Balkon itu sunyi, hanya ditemani lampu kota yang berpendar redup dan udara malam yang dingin. Liam berdiri bersandar pada pagar besi, kedua tangannya terlipat di d**a, pandangannya kosong menembus gelap. Beberapa hari terakhir ini, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ucapan Dokter Aditya terus terngiang, berulang, seperti gema yang menolak hilang. Kamu terlalu lemah. Liam menghela napas panjang. Sejak Bella hamil, hidupnya seolah-olah berputar hanya di satu poros. Jadwal dokter, mual, rengekan, kecemasan, dan kemarahan Bella yang mudah meledak. Ia sibuk, sampai ia tidak lagi menghitung hari sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah Mamanya, rumah tempat Jelita kini tinggal. Ia memejamkan mata. Wajah Jelita muncul begitu saja. Senyumnya yang tipis. Cara bicaranya yang sel

