"Aku cuma mau dua hari," kata Jiva dengan nada nyaris memohon. "Dua hari aja. Kamu, aku. Nggak ada laporan harian si kembar, nggak ada suara tangis jam tiga pagi, nggak ada rebutan remote TV.” Salwa yang tengah menyuapi Rasyid, menatap suaminya seolah baru saja mendengar permintaan yang tak masuk akal. "Terus, dua bocah ini mau Aa’ titipin ke siapa?" “Mbak Yanti,” kata Jiva cepat. “Dan Oma Yasmin. Plus Kak Jiavala. Tiga orang dewasa buat dua bayi. Presentasenya aman.” Salwa memelototkan mata, tapi Jiva tetap tenang. Bahkan dengan percaya diri mencium ujung jari istrinya sambil berkata, “Yuk, kabur. Biar kata cuma dua hari, aku pengen kita bisa kayak pasangan biasa.” Dan begitulah, beberapa jam kemudian, Jiva dan Salwa duduk di dalam mobil yang menuju sebuah penginapan privat di daerah

