Dalam keadaan terpejam, bola mata Rayenda tampak bergerak ke kanan dan kiri secara perlahan karena samar-samar mendengar lagu yang entah sudah berapa kali berganti. Lagu satu belum selesai, tiba-tiba berganti dengan lagu lain. Begitu seterusnya. Lagu itu sepertinya berasal dari radionya karena beberapa kali terdengar suara gerimis ala radio. Karena merasa terganggung, Rayenda membuka perlahan matanya yang terasa berat itu. Sebenarnya dia masih ingin tidur. Hujan juga tampaknya masih betah mengguyur kota Jakarta itu, walaupun kini tinggal rintikannya yang terdengar.
“Ha!” teriak Rayenda tiba-tiba dan spontan duduk di atas tempat tidur dengan bersandar di tembok. Dadanya tampak naik-turun dengan napas yang terrengah-engah karena saking kagetnya.
Di depan Rayenda tampak gadis yang tadi dia suruh menunggu di ruang tamu sedang duduk melantai di depan radio sambil tersenyum dan mengayunkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya gadis itu menyukai lagu yang kini sedang disajikan oleh salah satu saluran radio.
“Ah!” Rayenda menepuk jidatnya. Karena terlalu mengantuk, dia sampai lupa pada gadis itu. “Maaf. Kamu pasti kedinginan. Tunggu di sini. Aku mau ambil handuk untuk kamu dulu.”
Rayenda bangkit dari tempat tidurnya, tetapi tiba-tiba berdiri diam ketika melihat gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak membutuhkan handuk,” ucap gadis itu.
“Lho. Nanti kamu makin kedinginan.”
“Aku selalu kedinginan seperti ini dan aku sudah terbiasa. Walaupun aku memakai handuk, jaket atau apapun itu, rasa dinginnya akan tetap seperti ini.”
Alis Rayenda merapat. Lagi-lagi gadis itu mengucapkan kalimat yang aneh dan memaksa Rayenda berpikir keras untuk mengartikan maksud kalimat itu.
Mata Rayenda tiba-tiba melotot ketika baru menyadari sesuatu. “Ka—kamu ada di kamar aku. Si—siapa yang izinin kamu?”
“Kau.”
“Eh? Kapan?”
“Tadi kau bilang aku boleh masuk.”
“Kapan?”
“Waktu kau melihatku berdiri di depan rumahmu.”
Rayenda menepuk jidatnya. “Aku izinin kamu masuk ke rumah aku, bukan kamar aku.”
“Kamarmu juga bagian dari rumahmu, kan?”
Rayenda menghela napas panjang, mencoba sabar menghadapi gadis asing di depannya ini. “Aku bukannya bermaksud nggak sopan, tapi tolong kamu keluar dari kamar aku sekarang. Mama aku bakal marah kalo sampe tau ada cewek di sini.”
Gadis itu tersenyum. “Dia tidak akan tahu.”
“Eh? Kok bisa? Kalo dia masuk ke sini, dia pasti bakal tau.”
Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tenang.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka dan tampak seorang wanita tengah berdiri di depan sana. Mamanya Rayenda. Rayenda terkejut bukan main dan cepat-cepat mengambil selimutnya lalu merentangkan tangannya untuk menutupi gadis itu dengan selimut yang dibentangkannya.
Mama mengernyitkan alisnya. “Ada apa, Rayenda?”
“Ng—nggak ada apa-apa, Ma,” jawab Rayenda panik.
“Apa yang ada di balik selimut itu?”
Mata Rayenda seketika membelalak. Dia langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak ada apa-apa.”
“Kalo nggak ada apa-apa, terus kenapa ditutup kayak gitu?”
Jantung Rayenda berdegup semakin kencang. Dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang.
“Rayenda, Mama tau nggak ada apa-apa di sana. Tadi waktu Mama buka pintu kamar kamu, di sana emang kosong. Tapi sikap aneh kamu ini buat Mama curiga.”
Rayenda menelan ludahnya. Berarti tadi tangannya sudah lebih dulu berhasil menyembunyikan gadis itu sampai mamanya tidak melihatnya.
“Tidak apa-apa, Rayenda. Singkirkan saja selimutnya. Dia tidak akan melihatku,” kata gadis itu dari balik selimut.
Rayenda terkekeh karena mulai merasa dipermainkan oleh gadis itu. Bagaimana bisa gadis dengan ukuran tubuh yang tidak bisa disebut kecil itu tidak terlihat oleh mamanya? Tidak masuk akal.
“Rayenda,” panggil mama karena melihat Rayenda yang masih saja bertingkah aneh dengan tetap membentangkan selimutnya.
Gadis itu tiba-tiba keluar dari selimut dan membuat Rayenda semakin panik dengan debaran jantung yang tidak karuan.
