Aroma tumisan sayur dan roti panggang memenuhi dapur, bercampur dengan wangi kaldu yang menguar dari panci kecil di kompor. Jelita berdiri di sana, apron simple membungkus perutnya yang semakin membesar, tangannya sibuk memotong buah untuk sarapan. Gerakannya pelan, hati-hati, terutama karena ujung jarinya masih perih akibat serpihan vas semalam. Ia menahan napas saat perih itu menusuk lagi, tapi tetap tersenyum. Pagi selalu menjadi waktu paling hening baginya. Waktu di mana ia bisa merasa berguna, meski ia tahu … perannya tidak akan bertahan selamanya. Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Hati Jelita refleks berdegup lebih cepat. Liam muncul dengan kemeja yang sudah rapi, jam tangan terpasang, rambutnya tersisir sedikit berantakan dengan cara yang membuat lelaki itu terlihat lebih

