“Bi, aku ke toilet sebentar ya ... kamu duluan ke ruang tunggu.” “Gue anterin!” “Enggak usah, tunggu aja di sana ... temen-temen kamu udah di dalem ... nanti aku nyusul.” “Beneran kamu enggak apa-apa?” Ya ampun Akbi, ya enggak mungkin juga Bee kenapa-kenapa. Bee cuma mau pergi ke toilet di bandara yang terjamin keamanannya karena di jaga ketat di setiap penjuru, bukan mau pergi perang. “Ya udah, kalau ada apa-apa telepon gue!” Kalimat perhatian itu lagi yang pernah Bee dengar diucapkan untuk Anggit dan kini ia sering mendapatkannya. “Iya ... sayang,” balas Bee melirih kemudian buru-buru pergi. Kedua sudut bibir Akbi tertarik ke atas membentuk sebuah lengkung senyum. Perempuan itu munafik, selalu mengatakan yang sebaliknya dari apa yang ia rasakan. Bangun tidur tadi Bee memi

