Suasana rapat terasa dingin dan kering siang bolong itu. Mejanya besar, panjang, dan mengkilap. Kualitas kursinya pun tidak kalah baik, tetapi kosong. Hanya lima kursi yang terisi oleh lima orang penting.
Jari panjang dan tegas Seo Jun mematikan proyektor dengan satu tombol, kemudian membuka tirai-tirai putih dengan tombol lainnya. Seketika itu juga ruangan menjadi terang oleh cahaya matahari yang menembus dinding kaca.
Pria berwajah tegas dan datar itu mengambil duduk di kursinya, sendirian menghadap empat orang berpengaruh di negeri ini. Benar, Seo Jun baru saja paparan di hadapan empat algojo penting. Para karyawan biasa menatap takjub dirinya. Bagaimana ia yang berusia dua puluhan berani berhadapan dengan sosok penting yang usianya terpaut jauh darinya. Namun, Seo Jun sendiri menganggap mereka hanya anak kecil.
Mereka mengadakan pertemuan dalam rangka membangun relasi antara perusahaan Golden Child yang bergerak di bidang pariwisata dengan pemerintah untuk menarik wisatawan asing dan memajukan pelayanan wisata di negeri mereka.
“Itu gagasan yang sangat bagus dan akan menjadi proyek besar di kemudian hari,” komentar salah seorang perwakilan dari pemerintah pusat.
“Saya juga memiliki pendapat yang sama. Ada beberapa hal yang harus diperjelas, tetapi itu takkan berpengaruh pada gambaran proyek ini secara keseluruhan. Mungkin kami bisa mempertimbangkan setelah mengajukan beberapa pertanyaan.” Seorang yang tampaknya paling tua dan kawakan di antara yang lain angkat bicara. Rambutnya sudah memutih dan terkikis di beberapa daerah, membuatnya tampak memiliki dahi yang lebar.
Seo Jun tersenyum bangga seolah ia pantas mendapat pujian itu dan tidak merasa terintimidasi oleh prestasi maupun jam terbang mitra kerjanya. “Silakan ajukan pertanyaan apa pun. Saya akan menjawab dengan jujur dan bertanggung jawab,” katanya tegas.
Pria paruh baya yang lain angkat bicara. “Kami tidak pernah meragukan kinerjamu sebagai CEO perusahaan, tetapi …” Pria paruh baya itu menggeliat gusar di kursi. Intonasinya menunjukkan bahwa dia ragu untuk menuntaskan kalimatnya. “Apa … kau selalu bekerja sendiri?”
Senyum di bibir Seo Jun seketika pudar. Ia mengetuk-ngetuk ujung pulpen hitam berkilaunya pada lembar kertas rincian presentasi. Matanya tampak awas, seolah ia berpikir dengan amat hati-hati sebelum menjawab. Tangannya terasa gatal hendak mengendurkan ikatan pada dasi dan kancing kemeja, tetapi ia masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan senonoh itu di rapat penting ini. “Benar. Apakah ada masalah dengan itu?”
Keempatnya saling melirik seolah menyuruh satu sama lain untuk lanjut berbicara. “Rupanya rumor itu benar,” sahut pria yang sejak tadi bungkam. Ia mengenakan kacamata yang tampak kebesaran untuk bingkai wajahnya. “Saya pernah mendengar bahwa sejak menjabat jadi CEO, kau tidak pernah mempunyai satu sekretaris pun.”
Menit demi menit berjalan amat lambat dan Seo Jun semakin tidak tahan duduk di kursinya, dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak berkaitan sama sekali dengan topik rapat mereka kali ini. “Itu benar bahwa saya tidak pernah merekrut seorang sekretaris, tetapi saya sama sekali tidak kerepotan mengurus perusahaan ini sendirian.”
Seseorang yang menjadi perwakilan pemerintah yang menjawab, “Bagaimanapun …, ini adalah proyek besar yang akan menyita waktu dan ada resiko besar yang harus ditanggung jika proyek ini gagal. Maka dari itu, kami dari pihak pemerintah sudah menyiapkan seorang sekretaris yang kredibel. Saya yakin dia sedang menunggumu di luar ruangan.”
Di koridor depan ruang rapat, seorang wanita berambut hitam panjang menunggu dengan gusar. Ia menatap cemas ke arah pintu yang tertutup rapat, mencoba menduga-duga kapan mereka akan memanggilnya masuk. Beberapa puluh menit lalu, Kim Da Mi ditelepon oleh seorang utusan pemerintahan untuk mendatangi gedung perusahaan Golden Child. Katanya, ia akan menemui pria baru untuk dilayani.
“Kami akan menyetujui kerja sama ini jika kau mau mengambil seorang sekretaris untuk mendampingi dalam proyek ini,” ujarnya serius dan penuh pertimbangan.
Seo Jun mendecakkan lidah, tersenyum sinis, dan seolah reputasinya tidaklah penting, pria itu memberikan tatapan menantang pada keempat algojo di hadapannya.
“Saya akan menawarkan proyek ini kepada pihak lain jika kalian tidak bisa menerima ketentuan saya!”
Tubuh wanita itu berjengkit kaget begitu mendengar ribut-ribut dari balik pintu. Itu pastilah calon atasan yang harus ia layani. Lelaki muda di sampingnya yang merupakan bawahan Ri Seo Jun menghela napas panjang, kemudian mengacak rambut frustrasi. “Lihat, dia memulainya lagi,” keluh pemuda itu.
Da Mi menelan ludah kelat.
“Saya tetap tidak akan mengambil seorang sekretaris, atau wakil, atau asisten, atau cecunguk apa pun itu. Rapat selesai!” hardik seseorang disusul terbukanya pintu ruang rapat secara tiba-tiba.
Sontak Kim Da Mi terlonjak bangun. Tatapan terkejutnya beradu pandang dengan sorot mata dingin dan menyeramkan Seo Jun. Refleks, Da Mi tersenyum. Tanpa buang waktu, pria itu memalingkan wajah dan berlalu pergi menjauhi ruangan.
“Aku tahu hal ini akan terjadi,” gumam pemuda di sisi Da Mi. Wajahnya tampak kusut seperti kemeja putihnya, lelah dengan hiruk-pikuk perusahaan dan CEO yang semena-mena. “Dia selalu temperamen kalau soal sekretaris. Tetapi, hari ini entah mengapa dia meledak, meledak seperti bom yang menghancurkan segalanya.”
Begitu punggung Seo Jun tidak terlihat lagi, Kim Da Mi berjalan melewati ambang pintu ruang rapat, mengecek keadaan di dalam ruangan tempat bom itu meledak. Raut wajah mereka tampak kesal dan terkejut. “Apa ada masalah?” tanyanya memastikan.
“Yah, seperti yang kita duga, dia menolak untuk mengambil seorang sekretaris,” ujar juru bicara pemerintah dalam rapat ini. Dia bangkit dari kursi dan membereskan jas abu-abunya.
“Padahal gagasan dan idenya sangat cemerlang, akan menghasilkan banyak benefit. Mengapa dia sampai merelakan kerjasama ini untuk seorang wanita dan pengalaman kelam masa lalunya?” cibir seorang pria yang lain. Mereka semua melupakan etiket di ruang rapat dan mengeluh kesal.
“Pe–pengalaman kelam masa lalu?” ulang Kim Da Mi mengernyitkan alisnya dalam. Wajah gadis itu tampak cantik dan manis. Da Mi adalah perpaduan yang tepat dari kecantikan, welas asih, dan kepandaian. Manik matanya sehitam jelaga dan memancarkan tegas dan menantang. Bibirnya tipis dan kemerahan. Senyumnya mampu membuat keadaan sesulit apa pun menjadi lebih indah. Namun, bingkai dan bentuk wajah gadis itu meninggalkan kesan pemberani.
“Yah, aku tidak tahu persis,” ujar seseorang yang paling muda, “tapi rumor mengatakan begitu. Yang jelas, aku takkan menandatangani perjanjian ini jika dia tidak merekrut seorang sekretaris,” tegasnya.
Kim Da Mi termenung. Wajah cantik dan bersihnya memunculkan guratan-guratan serius yang membuatnya tampak lebih dewasa. “Saya akan mencoba bicara dengannya.”
Hak sepatu hitam wanita itu terantuk-antuk di atas lantai koridor. Belum sempat ia berjalan lebih jauh, bawahan Seo Jun sudah menghalangi jalannya.
“Tunggu, dia bukan orang yang mudah ….” Pemuda itu menggeleng, mengisyaratkan Da Mi agar tidak melangkah lebih jauh jika gadis itu masih ingin melihat matahari.
Kim Da Mi mengulas senyum penuh percaya diri. Ia mengedipkan sebelah mata. “Perempuan memiliki caranya sendiri,” ujarnya, kemudian melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
***
Beberapa menit, Kim Da Mi sudah mengetuk pintu ruangan Ri Seo Jun tiga kali. Wanita itu hendak mengetuk lagi ketika tiba-tiba pintu terbuka dan memunculkan sesosok pria tampan. Postur tubuhnya tegap terbalut setelan jas formal dan dasi. d**a bidangnya tampak mengintimidasi, tetapi leher dan wajah itu menyiratkan ketiadaan energi ataupun semangat dalam jiwanya. Kulit Seo Jun seputih vampir dan matanya menyiratkan kekosongan batin.
Da Mi menunjukkan senyum terbaiknya. “Selamat pagi, Tuan Ri Seo Jun.”
Seo Jun memutar bola mata malas. Terlihat jelas jika dia adalah wanita suruhan para algojo untuk membujuknya. Pria itu berniat menutup kembali pintu ruangan ketika Da Mi menahan cepat dengan kakinya.
“Tunggu dulu! Setidaknya, Bapak harus mendengarkanku,” sahut Kim Da Mi terburu-buru.
Ri Seo Jun mengernyitkan alis, memasang raut jijik. “Bapak?” ulangnya.
Da Mi segera tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan. “Maaf. Maksudku, Tuan.” Da Mi tersenyum canggung. Hanya terdapat celah kecil di antara pintu yang dapat ia gunakan untuk meyakinkan seorang CEO muda dan keras kepala perusahaan Golden Child.
“Kalau kau datang karena ingin membujukku, lupakan saja. Jangan membuang-buang waktuku yang berharga.”
Seo Jun kembali hendak menutup pintu, tetapi kaki Kim Da Mi bersikeras bertahan di antara himpitan itu.
“Aku tahu waktumu berharga, Tuan Ri Seo Jun. Karena itu, aku ingin kita berbicara sepuluh menit saja. Tidak-tidak, lima menit pun cukup. Tolong beri aku waktu,” Da Mi memohon, “hanya lima menit.”
Seo Jun mengembuskan napas panjang, melebarkan celah pintu, dan bergeser ke samping. “Masuklah,” katanya datar, seketika membuat hati Da Mi bersorak girang. Sepanjang hidupnya, Seo Jun sering bertemu dengan perempuan seperti wanita itu. Mereka pandai bersilat lidah dan tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Seo Jun lebih suka merelakan waktu lima menit daripada dibuntuti ke mana-mana hanya karena perkara ini.
Kim Da Mi memasuki ruang kerja CEO itu perlahan-lahan, memperhatikan keadaan sekitar seperti rusa yang memasuki kandang singa. Seo Jun menutup pintu dengan sedikit kasar di belakangnya.
Mulut Da Mi hampir menganga. Ruangan kerja Seo Jun lebih luas daripada kamarnya sendiri. Di satu sisi terdapat deretan buku-buku, arsip, dan penghargaan yang didapat oleh Ri Seo Jun. Pria itu banyak memenangi rekor sebagai CEO termuda dan paling sukses. Tak heran, Kim Da Mi juga sering mendengar kabar angin tentang dirinya. Satu hal yang selalu menjadi topik panas adalah tentang Ri Seo Jun yang tidak pernah mempunyai seorang sekretaris ataupun asisten. Pria itu meraih segudang penghargaan itu seorang diri.
Di sudut ruangan yang bermandikan cahaya matahari, terdapat meja dan kursi yang terlihat baru saja diduduki. Tumpukan kertas dan file berserakan di atas meja. Terlihat jelas jika pria itu sedang bergelut dengan berkas-berkas saat Kim Da Mi mengusiknya.
Wanita itu berdiri di tengah-tengah ruangan. Langkah-langkah berat Seo Jun menyusul di belakangnya, melewatinya begitu saja ke salah satu sudut. Da Mi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Ri Seo Jun membuka sebuah kotak putih seukuran kecil dan mengambil es krim cup dari sana. Tak bisa dipungkiri mengapa ada kulkas di dalam ruang kerja seorang CEO. Da Mi tidak akan lebih kaget jika menemukan alat olahraga di tempat tersembunyi lainnya.
Da Mi memperhatikan dengan perasaan campur aduk ketika Seo Jun menyingkirkan segala berkas di meja, kemudian duduk manis menyantap es krim.
“Waktumu sudah berlalu satu menit,” kata Seo Jun tanpa menoleh.
Ucapan itu seketika membuyarkan lamuman Da Mi. Di saat genting seperti ini, ia justru tenggelam dalam lamunan tanpa akhir menganggumi ruang kerja CEO termuda itu. Dasar Bodoh.
Da Mi selalu memiliki cara untuk melunakan hati pria, tetapi waktu empat menit takkan cukup untuk menggerakan pikiran mereka. Ia menelan ludah kelat. Jantungnya mulai berdegup di atas kecepatan normal.
