Berawal dari Hari Ini
Di dalam sebuah ruang kelas jenjang SMA yang isinya siswa-siswi berusia 17 tahun, tampak seorang siswa duduk sendirian di pojok kiri belakang. Tak ada siapapun di sebelahnya. Hanya dia seoranglah yang menjadi penghuni di barisan belakang itu. Siswa itu bernama Rayenda Pradipta yang biasa dipanggil Rayenda atau Ray. Di saat siswa lain sedang fokus melihat ke arah papan tulis di mana guru Matematika sedang mengajar, Rayenda justru sibuk menengok ke kanan dan ke kiri dengan raut takut.
Rayenda memegang tengkuknya. Dia merinding dan semakin merinding seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa kali dia menengok pada jam dinding yang berada di atas papan tulis. 15 menit lagi bel pertanda pulang sekolah akan berbunyi, tetapi entah mengapa jarum jam itu lama sekali berpindah dari detik satu ke detik yang lain.
“Tenanglah.” Sebuah bisikan yang begitu halus terdengar tepat di telinga kiri Rayenda.
“Haaa …!” teriak Rayenda tiba-tiba sembari berdiri dengan cepat dari bangkunya.
Guru dan teman-temannya spontan menengok ke belakang, melihat dengan bingung, kaget sekaligus kesal pada Rayenda yang baru saja mengganggu kegiatan belajar mengajar itu.
“Berisik, woy! Bikin kaget aja!” kesal Abed, salah satu siswa di kelas itu.
Rayenda yang tadinya ketakutan akibat mendengar bisikan gaib di telinganya, kini berganti dengan merasa takut melihat tatapan tajam dari teman-temannya itu. Dengan gerakan agak kaku, kepala Rayenda melihat ke seisi kelas.
“Apa mereka nggak ngerasain ada sesuatu yang menyeramkan di kelas ini? Apa memang cuma aku yang bisa ngerasain itu? Apa jangan-jangan karena duduk di bangku pojok kiri belakang ini?” batin Rayenda.
“Ada apa, Ray? Kamu baik-baik aja?” tanya seorang siswi dengan rambut sebahu yang masih bisa dikuncir. Namanya Alika, gadis yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang begitu baik pada Rayenda di kelas.
Bibir Rayenda yang bergetar perlahan membentuk sebuah senyuman getir. Lalu, sekali lagi dia melihat pada bangkunya yang tampak semakin menyeramkan itu.
“Kenapa kamu tiba-tiba teriak?” tanya gurunya.
Rayenda tidak langsung menjawab. Dia yakin jawabannya tidak akan bisa diterima oleh akal sehat guru dan teman-temannya.
Jonas, siswa yang duduk di sebelah Abed merobek selembar kertas dari bukunya, meremasnya, kemudian melemparkannya hingga mengenai kepala Rayenda. “Woy, jawab!”
“Jonas, jangan seperti itu pada Rayenda,” ucap sang guru.
“Ta—tadi ….” Rayenda masih saja ragu untuk memberitahu apa yang baru saja terjadi hingga membuatnya berteriak.
“Tadi apa, Rayenda?” tanya gurunya.
“Tadi saya denger ada yang bisik sesuatu ke telinga saya, tapi kenyataannya nggak ada siapa-siapa di deket saya, Bu.”
“Huahaha …!” Tawa Abed dan Jonas pecah. Dua siswa lain yang duduk di belakang mereka yang juga merupakan komplotan dari Abed bernama Vero dan Zian juga ikut tertawa terbahak-bahak.
“Maksud kamu ada hantu di sana, hah?!” ledek Vero.
Rayenda tak menjawab. Kepalanya hanya bisa tertunduk pelan karena merasa semakin takut melihat tampang teman-temannya itu. Dia juga merasa malu karena telah menyebut ‘hantu’. Memangnya siapa yang akan percaya hantu, apalagi di siang bolong seperti ini?
“Huh! Dasar penakut! Angin lewat aja sampe dikira hantu lagi bisikin sesuatu ke telingnya. Hahaha.” Zian kembali tertawa. Beberapa siswa yang lain juga ikut tertawa.
“Rayenda, kamu mau pindah ke meja lain?” tanya gurunya dengan ramah.
Ingin sekali mengangguk, tetapi Rayenda sudah lebih dulu melihat tatapan tajam Abed yang memberikan isyarat untuk tidak menerima tawaran guru Matematika itu.
Rayenda menelan pelan ludahnya lalu dengan berat hati dia menggelengkan kepalanya. Akhirnya, setelah mengumpulkan banyak keberanian, dia kembali duduk di bangkunya. Tentu saja rasa takut akan mendapat gangguan mistis itu masih ada.
“Ya, sudah. Kita lanjutkan materinya, ya.” Guru itu kembali menuliskan beberapa rumus di papan tulis sambil menjelaskannya.
“Please, jangan ada gangguan lagi. Aku malu diliatin sama mereka,” pinta Rayenda dalam hati.
“Hihihi. Tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu untuk beberapa saat sampai semuanya aman.” Lagi-lagi bisikan itu terdengar di telinga kiri Rayenda.
Rayenda terperanjat kaget. Kepalanya dengan cepat menoleh ke sisi kirinya. Matanya membulat sempurna. Dia semakin takut sekarang. Seperti biasa, tak ada apapun di sebelah kirinya. Untung saja kali ini dia tidak berteriak lagi.
Kriiing!
Terdengar helaan napas lega dari mulut beberapa siswa setelah bel pertanda pulang itu berbunyi. Setelah guru berpamitan lalu keluar dari kelas, para siswa bergegas memasukkan alat tulis ke tas mereka masing-masing. Mereka beranjak dari bangku lalu berhamburan dengan tujuan yang sama, keluar dari ruang kelas yang beraroma kurang sedap di mana bau keringat bercampur dan debu-debu yang beterbangan.
“Yang piket besok jangan dulu pulang, ya! Bersihin kelas dulu!” teriak ketua kelas.
Tak sampai lima menit kemudian, tersisa beberapa siswa saja di kelas. Mereka adalah lima orang siswa yang mendapat tugas untuk piket di hari esok, juga ada Abed, Jonas, Vero, Zian dan Rayenda.
“Udah-udah. Nggak usah nyapu. Biar Rayenda aja. Seperti biasa,” kata Abed.
“Yooo. Yang penting ingat, jangan sampe ketua kelas tau,” kata Jonas.
Kelima siswa yang mendapat tugas piket itu langsung semringah kemudian bergegas keluar dari kelas. Di sisi lain, Rayenda diam saja. Ya, seperti yang Abed katakan tadi bahwa seperti biasa, Rayenda yang akan membersihkan kelas, tak peduli jika hari itu bukanlah hari piket Rayenda. Sudah biasa.
Abed melangkah ringan menuju meja Rayenda. Begitu tiba di sana, dia mengetuk-ngetuk meja kayu di pojok kiri belakang itu. “Oy-oy. Inget, ya. Jangan pulang sebelum kelas bersih.”
Dengan sedikit menunduk, kepala Rayenda mengangguk pelan. Melihat kepatuhan Rayenda itu, Abed tersenyum licik lalu berbalik badan dan mulai berjalan menuju pintu kelas di mana Jonas, Vero dan Zian sedang menunggunya untuk pulang bersama.
Sekarang kelas benar-benar sepi. Yang tersisa hanyalah Rayenda yang akhirnya bangkit dari bangkunya, berjalan ke belakang pintu kelas untuk mengambil sapu, kemudian mulai menyapu dari barisan paling belakang.
Tak tak tak!
Samar-samar terdengar langkah kaki seperti orang yang sedang berlari. Semakin lama, semakin jelas terdengar. Namun, Rayenda memilih untuk tidak menghiraukannya, melainkan tetap terus menyapu. Yang dia inginkan hanya satu, segera pergi dari kelas yang menurutnya angker itu.
“Rayenda!” panggil seseorang.
Rayenda menghentikan aktivitas menyapunya dan langsung menoleh pada pintu kelas. Di sana, tampak seorang siswi yang juga adalah bagian dari kelas itu sedang berdiri dengan napas terengah-engah. Alika.
“Lho. Kok kamu belum pulang?” tanya Alika sembari berjalan perlahan memasuki kelas.
“Mau bersihin kelas dulu,” jawab Rayenda.
Alis Alika merapat. “Hari ini atau besok bukannya bukan hari piket kamu, ya?”
