Pagi yang (Tidak) Tenang

1009 Kata

Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis villa, menciptakan semburat hangat yang membelai pelan kulit Salwa. Dia menggeliat pelan di bawah selimut, menyadari bahwa posisinya tengah menyatu erat dalam pelukan hangat Jiva yang masih terlelap di sebelahnya. Aroma kulit Jiva, hangatnya napas di tengkuk, dan tangan besar yang masih melingkari pinggang membuat Salwa tersenyum malu sendiri. “Astagfirullah—” gumamnya lirih. “Tadi malam kayak mimpi.” Baru saja dia mencoba bergerak perlahan, tangan Jiva menariknya lebih dekat. “Mau ke mana?” Suara berat itu terdengar serak namun manja. Salwa menahan tawa. “Aku mau pipis. Dan kamu jangan manja begitu, Pak Suami.” “Gak ada izin keluar dari pelukan dulu,” gerutu Jiva sambil menenggelamkan wajahnya di rambut Salwa. “Kecuali kamu kasih ciuman dulu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN