi badai yang jauh lebih besar. Mobil mewah keluarga Altamis sudah menunggu di depan lobi dengan mesin yang menderu halus. Elara melangkah keluar dari restoran, merasakan angin malam yang menusuk kulitnya yang pucat. Ia melihat sebuah mobil hitam legam melaju cepat meninggalkan area parkir restoran tersebut. Elara tahu, pria pemilik aroma sandalwood itu ada di sana, sedang mengamati segalanya dari balik kaca gelap. “Apa kamu akan terus berdiri di sana seperti patung?” Aruna menegur dari dalam mobil. Elara segera masuk dan duduk di samping Kalandra yang kembali sibuk dengan dunianya sendiri. Mobil itu mulai melaju, membawa Elara kembali ke sangkar emas yang sudah Aruna siapkan. Ia memejamkan mata, mencoba menyingkirkan bayangan Arlo Danendra dari pikirannya yang kacau. Namun, nama itu seolah sudah terukir permanen di dalam kepalanya sejak detik pertama ia melihat kartunya. Di tengah keheningan mobil, Elara merasakan getaran kecil dari ponselnya di dalam tas. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia kenal sama sekali. Jantungnya berpacu cepat saat ia memberanikan diri untuk membuka layar ponselnya di bawah cahaya remang. Isi pesan itu singkat, namun sanggup membuat seluruh tubuh Elara mendadak menjadi kaku. “ Aku tahu sebuah rahasia tentangmu, Elara.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
668.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
907.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
321.3K
bc

Not just, the Beta

read
325.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook