Ketakutan Deinara

1876 Kata
Siang itu sepulang sekolah, tidak seperti biasanya Rayenda melangkah dengan cepat. Napasnya juga cepat entah itu karena lelah atau karena sedang kesal akan sesuatu. “Sayang, pelan-pelan saja. Rumahmu tidak akan lari,” kata Deinara yang terpaksa berjalan dengan cepat untuk menyamai langkah Rayenda. “Aku mau bicarain sesuatu sama kamu. Tapi nggak bisa di sini. Harus di rumah,” jawab Rayenda. “Lho. Kenapa, Rayenda? Di sini saja kita membicarakannya. Mau di sini atau di rumah, jawabanku tidak akan berbeda.” “Bukan itu masalahnya. Kalo bukan di kamar, aku nggak bebas ngobrol sama kamu.” “Ah, jadi kau takut dilihat orang dan takut disangka berbicara sendiri lagi, ya?” “Hem.” “Tapi kau tampak marah. Ada apa?” “Sudah aku bilang nanti di rumah aja.” … Sesampainya di rumah, Rayenda melangkah cepat lalu bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Dia melempar tasnya di atas tempat tidur lalu melonggarkan dasinya. “Apa-apaan ini, Deinara?” tanya Rayenda tiba-tiba yang masih betah berdiri. “Duduk lah dulu, Rayenda. Bicarakan semuanya dengan santai.” Deinara berjalan menjauhi Rayenda lalu duduk di pojok kiri. Rayenda menghela napas panjang lalu duduk di kursi belajarnya. “Apa-apaan ini?” Rayenda mengulang pertanyaannya. “Pertanyaanmu itu mengarah ke mana, Rayenda? Cobalah lebih spesifik.” Rayenda menggaruk keningnya dengan frustasi. “Kenapa kamu datengin Alika dan nakut-nakutin dia?” “Sudah kubilang aku hanya bermain-main, Rayenda.” “Bermain-main dan buat dia sampe sakit?” “Hihihi. Gadis genit itu saja yang terlalu penakut.” “Deinara, ini udah kedua kalinya kamu ganggu Alika. Pertama, saat dia ke sini mau ngerjain tugas. Kamu bisik ke dia bahwa dia akan mati kalo nggak segera pulang dari sini. Kedua, kamu datengin dia malam-malam, ganggu dia sampe dia sakit. Deinara, ini udah keterlaluan.” “Katerlaluan? Gadis genit itu juga keterlaluan. Dia selalu mengganggu kita. Aku tau dia menyukaimu dan itu membuatku takut dia akan merebutmu dariku.” “Tapi dia nggak tau kalo kamu itu ada, Deinara. Bagaimana pun juga, dia tetap nggak bisa disalahin dalam hal ini.” “Kenapa kau begitu membelanya? Sebenarnya sejak lama aku sudah curiga bahwa kau juga menyukai gadis itu.” “Udah aku bilang aku nggak suka sama dia.” “Terus siapa yang kau sukai?” “Kamu, Deinara.” “Benarkah? Kau menyukaiku tetapi di sisi lain kau lebih memihak pada gadis genit itu dibanding aku. Kau bahkan sampai marah seperti ini padaku hanya untuk membela gadis itu. Jujur saja, Rayenda. Kau takut gadis genit itu berada dalam bahaya, kan?” “Iya, Deinara. Aku takut Alika berada dalam bahaya. Aku juga takut Abed dan Zian dalam bahaya. Jadi, berhenti lah bermain-main dengan mereka.” Tampak sekali Deinara sedang menahan tangisnya. “Jadi, sesungguhnya kau tidak benar-benar menyukaiku.” “Aku suka sama kamu, Deinara! Aku cinta sama kamu. Justru karna itu aku marah sama kamu. Aku nggak mau cewek yang aku suka mengusik hidup orang lain. Kalo aku nggak suka sama kamu, aku akan biarin kamu lakuin semua yang kamu mau. Aku nggak akan sepeduli ini sama perbuatan kamu. Apa kamu masih nggak ngerti juga?” Deinara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin tangisannya dilihat langsung oleh Rayenda. Meskipun, isakannya yang terdengar jelas itu sudah menunjukkan bahwa dia sedang menangis. “Aku takut, Rayenda,” kata Deinara dengan suara bergetar. “Aku sadar diri. Aku ini hantu. Sebaik apapun hubungan kita, tetapi setiap detik aku selalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi besok.” Rayenda yang tadinya marah, kini perlahan luluh karena mendengar perkataan Deinara. Apalagi, hantunya itu tumben sekali sampai menangis seperti itu. “Sebenarnya aku sangat membenci perasaanku. Kenapa aku harus jatuh cinta pada manusia? Kenapa aku masih bisa jatuh cinta bahkan setelah aku mati? Sejujurnya, mencintaimu tidak seindah itu, Rayenda. Benar yang dikatakan orang bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu datang beriringan. Ya, aku memang bahagia bisa mengenalmu setelah aku mati. Tapi, aku juga sadar bahwa hubungan kita tidak memiliki masa depan.” Bola mata Rayenda perlahan bergerak ke bawah. Sorot matanya yang sendu itu menatap kosong ke lantai. Jadi, tanpa dia tahu, Deinara yang selama ini selalu terlihat begitu menikmati hari-harinya, sebenarnya juga selalu mengkhawatirkan banyak hal. “Rayenda, andai sainganku bukan manusia, aku pasti tidak akan seposesif ini. Jika ada hantu lain yang menyukaimu, aku tetap yakin akan memenangkan hatimu. Tapi, sainganku ini terlalu berat, Rayenda. Alika, dia adalah manusia yang cantik dan menjadi satu-satunya orang yang selalu mendekatimu, membelamu dan menolongmu.” “Untuk apa kamu pikirin Alika? Jelas-jelas kamu adalah gadis yang aku cintai.” “Ya, tapi, walaupun 100 kali kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, tetap saja aku tidak yakin bahwa aku benar-benar memenangkan hatimu.” “Hah?” “Karna aku ini hantu dan sainganku adalah manusia. Hanya itu masalahnya tapi itu adalah masalah yang besar. Kita tidak akan pernah bersatu sampai kapan pun itu. Aku … bahkan kekuatan terbesar yang ada di dunia ini pun tidak akan mampu membuatku hidup kembali untuk bisa bersama denganmu.” “Nggak perlu kekuatan terbesar, Deinara. Kamu memang nggak bisa hidup kembali. Tapi, aku bisa mati untuk bersatu dengan kamu.” “Rayenda!” Akhirnya, Deinara mau mengangkat kepalanya. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Rayenda lalu bangkit kemudian berjalan mendekati Deinara. Laki-laki itu berjongkok di depan Deinara dan mengusap lembut pipi seputih salju itu. “Kamu itu hantu bodoh, Deinara. Untuk apa kamu pikirin hari esok? Kamu beruntung suka sama aku karna aku nggak terlalu mikirin apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Yang aku tau, aku hidup di hari ini dan aku akan menikmati itu. Masa bodoh dengan hari esok. Yang terpenting, sampai detik ini aku masih mencintai kamu.” Deinara tersenyum. Manis sekali. “Sekarang, berjanjilah dulu bahwa kamu nggak akan ganggu Alika atau orang lain lagi,” suruh Rayenda. “Itu tergantung dari apa yang akan mereka lakukan nanti.” “Ah, ternyata kamu bukan cuma hantu bodoh tapi juga hantu yang menyebalkan.” … Kriiing …. Rayenda meregangkan tubuhnya lalu perlahan membuka matanya. “Hoaammm ….” Dengan rasa agak malas, Rayenda bangkit dari posisi tidurnya dan duduk. Lalu, samar-samar dilihatnya di pojok kiri kamar lagi-lagi tampak sesuatu yang aneh. “Ah, ke mana lagi sih, Deinara? Akhir-akhir ini dia suka banget menghilang.” Dengan langkah gontai, Rayenda keluar dari kamarnya dan langsung ke kamar mandi. Sekitar 10 menit kemudian, laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan handuk yang menggantung di lehernya. Penampilannya kini sudah tampak lebih segar. Saat masuk ke kamar, yang lebih dulu dilihatnya adalah pojok kiri. Alisnya merapat karena Deinara tak kunjung kembali. Rayenda menghela napas panjang lalu membuka lemarinya, mengambil seragam lalu memakainya. “Apa dia bermain-main lagi, ya?” Beberapa saat Rayenda lupa pada pembicaraannya dengan Deinara yang kemarin yang sebenarnya ada sebuah kata kunci di sana yang bisa memecahkan kasus kematian Jonas, Vero dan sakitnya Alika. Tiba-tiba mata Rayenda membesar. Tangannya yang tadi sibuk memasukkan kancing ke lubang yang ada di sisi pinggir seragamnya mendadak terhenti. Napasnya juga cepat ditambah dengan degupan jantung yang tidak karuan. “Deinara bermain-main lagi? Apa jangan-jangan dia ….” … Zian menoleh ke jam tangannya. Pukul 5.45. Dia lalu tersenyum. Setelah tadi malam mengirim pesan pada Alika dan mendapat jawaban bahwa Alika sudah bisa kembali masuk sekolah hari ini membuat Zian sangat bersemangat. Tempo hari Zian mendapati Alika sudah lebih dulu berada di kelas. Kali ini, dia ingin dirinya menjadi yang paling pertama tiba. Dia ingin menyambut Alika dengan senyuman terbaiknya lalu menghabiskan lebih banyak waktu bersama gadis yang disukainya itu. Saat melewati jendela kelasnya, Zian menerawang ke dalam. Keadaan di dalam sana masih agak gelap. Bangku Alika pun masih kosong. Itu artinya, dia berhasil menjadi siswa pertama yang datang. Sambil menyanyikan lagu kesukaannya, Zian melangkah masuk ke kelas lalu meletakkan tasnya di atas meja. Dia kemudian mengamati bangku Alika yang kemarin kosong, hari ini akan kembali ditempati. Ah, dia sangat merindukan gadis itu. Zian lalu teringat pada kejadian kemarin saat dia meminta Rayenda membantunya untuk bisa berpacaran dengan Alika tetapi tak dituruti oleh Rayenda. Zian kemudian menoleh ke meja Rayenda. Meja yang berada di pojok kiri belakang itu tampak memiliki pencahayaan yang paling minim dibanding meja-meja yang lain. Zian tersenyum sedikit lalu keluar dari kelas. Tak butuh waktu lama, dia kembali dengan ember berisi air. Air itu kemudian diguyurkan ke meja dan bangku Rayenda. Tak hanya sampai di situ, Zian menaburi banyak pasir yang tadi juga diambilnya di luar ke atas meja dan bangku Rayenda. Zian tersenyum licik. “Ini mungkin nggak sebanding sama sikap kamu yang kemarin nggak nurut sama aku, Ray. Tapi, seenggaknya ini buat kamu sedikit kerepotan sebelum bisa duduk.” Secara tidak langsung, Zian tidak hanya mengotori tempat duduk Rayenda, tetapi juga tempat Deinara. Wajar saja jika Deinara menatap tajam penuh kebencian pada laki-laki itu. Zian tidak tahu jika di hadapannya kini sedang berdiri Deinara dengan mata merah dan bibir hitamnya ditambah dengan kulit wajah yang urat-uratnya timbul dengan jelas. Zian memegang sisi belakang lehernya. “Huft. Makin dingin aja. Apa bakal hujan ya entar? Semoga Alika bisa nyampe di sekolah sebelum hujan turun.” Zian menyempatkan untuk menendang kaki meja Rayenda sebelum akhirnya dia kembali ke bangkunya dan duduk di sana. “Huft. Aneh banget. Anginnya kenceng tapi rasanya kok pengap gini, sih?” Zian mengambil buku dari dalam tasnya lalu mengipasi punggungnya yang terasa panas. Dia lalu menarik napas dalam-dalam agar mendapat oksigen lebih banyak. … Rayenda cepat-cepat mengikat tali sepatunya sambil beberapa kali melihat pada jam dinding yang berada di ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul 6.15, tetapi Deinara tak kunjung menampakkan dirinya. Ini membuat perasaan Rayenda semakin tidak enak. “Semoga nggak ada hal buruk yang terjadi,” kata Rayenda dengan cemas sambil mempercepat gerakannya. … Di jalan raya yang masih sepi dari kendaraan itu, Rayenda berlari sekencang yang dia bisa. Sesekali dia menoleh ke sisi kirinya, berharap ada Deinara di sana. Namun, tetap saja hantu itu masih belum terlihat. “Ck. Deinara, kamu di mana, sih? Setelah obrolan panjang kita kemarin, jangan bilang kalo kamu masih cemburu sama Alika.” Ya, Alika! Sambil terus berlari, Rayenda merogoh kantung celananya dan mengambil ponselnya dari dalam sana. Cepat-cepat tangannya mencari nomor Alika dan langsung menghubungi gadis itu begitu menemukannya. Tit … tit … tit …. “Alika, ayo dong angkat telponnya.” “Halo, Ray,” jawab Alika kemudian dari seberang sana. Langkah kaki Rayenda spontan berhenti. “Ka--kamu di mana sekarang?” “Di rumah, Ray. Baru aja mau berangkat. Kenapa? Mau bareng? Aku jemput kamu sekarang, ya.” “Eh, nggak-nggak. Kamu nggak apa-apa, kan?” Di seberang sana Alika tersenyum. Tumben Rayenda menunjukkan perhatiannya seperti ini. “Alika?” panggil Rayenda karena tak kunjung mendapat jawaban. “Iya, Ray. Aku baik-baik aja. Makanya aku udah bisa masuk sekolah lagi sekarang.” Rayenda menggigit bibir bawahnya. ‘Berarti Deinara nggak lagi ganggu Alika. Jadi, ke mana Deinara? Apa ada orang lain yang dia ganggu?’ batin Rayenda. Bola mata Rayenda bergerak ke samping, mencoba untuk mengingat-ingat dengan siapa lagi kira-kira Deinara memiliki masalah. Tiba-tiba, mata Rayenda melotot. “Abed dan Zian!” “Hah? Abed dan Zian? Kenapa sama mereka, Ray? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Alika. “Daaa, Alika.” Rayenda langsung mematikan ponselnya dan kembali berlari kencang menuju sekolah. “Please, Deinara. Jangan lagi.” ~bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN