Sembilan

1271 Kata
“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Nathan pada Dokter yang melakukan pemeriksaan Rachel. “Untuk mualnya sudah tidak ada, hanya saja anemianya masih belum stabil. Pasien harus banyak-banyak istirahat dan makan yang banyak. Semoga rasa mual dan gerdnya tidak kambuh lagi. Saya sudah meresepkan beberapa obat dan antibiotiknya,” jelas Dokter di sana. Nathan mengangguk paham, matanya sesekali melirik ke arah Rachel yang tengah duduk di ranjang, mendengarkan percakapan mereka dengan ekspresi datar. "Jadi, kapan Rachel bisa pulang, Dok?" tanya Nathan lagi. Dokter melihat catatan medis Rachel sebelum menjawab, "Jika kondisi anemianya membaik dalam satu atau dua hari ke depan, dia bisa pulang. Tapi tetap harus menjaga pola makan dan istirahat, jangan sampai kelelahan." Nathan menghela napas lega, lalu menatap Rachel penuh perhatian. "Dengar itu, Hel? Kamu harus makan lebih banyak dan jangan membantah kalau aku merawatmu nanti." Rachel hanya mendesah pelan, tidak ingin berdebat. Dokter tersenyum kecil melihat interaksi mereka. "Baiklah, kalau ada keluhan lain, jangan ragu untuk panggil perawat atau langsung hubungi saya." "Terima kasih, Dok," ucap Nathan tulus. Setelah dokter pergi, suasana di ruangan kembali hening. Nathan menoleh ke arah Rachel yang tampak sedang berpikir. "Kamu dengar kan, Hel? Aku nggak akan biarkan kamu sakit lagi," ujar Nathan lembut. Rachel menatap Nathan, perasaannya masih campur aduk. Tapi untuk saat ini, ia hanya bisa diam dan menerima perhatian Nathan, meskipun hatinya masih belum yakin apakah ia bisa percaya lagi. “Aku mau tebus obat dulu. Kamu tidak apa-apa sendirian di sini, kan?” tanya Nathan. “Iya, aku bisa sendiri,” jawab Rachel. “Katanya sih Tante juga akan segera datang ke sini. Semoga cepat datang,” ucapnya. “Iya.” Nathan bangkit dari tempat duduknya, mengambil dompet dan ponselnya sebelum melangkah menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Rachel. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, ya," katanya. Rachel hanya mengangguk pelan, tidak ingin menatap Nathan terlalu lama karena hatinya masih dipenuhi kebingungan. Setelah Nathan pergi, Rachel menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, menghela napas panjang. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Tentang Nathan, tentang hubungannya, dan tentang dirinya sendiri. Tidak butuh waktu lama, pintu kamar rumah sakit terbuka kembali. Rachel menoleh, mengira itu Nathan, tapi ternyata sosok yang muncul adalah Tante Laela. "Rachel!" suara lembut terdengar begitu hangat. Wanita itu segera mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu menggenggam tangan Rachel. "Tante, kenapa baru datang?" tanya Rachel pelan. "Maaf, ya. Tante tadi siapin makanan dulu buat di rumah. Kamu gimana sekarang?" tanya Laela khawatir, matanya penuh kasih sayang. Rachel tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, Tante. Cuma sedikit lemas." Laela mengusap punggung tangan Rachel dengan lembut. "Syukurlah. Tante khawatir sekali." Rachel mengangguk, lalu kembali menyandarkan kepalanya. Namun, sebelum ia bisa berbicara lagi, Laela justru bertanya sesuatu yang membuatnya terdiam. "Nathan gimana? Dari tadi dia di sini nemenin kamu?" Rachel menatap ibunya sejenak sebelum menjawab, "Iya, dia di sini." Laela menghela napas. "Tante bisa lihat kalau dia benar-benar peduli sama kamu, Hel." Rachel terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri masih ragu, masih takut, dan masih bertanya-tanya apakah Nathan benar-benar sudah berubah atau ini hanya sementara. “Jangan terlalu keras kepala. Mungkin kali ini, dia akan berubah. Hel, apa kamu tidak berniat menceritakan kondisimu yang sebenarnya? Terutama trauma berat yang kamu alami,” ucap Laela di sana. Rachel menggigit bibirnya, menundukkan kepala. Trauma itu bukan sesuatu yang mudah baginya untuk dibicarakan, bahkan pada dirinya sendiri. Selama ini, ia memilih mengubur semuanya, berharap luka itu akan sembuh dengan sendirinya. "Tante... aku nggak tahu harus mulai dari mana," gumam Rachel pelan. Laela menggenggam tangan Rachel lebih erat, memberi kehangatan yang menenangkan. "Mulailah dari yang paling mudah buat kamu ceritakan. Kamu nggak sendirian, Hel." Rachel menatap Laela dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia ingin percaya, ingin melepaskan beban di hatinya. Namun, ketakutan itu masih ada. "Bagaimana kalau dia tetap sama? Bagaimana kalau ini cuma sementara, Tante?" suara Rachel nyaris bergetar. Laela menghela napas panjang. "Itu memang risiko, Nak. Tapi sampai kapan kamu mau terus hidup dalam ketakutan? Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan, dan kamu juga berhak memberikan kesempatan. Bukan buat dia, tapi buat dirimu sendiri." Rachel terdiam. Kata-kata Laela menamparnya dengan lembut, menyadarkannya bahwa mungkin, hanya mungkin, ia sudah terlalu lama membiarkan luka masa lalu mengendalikan hidupnya. Namun, apakah ia benar-benar siap menghadapi semuanya? * “Loh, Tante sudah datang?” tanya Nathan saat masuk ke ruangan Rachel dengan menenteng kantong keresek berisi obat. “Iya, Tante datang satu jam yang lalu,” jawab Laela. “Kalau kamu mau pulang dulu untuk membersihkan diri, gak apa-apa pergilah. Tante akan nemenin Rachel di sini,” tambah Laela. Nathan hanya tersenyum dan berjalan mendekati Rachel. “Makanannya belum datang, ya?” tanya Nathan yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Rachel. “Minum obat yang sebelum makan dulu, ya,” ucapnya membantu menyiapkan obat untuk diminum oleh Rachel. Dan Laela terus memperhatikan perhatian Nathan pada Rachel. Laela tersenyum tipis, memperhatikan bagaimana Nathan dengan telaten menyiapkan obat untuk Rachel. Gerak-geriknya penuh perhatian, jauh berbeda dari pria yang dulu dikenalnya. Rachel menerima gelas air yang diberikan Nathan, lalu menelan obatnya dengan perlahan. Matanya melirik sekilas ke arah Nathan, masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum berani ia ungkapkan. “Kamu mau aku pesankan makanan lain?” tanya Nathan lembut. Rachel menggeleng. “Nggak perlu. Tadi aku sudah makan bubur.” Nathan mengangguk, lalu membenarkan selimut Rachel dengan gerakan lembut. “Kalau butuh apa-apa, bilang saja.” Laela menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka suara. “Nathan, boleh Tante tanya sesuatu?” Nathan menoleh. “Tentu, Tante. Tanya saja.” “Kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya dengan Rachel?” Pertanyaan itu membuat Nathan terdiam sesaat. Ia menatap Rachel yang menunduk, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Laela. “Iya, Tante. Aku sadar aku banyak salah selama ini, dan aku nggak akan menyalahkan Rachel kalau dia masih ragu. Tapi aku benar-benar ingin menebus semuanya.” Laela mengamati ekspresi Nathan, mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kesungguhan. Rachel, yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat wajahnya. “Kalau aku tetap nggak bisa percaya sama kamu, gimana?” Nathan menatapnya dalam, lalu tersenyum kecil meskipun ada kesedihan di matanya. “Aku nggak akan maksa kamu, Hel. Tapi aku akan tetap ada di sini, selama kamu mengizinkan.” Jawaban itu membuat d**a Rachel terasa semakin sesak. Ia tidak tahu harus bagaimana. “Tante harap, kalian berdua bisa bicara dengan kepala dingin lagi. Tante tahu, kalian masih saling mencintai, jadi bicaralah dan ambil solusi terbaik. Tante tidak ingin ikut campur dengan hubungan rumah tangga kalian, tapi Tante harap, kalian tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan," ucap Laela. “Hel, terkadang berdua lebih baik dibanding sendirian.” Rachel meremas tangannya sendiri mendengar perkataan Laela padanya. Rachel tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menatap tangannya yang saling meremas seolah mencari ketenangan dalam kegelisahannya. Nathan menunggu, tidak mendesak. Ia tahu Rachel butuh waktu, dan kali ini, ia berjanji tidak akan memaksa. Laela mengusap lembut punggung tangan Rachel. “Tante nggak akan memihak siapa pun. Tapi, Hel, jangan biarkan rasa sakit masa lalu menutup peluang untuk masa depan yang lebih baik.” Rachel menarik napas dalam, lalu mengangkat wajahnya, menatap Nathan yang masih setia menunggu jawaban. “Aku masih butuh waktu,” ucapnya lirih. Nathan tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan menunggu, seberapa lama pun itu.” Laela menghela napas lega. Setidaknya, percakapan ini tidak berakhir dengan pertengkaran seperti sebelumnya. “Tante harap, apa pun keputusan kalian nanti, itu adalah yang terbaik,” ucap Laela lembut. Rachel menatap Laela sejenak sebelum akhirnya kembali bersandar. Ia masih belum yakin dengan perasaannya, tapi untuk saat ini, ia membiarkan segalanya mengalir. Masih banyak keraguan dan ketakutan di hati Rachel untuk saat ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN