“Emmh … pelan-pelan, Liam. Ada bayi dalam perutku,” ucap Jelita ketika suaminya itu mulai bergerak dengan cepat. “Iya, Sayang. Aku akan pelan-pelan,” bisik pria itu di telinga Jelita. Hati gadis itu benar-benar menghangat ketika Liam memanggilnya demikian. Walaupun entah, apakah itu dari hati atau tidak. Nyatanya, Jelita memilih menikmati perlakukan itu sebelum semuanya berakhir. Aah … ia benci memikirkan hal itu. Jika benar nanti ia harus benar-benar pergi dari rumah ini usai melahirkan, entah apa yang akan Jelita lakukan. Perhatian dan sentuhan Liam benar-benar memabukkan. Ia bahkan merasakan candu yang luar biasa ketika kemudian mendapatkan pelepasan karena perlakuan pria itu. Napas pria itu memburu usai menumpahkan segalanya pada sang istri kedua. Liam tersenyum, lalu mengecup keni

