Satu
Adel keluar dari bilik toilet menuju wastafel untuk mencuci tangan. Merapikan sedikit penampilannya. Rambutnya lepek terkena sinar matahari.
Seorang wanita masuk terburu-buru membawa beberapa bungkus makanan dan minuman. Fokus Adel sedikit terganggu saat melihat wanita itu memasukan suatu ke dalam minuman dan makanan itu.
Marasa diperhatikan wanita itu menampilkan senyum sinis pada Adel. Adel acuh saja mungkin itu vitamin.
Selesai dengan urusanya Adel memilih keluar Andre sang Adik sudah menunggunya.
"Lama banget sih, kak" kesal Andre
"Bawel"
"Ayo cepet!"
"Kemana? Pertandingannya udah selesaikan?" tanya Adel. Ia sungguh ingin cepat-cepat pulang, lelah rasanya seharian menemani sang adik.
"Itu si no 8 favorite gue mau gue ajakin foto nanti lo fotoin"
Dengan malas Adel hanya mengikuti kemauan adiknya. Taruhan sialan.
Adel menunggu dari kejauhan Andre mengantri menunggu gilirannya berfoto dengan si nomor punggung 8.
Matanya sedikit memicing melihat wanita yang bertemu dengannya tadi di toilet memberikan makanan dan minuman pada si no 8. Refleks Adel berjalan mendekat dan merebut makanan yang sudah berada di tangan no 8.
Suasana kacau seketika ketika beberapa bodyguard yang menjaga mencekal tangan Adel menjauhkannya dari si no 8.
"Jangan dimakan gue liat dia masukin sesuatu ke dalam makanan sama minuman itu"
"Kak lo apa-apaan sih" Andre yang melihat kelakuan kakaknya tentu saja didera rasa malu.
"Gue liat sendiri dia masukin sesuatu, gue cuma gak mau ada hal yang enggak diinginkan terjadi" Adel kesal saat tidak ada yang percaya padanya bahkan adiknya sendiri malah memasang tampang malu. Semakin kesal saat 2 bodyguard semakin mengencangkan pegangan pada kedua tangannya.
"Lo jangan fitnah, itu hadiah dari gue untuk johan buat kemenangan dia hari ini" Si perempuan itu tak mau kalah mencari pembelaan. Tapi, dari wajahnya Adel yakin dia merasa panik dan takut.
"Johan aku penggemar setia kamu mana mungkin aku ngelakuin sesuatu yang jahat sama kamu"
"Sini makanannya" Johan mengulurkan tangannya Adel menjauh yang semakin ditahan 2 bodyguard.
Menggigit tangan seorang bodyguard hingga pegangannya terlepas. Adel segera membuka bungkusan itu mengambil segelas minuman dan tanpa pikir panjang langsung meminumnya.
"Kak" Andre berseru panik takut apa yang dikatakan kakaknya memang benar. Seabsurd kakaknya tidak mungkin berbohong disituasi seperti sekarang.
Baru tiga kali tegukan Johan merebut minuman itu. Membuangnya membuat semua orang kaget. Semua hening seolah menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Rasa minuman itu aneh Adel merasa tenggorokannya terasa terbakar. Napasnya mulai terasa berat Adel menumpukan tumpuannya pada seorang bodyguard yang masih memeganginya.
"Panas"
"Tolong! Tolongin kakak gue" Andre dengan panik merengsek mengambil alih sang kakak yang mulai kehilangan kesadarannya.
Johan tentu tak tinggal diam. Johan pun membantu menopang tubuh Adel yang sudah muali kehilangan kesadaran.
"Ambulan telpon ambulan"
"Hey, lo bisa denger gue" Johan menepuk nepuk pipi Adel
Di stadion selalu ada mobil ambulan yang standby berjaga jika sesuatu hal yang buruk pada pemain. Petugas medis mulai berdatangan untuk membawa Adel ke rumah sakit.
Andre yang masih bergetar di tempatnya bingung atas situasi yang sekarang terjadi. Johan menepuk bahu Andre mengajaknya berdiri untuk mengikuti adel yang sudah dibawa oleh petugas.
Situasi bertambah kacau saat tubuh Adel mulai kejang.
***
Andre masih terdiam. Masih tak percaya pada semua yang terjadi. Kenapa kakaknya bisa melakukan hal sebodoh itu. Jika tahu diminuman itu ada sesuatu yang berbahaya kenapa dia minum.
Adel masih berada di ruang ICU. Kakaknya itu kritis. Orangtuanya sudah dihubungi dan dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Sorry, bro" Ada yang menepuk pundaknya. Andre hanya melirik sekilas. Si nomor 8 idolanya. Seakan kehilangan minat pada semaunya Andre tak bereaksi apa-apa saat Johan pemain favoritenya duduk disamping dirinya.
"Dia memang ceroboh, tapi gue gak tau dia bakal sebego ini" Andre berucap lirih.
"Dia pasti kuat, dokter sedang mengusahakan yang terbaik" Johan kembali berucap sambil menatap semua yang ada di sana. Ada beberapa teman satu team, manager dan keluarganya.
Semua sangat terpukul dengan apa yang terjadi antara rasa bersyukur dan sedih. Rasa syukur karena Johan dan orang orang terdekatnya dijauhkan dari makanan itu. Sedih karena harus memakan satu korban yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
Ibu johan mendekati Andre memeluknya dan terus mengucapkan kata maaf. Seketika tangis yang sudah andre tahan pecah dia bingung dan takut pada reaksi orangtuanya nanti.
Dari kejauhan sepasang suami istri lari terpogoh - pogoh.
"Dimana Adel" tanya Anna Mama Adel perasaannya tak karuan saat mendapat telpon kabar anak perempuannya masuk rumah sakit.
"Kakak kritis, Mam. Maafin aku" Anna memeluk Andre erat. Anna hanya bisa menangis memikirkan bagaimana nasib putrinya.
"Yang tenang Mam, kita berdoa saja semoga Adel tidak apa apa" Papa Adel masih mencoba berpikir jernih walau kekalutan juga terlihat jelas di wajahnya.
Johan menuntun keluarga itu untuk duduk.
*****
Seminggu berlalu setelah kejadian mencekam itu. Adel dinyatakan koma. Siang itu Anna yang mendengar bagaimana keadaan Adel langsung tak sadarkan diri. Di lain pihak Andre dan Johan yang paling merasa bersalah membiarkan Adel meminum minuman itu.
Johan sedang menemani Andre makan siang. Hari ini Andre bolos sekolah. Johan yang merasa bertanggung jawab selalu standby berada di rumah sakit. Berita tentang keracunan Adel sudah menyebar ke media. Menjadi tranding topik di dalam negeri saat ini.
"Sorry" Johan kermbali berucap maaf.
"Bosen gue dengernya, bang" Johan yang meminta Andre memanggil itu.
"Dia memang bodoh. Gue tau dia nekat ngelakuin itu untuk nutupin gengsinya. Dia malu kalo sampai ucapan dia itu bohong sampe akhirnya dia bisa ngelakuin hal itu"
"Awalnya gue pikir dia ngelakuin itu karena dia fans gue, dia cemburu ada yang ngasih sesuatu untuk gue" Andre terbahak makanan yang sedang dikunyahnya beberapa muncrat mengenai Johan yang duduk di depannya. Johan sedikit meringis jijik tingkah Andre mengingatkan tingkah absurd adik dan kakaknya di rumah.
"Muncrat, anjir!"
"Sorry sorry"
"Dia ikut nonton pun karena kalah taruhan, boro - boro ngerti dia sepak bola, justru gue penggemar berat lo bang dari jaman lo belum terkenal seperti sekarang. Gue udah punya feeling lo akan jadi pemain yang sukses" ucap Andre menggebu-gebu.
"Btw gue belum ngucapin selamat atas kemenangan lo kemarin. Selamat bang, enggak salah emang gue ngidolain lo" Johan hanya mengangguk kecil mengucapkan terimakasih.
Ponsel Andre yang diletakan di atas meja bergetar ada telpon masuk dari sang Papa.
"Hallo Pa"
"......"
"Oke"
"Ayo balik bang, Kak Adel udah sadar"
*****