Sore menjingga merayap perlahan di langit Jogja, mewarnai langit belakang rumah keluarga kecil itu dengan semburat keemasan yang hangat. Salwa duduk di kursi taman yang diletakkan di bawah pohon jambu air, mengenakan daster hamil berwarna lembut dengan selendang tipis menutupi bahunya. Perutnya yang membuncit tampak begitu anggun saat dia menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di hadapannya, si kembar sedang asyik bermain bola di halaman rumput yang luas. Rasyad berlari mengejar bola yang ditendang Rasyid, lalu mereka saling tertawa, saling rebut bola, saling menjatuhkan diri seolah pertandingan itu adalah final Piala Dunia. “Mamaaaa, Rasyad curang!” seru Rasyid dengan napas ngos-ngosan. “Enggak curang! Tadi aku nggak sengaja!” balas Rasyad tak mau kalah. Salwa hanya tertawa pelan, menah