Rayenda mengangguk lalu kembali menyapu. Alika terdiam beberapa saat. Dia lalu teringat pada Abed dan kawan-kawannya yang selama ini menjadi pionir dalam melakukan hal tidak menyenangkan pada Rayenda. Mungkin, kali ini Rayenda membersihkan kelas juga karena permintaan keempat siswa nakal itu, pikir Alika.
Alika mengambil sapu di belakang pintu lalu membantu Rayenda membersihkan kelas. Rayenda yang menyadari hal itu lagi-lagi menghentikan aktivitasnya.
“Kamu pulang aja,” suruh Rayenda.
“Kita teman, ‘kan? Jadi biarin aku bantu kamu.”
Rayenda tak bisa membantah. Akhirnya, dia kembali menyapu. Perasaan takutnya pada kelas angker itu juga perlahan berkurang karena hadirnya Alika di sana. Di sisi lain, Alika justru lupa hal apa yang membuatnya kembali ke kelas tadi.
Driiing!
Ponsel Alika berdering, tanda ada panggilan masuk. Alika menghentikan aktivitas menyapunya untuk beberapa saat dan mengangkat panggilan itu. Rayenda bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang Alika bicarakan di telepon itu. Namun, laki-laki itu lagi-lagi memilih untuk tidak menghiraukannya dan tetap fokus membersihkan kelas.
Tidak sampai semenit, Alika menutup teleponnya. “Ray, aku baru ingat. Aku ke sini untuk nyari gantungan kunci aku. Tolong bantu aku, ya.”
Rayenda mengangguk. Untuk kesekian kalinya, dia menghentikan aktivitas menyapunya, lalu mulai mengelilingi kelas untuk mencari di mana gantungan kunci milik Alika itu. Dia memperhatikan dengan detail pada setiap blok lantai yang dilewatinya dan memeriksa tiap-tiap kolong meja.
“Gantungan kuncinya bening dan di dalamnya ada hiasan bunga sakura.” Alika memberikan clue di sela-sela usahanya mencari letak keberadaan gantungan kuncinya.
“Ini bukan?” tanya Rayenda sambil berdiri tegap dengan tangan kanan terangkat. Pada jari telunjuk yang berada di depan wajahnya itu, tampak sebuah gantungan kunci bening dengan hiasan bunga sakura di dalamnya bergelantungan.
Alika langsung semringah dan melangkah dengan semangat menghampiri Rayenda. Gadis itu kemudian mengambil alih gantungan kunci itu dari telunjuk kanan Rayenda.
“Makasih, Ray.” Alika menunjukkan senyuman manisnya pada Rayenda.
Rayenda tersenyum kecil lalu mengangguk lagi. Laki-laki itu memang lebih suka mengangguk dibanding mengatakan ‘iya'.
“Ray, maaf. Aku harus pulang sekarang. Aku udah janji tadi kalo gantungan kuncinya udah ketemu, aku mau langsung pulang.”
Rayenda mengangguk. “Makasih, ya udah bantu aku bersihin kelas.”
“Sama-sama, Ray.” Alika mengembalikan sapu yang sejak tadi dipegangnya ke belakang pintu. Dia lalu melempar senyum pada Rayenda sambil melambaikan tangannya kemudian pergi.
Ya, sekarang kembali lagi pada suasana kelas yang sunyi di mana Rayenda harus kembali menebalkan keberaniannya untuk melawan rasa takutnya. Rayenda yang sudah berada di depan papan tulis, mempercepat gerakannya dalam menyapu sambil beberapa kali menengok pada meja yang berada di pojok kiri belakang. Ah, semakin menyeramkan.
“Hey!”
Rayenda spontan menatap kaget pada mejanya yang berada jauh di belakang sana. Panggilan tadi sepertinya berasal dari sana. Jantung Rayenda berdegup sangat kencang. Dengan tangan bergetar, dia cepat-cepat menyapu deretan lantai yang berada di depan papan tulis itu. Ketika dia tiba di luar dan tinggal menyapu teras, dia menengok ke dalam kelas melihat tasnya masih berada di mejanya.
“Apa sebaiknya aku tinggalin aja tas aku di sana? Tapi ….” Rayenda dilema. Ingin langsung pulang saja tanpa membawa tas, tetapi di dalam sana ada buku-buku di mana ada banyak PR yang harus segera dia kerjakan.