Melepaskan satu kancing kemeja, Da Mi memulai taktiknya dengan maju dua langkah mendekati meja. “Ehm, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri–”
“Tidak perlu.”
“Eh? Maaf?” Da Mi mengerjapkan mata.
Dengan gerakan berat, Seo Jun mengangkat kepala, menjauhkan badan dari es krim dan meja. Tatapannya menusuk tajam seperti pandangan singa yang kesal karena diganggu ketika menyantap mangsa. “Kau tidak perlu memperkenalkan diri.”
“Ke—kenapa?” Pikiran Da Mi berkejar-kejaran dengan kecepatan nalar pria itu. Ia tidak boleh terlihat payah.
Seo Jun mengembuskan napas panjang seolah Da Mi sudah menanyakan hal itu sebanyak lima kali. “Karena kita tidak akan bertemu lagi.”
Kata-kata itu menusuk Da Mi tepat di hatinya. Ri Seo Jun bersikukuh menolak sebelum Da Mi mengeluarkan serangan pertama. Benar kata bawahannya. CEO perusahaan mereka benar-benar tidak mudah. Namun, tidak ada yang pernah luput dari taktik Kim Da Mi dan ia tidak ingin ada seorang pun yang menggagalkan rekornya.
“Waktumu tersisa tiga menit,” ujarnya dingin, kemudian kembali berjibaku dengan sendok es krim.
Kim Da Mi menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ia akan berhasil karena ia tidak pernah gagal. “Jika Tuan Ri Seo Jun mendapatkan penghargaan sebagai CEO terbaik tahun kemarin,”
“Dan, tahun ini,” sela Seo Jun.
“Ya, dan tahun ini juga–”
“Dua tahun sebelumnya juga.”
“Aku hanya memiliki sedikit waktu, Tuan Ri Seo Jun, dan aku tidak ingin menghabiskannya untuk menyebut-nyebut semua prestasi Tuan,” cecar Kim Da Mi sedikit lepas kontrol.
Ri Seo Jun hanya mengangkat bahu tidak peduli di kursi, lanjut melahap es krimnya. Da Mi membayangkan jika detik ini terjadi tsunami sekalipun, Ri Seo Jun akan tetap terpaku pada es krimnya.
“Jika Tuan Ri Seo Jun mendapatkan penghargaan CEO terbaik, maka akulah pemegang rekor sekretaris paling cekatan dan cepat tanggap,” ujar Da Mi berusaha menyebutkan kelebihan dirinya. Pada beberapa situasi, seseorang akan langsung memandang kagum dan mempertimbangkan dirinya. Namun, Seo Jun tidak berkutik sama sekali seakan es krim cair dan encer itu lebih menarik di matanya.
Kim Da Mi tidak menyerah. Dia menarik napas panjang. “Aku pernah menjadi ajudan untuk presiden periode sebelumnya dan mempunyai rekomendasi yang baik pada CV-ku, kemudian—“
“Waktumu habis.”
“A—apa? Aku baru saja memulainya.”
Pemuda tegap itu membenarkan posisi dasinya, rela meninggalkan es krim kesayangannya dan sekonyong-konyong membukakan pintu untuk Da Mi. Dia tersenyum pada Kim Da Mi. “Silakan,” ujarnya santai, tetapi penuh penekanan.
Bibir Da Mi terbuka tidak percaya. Pria itu benar-benar tidak mendengarkannya. “Tapi, kau belum memberitahu apa keputusanmu.”
“Sudah,” jawab Seo Jun dingin.
“Kapan?” Alis Da Mi menekuk tajam.
“Di ruang rapat tadi.”
“Dan, tidak ada perubahan setelah mendengar pembicaraanku barusan …?”
Ri Seo Jun mengembuskan napas panjang, kemudian membanting pintu. Sol sepatunya berdentum-dentum di lantai seiring dia mengikis jarak di antara mereka. Pria itu menatap Kim Da Mi lekat-lekat, memojokan wanita itu hingga ujung rok hitam ketatnya menyentuh sudut meja.
Sekujur tubuh Da Mi bagai tersengat listrik begitu Seo Jun menyentuh tangannya. Pria itu bahkan menghalangi pandangan gadis itu. Netra Kim Da Mi mengedar ke segala arah, ke mana pun asal bukan menatap sosok pria berbadan bagus di hadapannya.
“Dengar, Nona ...” Tangan bebas pria itu mendekati d**a wanita itu dan meraih kartu nama Da Mi. “Nona Kim Da Mi, semua argumen ini sangat membosankan.” Kini Ri Seo Jun mengikis jarak antara wajah mereka hingga telinga keduanya bersisian. Da Mi dapat menghirup aroma parfum berkelas, tetapi klasik pada jas hitam pria itu.
“Aku tidak suka saat seseorang menyombongkan dirinya di hadapanku,” bisik Seo Jun seduktif.
Da Mi ingin mendorongnya menjauh dan berlari keluar, tetapi ada sesuatu yang harus ia perjuangkan. Gadis itu tidak memiliki pilihan lain.
Seolah telah mendapatkan kesadarannya kembali, Seo Jun menjauhkan diri, melepaskan tangan Kim Da Mi begitu saja. Ia mundur beberapa langkah. “Kau bilang kau mantan ajudan presiden? Bagus sekali. Apa kau tahu bahwa kinerja presidenmu itu sangat buruk? Banyak rakyat yang menyesal dan merasa dirugikan. Kini aku tahu alasannya. Karena—dia—memilihmu—sebagai—ajudannya. Sekarang, keluar dari ruanganku.”
Da Mi terkejut, terlampau terkejut untuk mengelak ataupun menangis. Seolah dikendalikan oleh benang tak kasatmata, kaki ramping gadis itu melenggang keluar pintu.
Belum sempat Da Mi membalikkan tubuhnya, Seo Jun sudah menghempaskan pintu kayu itu begitu saja. Gadis berbalut pakaian kerja formal itu mengerjap tidak percaya. Ia menyisir poni rambut frustrasi. Seo Jun sudah keterlaluan kepadanya. Dia, dan semua harga dirinya itu, benar-benar tidak bisa dibiarkan.
Bahu Da Mi bergerak naik-turun seiring gadis itu berusaha menetralisir kemarahan yang bergejolak.
Tenang, Kim Da Mi. Kau harus membuat pria arogan itu bertekuk lutut di hadapanmu. Apa pun caranya, batin gadis itu.
Embusan napas panjang keluar dari rongga hidungnya. Da Mi tersenyum, merapikan kembali rambut hitam legamnya, kemudian berjalan menelusuri lorong.
***
“Bagaimana?” tanya bawahan Seo Jun. Sejak tadi, ia menunggu dengan gusar di depan ruang rapat. Pria berwajah imut itu bergegas menghampiri Da Mi begitu melihat gadis itu muncul di ujung koridor.
Sambil terus berjalan, Da Mi menggeleng lemah.
Jun menjambak rambutnya sendiri. Mimik wajahnya menyiratkan perasaan kesal dan lelah. Bahunya tampak layu di balik kemeja putih itu. “Sudah kuduga tidak akan semudah ini,” keluh Jun. “Dia lumayan merepotkan kami dengan prinsipnya itu. Kau lihat ini?” Jun menunjukkan betapa besar dan hitam kantung matanya. “Kantung mataku kini punya kantung mata,” rengek Jun.
Da Mi menepuk prihatin bahu pria berwajah imut itu, kemudian mengembuskan napas panjang. “Mengapa orang egois seperti dia tidak dipecat saja? Apakah perusahaan ini tidak punya harga diri?” kata Da Mi, sewot.
Jun berkedip satu kali; dua kali; lalu mengerjap. “Masalahnya begini, selain CEO, dia juga pemegang saham berpengaruh di perusahaan ini. Dia memang keras dan semena-mena, tetapi pencapaian perusahaan Golden Child sangat bergantung padanya.”
Lagi-lagi Da Mi dibuat tercengang. Tidak heran Seo Jun bertingkah seolah perusahaan ini adalah rumahnya sendiri. Berani menantang mitra bisnis, membanting pintu ruang rapat, bahkan pria itu memiliki kulkas di ruangannya.
Gadis itu menyibakkan poni ke atas. Riasan tipis di atas permukaan kulit gadis itu masih sempurna. Bagaimanapun, memiliki kekuasaan bukan berarti bisa berbuat semena-mena. “Lihat saja, aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku.”
Jun mengerjap, tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya sama sekali. Semua orang di perusahaan tahu perangai CEO mereka. Ri Seo Jun bukan tipe yang bisa luluh dengan banyak hal.
“Dengan … cara apa?”
Da Mi tersenyum, membuat Jun berusaha mencari tahu makna di balik seringai misterius itu. Ia tahu Da Mi memiliki seribu satu rencana untuk melancarkan tekadnya.
“Kau, harus membantuku.”