Bab 1. Benih Untuk Balas Budi
“Kenapa harus menikah lagi, Ma? Aku udah punya istri dan aku enggak akan bisa jatuh cinta sama wanita lain selain Bella. Dia sempurna, apalagi Ma?” ucap Liam ketika sang mama memintanya untuk berpoligami.
“Mama enggak mau ambil risiko lagi. Kamu sendiri yang ngeyel mau menikahi Bella. Mama sudah wanti-wanti sebelumnya sama kamu kalau wanita modelan Bella itu susah diatur. Lihat sendiri, kan, sekarang? Disuruh hamil aja di enggak mau. Dia pikir bisa bertahan dalam keluarga ini tanpa menghasilkan keturunan? Nonsense, Liam,” jawab Sora dengan nada kesal.
Liam mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh sang mama. Ia dan Bella sudah menikah selama 3 tahun, dan selama itu pula Bella selalu enggan untuk memiliki momongan. Alasan utamanya karena ia adalah seorang model. Ia akan kehilangan tubuh indahnya ketika nanti hamil dan melahirkan. Keputusannya menikahi Bella atas dasar cinta. Dan Liam tidak peduli jika nanti mereka punya anak atau tidak. Namun, keluarga Hadiningrat butuh penerus untuk mewarisi semua harta yang mereka miliki kelak. Menceraikan Bella jelas bukan keputusan tepat. Namun, menikah lagi? Apa itu jalan satu-satunya?
“Tapi ini enggak adil, Ma. Aku enggak bisa menikah lagi. Aku enggak siap berpoligami. Ini melanggar prinsipku sendiri mengenai pernikahan,” jawab Liam.
“Persetan dengan prinsip kamu. Keluarga kita butuh pewaris, Liam. Dan hanya kamu yang bisa memberikannya karena kamu anak Mama satu-satunya. Terserah dengan wanita mana saja. Asalkan itu adalah benihmu,” jelas Sora.
Liam menggeleng lemah. Ia yang masih duduk di kursi kerjanya hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Ini sangat mendadak dan tak mungkin ia menikahi gadis sembarangan. Belum lagi dengan sang istri. Bella jelas tidak akan setuju. Mereka telah berjanji akan bersama sampai maut memisahkan. Lantas, jika sudah begini. Apa yang harus ia lakukan?
“Apa lagi yang kamu pikirkan, Liam? Kamu dan Bella sudah menikah selama 3 tahun. Mama rasa itu cukup untuk membuat Bella paham bahwa keputusan keluarga ini sudah bulat,” kata Sora.
“Ma, kasih aku waktu. Aku akan bujuk Bella agar dia mau mengandung anakku. Bella udah janji waktu itu, setelah kontraknya selesai dengan perusahaan Amerika, dia akan memikirkan tentang memiliki seorang anak,” jelas Liam.
“Dan dia baru saja memperpanjang kontrak dengan perusahaan itu 3 tahun lagi sebulan yang lalu, kamu pikir Mama enggak tahu. Mama enggak bisa nunggu selama itu. Pokoknya, kamu harus menikah lagi dan memberikan Mama cucu secepatnya,” kata Sora.
Liam membuang napasnya dengan kasar. Mamanya memang orang yang keras kepala. Makanya, ia lebih senang bicara dengan sang papa daripada wanita di hadapannya ini. Mamanya adalah pemegang kekuasaan terbesar pada keluarga Hadiningrat. Bahkan sang papa saja tidak pernah terlalu mengatur seperti ini. Hanya sang mama yang selalu menginginkan semuanya berjalan dengan lancar sesuai kemauannya.
“Tapi enggak semudah itu, Ma. Mana bisa bercinta tanpa rasa cinta?,” katanya.
Liam meragukan usul sang Mama yang tiba-tiba. Ia ragu dengan hal itu, sebab selama ini ia memang hanya berhubungan dengan Bella. Tidak ada wanita lain dalam hidupnya selain sang istri.
“Realistis saja, Liam. Anggap saja wanita itu Bella ketika nanti kalian berdua. Gampangkan! Sudahlah, Mama enggak mau tahu lagi. Sore ini, datanglah ke rumah dan Mama akan beritahu siapa wanita yang harus kamu nikahi,” ucap Sora.
“Mama bahkan udah cari calonnya? Astaga, Ma. Mana bisa begini? Kalau Liam enggak cocok sama dia gimana?” tanya pria itu lagi.
Kali ini, Liam bangkit dan mengusap wajahnya dengan gusar. Sementara sang mama hanya tersenyum kecil.
“Harus cocok, karena Mama sudah putuskan semuanya. Mama tunggu di rumah,” ucap Sora seraya berlalu.
Liam tidak bisa lagi berkata-kata. Salah satu ketidakberuntungannya menjadi anak orang kaya adalah ketika tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Pria itu tidak bisa memilih apa yang harus ia lakukan, bahkan ketika ia sudah sebesar ini. Ketika ia masih diperam gelisah, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Ia menoleh dan sosok sang istri sudah menatapnya dengan nyalang dari ambang pintu.
“Mas, jangan harap kamu bisa menikahi lagi. Aku enggak mau dipoligami,” kata Bella penuh amarah.
Wanita di depannya memang patut emosi dengan kuputusan sang mertua. Namun, itu semua juga karena Bella yang menolak memiliki seorang anak.
“Mau bagaimana, Sayang? Kamu enggak mau hamil. Keluargaku butuh pewaris.”
“Aku bilang nanti, Mas. Nanti kalau aku udah siap. Kalau sekarang, aku enggak bisa meninggalkan karir modelingku,” kata Bella.
Wanita itu mendekati suaminya. Dengan nada memelas Bella bergelayut di lengan Liam dan meminta pria itu memikirkannya lagi.
“Kamu enggak mungkinkan tega sama aku, Mas? Kamu cinta sama aku, kan?” katanya.
Liam melunak. Ia memeluk sang istri erat dan mengusap ubun-ubunnya perlahan. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Keputusan sang mama tampaknya sudah bulat. Lantas, apa yang harus ia katakan pada Bella.
“Mas, jangan diam aja. Kamu harus tegas sama Mama. Kamu tidak harus menuruti kemauannya, Mas,” kata Bella kembali memelas.
“Kamu tahu sendiri Mama gimana. Melawan juga bukan keputusan tepat. Aku–”
“Kamu selalu lemah di depan Mama, Mas. Kapan wanita itu berhenti ikut campur dengan rumah tangga kita? Hah?”
Bella sudah mulai menangis. Wanita itu begitu kesal dengan sang mertua yang terus ikut campur dengan rumah tangganya. Sora selalu mengatur segalanya hingga Bella sebagai istri tidak pernah dianggap. Sosok sang mertua memang begitu keras dan sang putra yang tidak lain adalah suaminya sendiri bahkan tidak berani melawannya.
“Oke, aku akan minta Mama membatalkan semuanya. Kita ke rumah Mama sekarang,” kata Liam kemudian.
Bella mengusap air matanya dengan gusar, lantas mengangguk lemah. Ia ingin melihat bagaimana sang suami membantah apa yang telah sang mertua dan membiarkan keduanya hidup tenang dengan menunda memiliki momongan.
***
“Mama yakin semua ini akan berjalan dengan baik?” tanya Mahesa pada sang istri.
Pria itu juga meragukan keputusan Sora mengenai poligami yang akan Liam lakukan.Walaupun paham bagaimana sifat sang istri, tapi pria itu tetap berusaha untuk mencari jalan yang terbaik untuk Liam dan sang menantu, Bella.
“Yakin, Pa. Mama sudah memikirkannya masak-masak. Bella banyak menghabiskan waktu di Amerika karena pekerjaannya. Jadi, orang-orang tidak akan tahu jika tiba-tiba ada bayi di antara mereka,” jelas Sora.
“Bukan hanya itu, Ma. Apa Mama enggak memikirkan–”
“Gadis itu? Enggak ini saatnya dia balas budi,” sahut Sora kemudian.
Keduanya lantas keluar dan menemui Liam dan Bella yang sudah datang. Keduanya tampak duduk di sofa ruang tamu menunggu Sora dan Mahesa datang.
“Ma, tolong pikirkan lagi soal poligami itu. Aku enggak bisa melakukannya,” kata Liam sesaat setelah Sora mengempaskan tubuhnya di sofa.
“Enggak ada yang perlu dipikirkan lagi. Keputusan Mama sudah bulat. Kamu hanya perlu memberikan benihmu saja. Setelahnya, biar Mama yang urus,” jelas sora.
“Mama enggak bisa seenaknya minta Mas Liam untuk menikah lagi. Aku enggak akan mau dimadu, Ma,” sahut Bella kemudian.
“Itu risikonya karena kamu enggak mau hamil. Sudahlah, kamu terima saja,” kata Sora.
Ketika Bella hendak melempar tanya, tiba-tiba seseorang datang. Semua orang menoleh ke arah pintu. Saat itu, Sora bangkit dan meminta gadis yang memakai snelli itu untuk mengambil duduk.
“Jelita adalah gadis yang akan kamu nikahi,” kata Sora.
Semua orang terkesiap. Termasuk Jelita yang sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh sang mama. Gadis itu pun melempar tanya saat itu juga.
“Maksudnya apa ini, Ma?” tanya Jelita.
“Menikahlah dengan Liam! Lahirkan anak untuknya sebagai balas budi atas apa yang sudah kamu terima dari keluarga Hadiningrat,” kata Sora.
“Tapi, Ma. Aku–”
“Aku tidak menerima penolakan dan protes apapun. Paham kamu, Jelita!”
Mata gadis itu sudah memanas. Sementara Liam langsung membuka suara.
“Ma, jadi dia yang harus aku nikahi?”
“Iya.”
“Aku enggak sudi menikah dengan anak angkat ini sampai kapan pun!” ucap Liam dengan lantang.