“Habislah aku,” bathin Rayenda.
Rayenda menundukkan kepalanya sambil menutup mata. Dia tidak siap melihat ekspresi marah mama.
Mama berjalan menghampiri Rayenda dan memegang bahunya. “Kamu kenapa sebenarnya?”
“Eh?” Rayenda menegakkan kepalanya. Mama sudah berada di sebelahnya, tetapi tidak menghiraukan gadis yang berada di dekatnya? “Mama nggak marah?”
“Hem? Kenapa Mama harus marah?”
“Ka—karena ada dia di sini.”
“Siapa?”
Telunjuk kanan Rayenda yang bergetar mengarah pada gadis itu. Dia tidak yakin mama benar-benar tidak masalah dengan keberadaan gadis itu.
“Siapa yang kamu tunjuk Rayenda? Tempat tidurmu?”
“Eh?” Rayenda semakin bingung. “Aku nunjuk gadis itu.” Telunjuk Rayenda masih betah mengarah pada gadis itu.
“Gadis apa, hah? Yang kamu tunjuk itu tempat tidurmu.”
Alis Rayenda merapat sambil bertanya-tanya ada apa dengan mama? Bagaiamana bisa mama juga terlihat bingung dan bersikeras bahwa tak ada seorang gadis di kamar Rayenda?
“Sudahlah. Berhenti bersikap aneh dan bergegaslah ke ruang makan. Makanan sudah siap.” Mama kemudian keluar dari kamar Rayenda.
Rayenda menatap bingung pada gadis yang berada di sebelahnya. “Kok bisa?”
“Sudah kubilang dia tidak akan bisa melihatku karena aku tidak menginginkannya. Sementara kau, kau bisa melihatku karena aku menginginkannya.”
Rayenda tertawa frustasi. “Aku nggak ngerti.”
“Aku ini makhluk halus. Mengapa sulit sekali membuatmu paham?”
“A—apa?! Jangan bercanda kamu!”
Seketika angin berembus kencang dan masuk ke kamar Rayenda melalui jendela yang terbuka dan membuat bulu kuduk Rayenda berdiri.
“Tadi mamamu tidak bisa melihatku. Apa itu belum cukup untuk membuatmu percaya?”
“Nggak mungkin.” Rayenda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih tak bisa mempercayai ini. Ini … benar-benar mustahil.
Rayenda berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi pada gadis itu. Beberapa kali dia menengok ke belakang. Sudah dia duga bahwa gadis itu akan mengikutinya. Rayenda menghela napas panjang karena lelah sekaligus kesal telah dipermainkan.
Tidak sampai semenit, akhirnya Rayenda dan gadis itu tiba tepat di depan meja makan. Di sana tampak sudah duduk rapi kedua orang tua dan ketiga adik Rayenda.
“Rayenda, kenapa berdiri aja? Ayo, duduk!” ajak papa.
“Co—coba kalian liat siapa yang ada di sebelah aku,” pinta Rayenda dan tidak menuruti papa yang baru saja menyuruhnya duduk.
Seluruh anggota keluarga yang duduk melingkari meja makan itu melihat satu sama lain dengan raut bingung. Mereka lalu kembali melihat Rayenda yang wajahnya tampak serius sekali.
“Nggak ada siapa-siapa di sebelah Kakak,” jawab Rinda, si bungsu.
“Masa, sih? Hahaha.” Rayenda tertawa garing.
“Sekarang kau percaya, kan?” tanya gadis itu.
Rayenda melihat gadis itu. “Nggak. Pasti kamu udah kerja sama sama keluarga aku, ‘kan? Atau aku mimpi? Iya. Aku pasti mimpi. Aku tadi ketiduran dan aku pasti belum bangun.”
Rayenda memukul-mukul pipinya. Matanya memejam kuat menahan rasa sakit pada pipinya.
“Kak Rayenda ngomong sama siapa?” tanya Rama, adik pertama Rayenda.
Rayenda tersentak mendengar pertanyaan Rama dan langsung membuka matanya. Kedua telunjuknya mengarah ke sisi kirinya. Alisnya terangkat, mencoba menyadarkan Rama bahwa di sebelah kirinya benar-benar ada orang lain.
“Apa, sih, Kak?” Ria, adik kedua Rayenda semakin bingung.
“Rayenda, kayaknya kamu kecapean. Lebih baik sekarang kamu makan, setelah itu langsung istirahat,” suruh mama.
“Ta—tapi gadis di sebelah aku ini .…”
“Udahlah, Rayenda. Jangan mengada-ada terus.”
***
Jam sudah menunjukkan pukul 09.50 malam. Tampak Rayenda sedang duduk di depan meja belajarnya. Wajahnya memang menghadap buku, tetapi ekor matanya melirik gadis misterius yang menyebut dirinya sebagai makhluk halus sedang menatap foto Rayenda sambil tersenyum.
“Kau bisa tanyakan apapun yang ingin kau ketahui dariku. Kenyatannya, aku tahu banyak tentangmu, tetapi kau tak mengetahui apapun tentangku. Ini kesempatanmu untuk tahu tentang diriku,” kata gadis itu yang masih fokus menatap foto Rayenda.
Rayenda menopang dagunya pada tangannya yang berada di atas meja belajar. Ya, dia akui bahwa gadis itu memang hebat. Tidak hanya mampu berpindah tempat dengan cepat, gadis itu bahkan bisa membaca pikiran Rayenda yang memang ingin tahu banyak hal tentangnya. Setelah melihat bagaimana ekspresi bingung keluarganya saat dia berusaha menunjukkan bahwa ada gadis itu di rumah ini, perlahan semuanya mulai masuk akal jika gadis itu memanglah makhluk halus.
“Jadi, kamu beneran hantu?” Rayenda perlu memastikannya sekali lagi.
“Iya, Rayenda.”
“Siapa nama kamu?”
“Aku suka nama Deinara.”
“Jadi namamu Deinara?”
“Panggil saja aku seperti itu.”
Rayenda kembali menatap bukunya. “Kamu itu hantu, tapi kenapa aku nggak takut, ya?”
“Kau sudah takut ‘kan saat berada di kelas tadi siang, di perjalanan pulang dan saat keluargamu tidak bisa melihat keberadaanku?”
“Iya, tapi harusnya aku masih takut sampai sekarang. Apalagi baru sekarang aku percaya bahwa kamu adalah hantu.”
“Mungkin karena aku memilih untuk terlihat cantik di depanmu.”
“Hah?” Rayenda kembali menatap gadis bernama Deinara itu.
Deinara berhenti menatap foto Rayenda dan berganti dengan menatap Rayenda yang nyata sambil tersenyum. “Aku bisa mengganti wujudku sesuai keinginanku. Untukmu, aku memilih wujud yang seperti ini.”
Ya, Deinara memang cantik, bahkan penampilannya terlalu cantik dan indah untuk disebut hantu. Kalau saja sejak awal Rayenda tahu bahwa bisikan di kelas yang selama ini dia dengar berasal dari sesosok hantu secantik Deinara, mungkin dia tidak perlu berteriak sampai membuat seisi kelas menertawakannya karena yang dia tahu selama ini bahwa semua hantu pasti menyeramkan. Yah, meskipun dia tidak pernah melihat hantu asli yang menyeramkan. Hanya di TV.
“Kau tau mengapa aku memilih wujudku yang cantik untuk kau lihat?” tanya Deinara dan membuat Rayenda yang tadi sempat melamun kini kembali tersadar lalu menggeleng untuk menjawab pertanyaan Deinara.
“Karena aku menyukaimu. Tunggu. Em, mungkin aku sudah berada di fase mencintaimu. Aku rasa, kau juga akan menyukaiku jika aku secantik ini,” lanjut Deinara.
“Eh?!” teriak Rayenda yang kaget setengah mati. Dia dicintai oleh hantu? Tidak-tidak. Ini terlalu menyeramkan.
Rayenda menutup mulutnya yang masih menganga menggunakan tangan kanannya. Dengan raut panik, dia melihat pada pintu kamarnya yang tertutup. Suaranya yang begitu keras tadi mungkin saja akan memancing keluarganya untuk datang ke kamarnya. Hampir semenit berlalu, tetapi tak ada tanda-tanda akan ada orang yang mendatangi kamarnya. Rayenda lalu kembali melihat pada Deinara.
“Kamu nggak capek, ya buat aku kaget terus? Aku juga capek ngomong ‘eh’ terus.” Rayenda agak kesal.
“Hihihi. Maafkan aku. Tetapi sungguh aku semakin menyukaimu setiap kali melihatmu terkejut.”
Rayenda menarik rambutnya karena frustasi. Dia merasa sudah gila. Bayangkan saja tiba-tiba ada gadis yang mengaku sebagai makhluk halus dan menyukai dirinya.
Rayenda menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Oke. Ini udah malam. Udah waktunya tidur.” Rayenda berjalan ke tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Di sisi lain, Deinara duduk di pojok sambil terus menatap Rayenda dengan senyuman.
“Kamu juga tidur aja,” suruh Rayenda yang merasa risih ditatap oleh Deinara.
“Kau kira hantu perlu tidur?”
“Tau, ah!”
Rayenda membalikkan badannya menghadap tembok. Dia harap, ini memang mimpi. Kejadian hari ini terlalu aneh disebut sebagai kenyataan. Rayenda yakin, besok pagi ketika dia bangun, semuanya akan kembali seperti semula. Dia yakin tidak akan melihat hantu itu lagi.