Kedatangan Om Spiderman

1279 Kata
"Assalamualaikum, anak ganteng, masih inget sama Om?" Aidan mengangguk antusias, "Waalaikumsalam, inget dong Om Spiderman!" "Hahaha ... Anak pinter," Dhana mengacak rambut Aidan kemudian keduanya melakukan tos, Dhana lalu berdiri dan memasang senyum termanis. "Hai," Dhana melambaikan tangan pada Laras yang masih diam terpaku di tempatnya. "Mbak Laras?" Dhana melambaikan tangan. "Oh, iya maaf. Ehm ... Pak Dhana tumben ke sini ada apa? kok nggak ngabarin dulu?" Laras mendadak gugup. Baru kali ini ia kedatangan tamu laki-laki selain Raihan dan Mas Alvin. "Saya udah WA Mbak Laras tapi nggak dibales, ya udah saya langsung ke sini aja deh. Kenapa? saya ganggu yah?" "Eh, ng-nggak, nggak kok, Pak. Mari silakan masuk, Pak. Kakak geser, Om nya mau masuk." "Terima kasih, jagoan," Dhana mengelus rambut Aidan yang memberinya jalan masuk. "Maaf rumahnya berantakan." Laras mempersilahkan Dhana untuk duduk di sofa. Dhana Sempat takjub dengan dekorasi rumah Laras yang bertema shaby chic bernuansa toska, terasa sangat nyaman. "Santai aja, Mbak. Namanya juga ada anak-anak." "Mana Papaa ..." si kembar berlari kegirangan dari dalam. "Kok bukan Papa?" wajah Shifa terlihat kecewa. "Iya, mana Papa?" timpal Shifa yang memakai baju motif LOL sama persis dengan Shifa. "Halo cantik, ini pasti Shifa dan Shafa ya?" "Shafa, Shifa, salim sama Om," titah Laras, keduanya pun menurut menyalami Dhana. "Cantik lagi pada ngapain?" "Maen, Om," jawab si kembar kompak. "Om boleh ikut maen nggak?" "Boleh! Ayo main, Om!" dua gadis cilik berambut ikal itu kegirangan. "Kakak juga mau maen sama Om Spiderman!" Dhana tertawa bahagia melihat tingkah lucu anak-anak Laras. "Ehm ... maaf Pak, boleh saya ke dapur sebentar? takut gosong," cengir Laras. "Oh ya, silakan. Maaf yah ganggu, lagi masak." "Nggak apa-apa, Pak." "Atau mau saya bantuin?" "Eh, nggak usah, Pak." Laras menahan Dhana yang hendak berdiri dengan gerakan tangan. "Oke deh, kalau gitu saya main sama anak-anak aja yah." Laras mengangguk lalu menghilang di balik sekat tembok. Dhana tak bisa menutupi bahagianya, ia merasa usaha pendekatannya mulai menunjukkan progres yang positif. Bahkan Dhana merasa nyaman bermain bersama anak-anak Laras yang pintar dan menggemaskan. Ia pun berharap, situasi seperti ini akan ia alami seterusnya saat duda itu sudah berhasil memboyong Laras dan anak-anaknya ke rumahnya. Beberapa menit kemudian masakan Laras sudah matang, dan menu lezat ala restoran Dhana sudah tersaji di meja makan. Laras memang sengaja mengeksekusi resep baru yang ia dapat dari Dhana kemarin. "Wah ... koki saya harus siap-siap pensiun nih kalau lihat ini," ucap Dhana saat dipersilakan Laras untuk ikut bergabung makan siang bersama. "Maaf, Pak, kalo rasanya nggak sesuai resep. Soalnya bahan sama alat masaknya seadanya." "Ini sih udah kelas resto bintang 10, Mbak. Bukan bintang 5 lagi, apalagi kalau kokinya cantik kaya Mbak Laras. Hehehe." Pipi Laras memanas, bahkan ia tak mampu menahan bibirnya yang sudah tersenyum. Menunduk, Laras masih mengulum senyum. Sudah lama ia tak mendengar pujian yang menyebutnya cantik, bahkan Raihan dulu baru akan mengatakan 'cantik' saat ditanya. Tapi dulu Laras maklum, mungkin Raihan memang tipe laki-laki kaku yang tak pandai memuji. "Nggak difoto dulu?" pertanyaan Dhana membuyarkan lamunan Laras. "Eh, eng-nggak usah, Pak. Kasian udah pada laper, biar langsung dimakan aja." "Kalau gitu saya yang foto deh," Dhana lalu mengeluarkan gawai dari saku celana dan mulai membidik kamera ke arah makanan yang tersaji di meja, tanpa perempuan ayu yang berjilbab bergo warna hitam itu sadari, Dhana juga mencuri gambarnya yang sedang menyiapkan piring untuk anak-anaknya. Desir halus kembali menerpa hati laki-laki tampan yang sudah lima tahun menduda. "Ayo dimakan, Pak, maaf seadanya nggak kayak di restoran Bapak." "Oh, iya, oke," kini Dhana yang jadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang memandangi makhluk cantik dan para malaikat kecil di hadapannya. Kelimanya makan dengan suasana hangat, si kembar yang biasanya banyak tingkah saat makan kini menjadi gadis cilik penurut, sesekali mereka meminta disuapi oleh Dhana. Tentu saja Dhana sangat antusias dan tak mau kehilangan momen. Meski belum memiliki anak, Dhana sudah memiliki jiwa kebapakan yang penyayang. Seselai makan siang, ketiga anak Raihan itu seperti tak bosan untuk bermain bersama Dhana. Kehadiran Dhana bagai sumber mata air di gurun pasir yang gersang. Aidan, Shafa dan Shifa merasa menemukan sosok ayahnya kembali di dalam diri Dhana. Hati Laras pun menghangat melihat keakraban keempatnya, bahkan si kembar tampak asyik dan tertawa bahagia bermain kuda-kudaan bersama Dhana. "Oya, kalian udah beli kado buat Arsyila belum?" tanya Dhana pada anak-anak. "Belum," ketiganya menjawab kompak. "Kalau gitu kita jalan-jalan cari kado buat Arsyila yuk, mau nggak?" "MAAAUUU!" Ketiganya heboh, mengundang Laras yang baru saja selesai mencuci piring kotor di dapur. "Wah ada apa ini kok rame banget?" "Mama ... kita mau jalan-jalan sama Om Dhana," ucap Shafa. "Iya, mau cari kado buat Arsyila," imbuh Syifa. "Sama beli mainan baru, iya kan, Om?" Aidan tak mau kalah. "Iya dong, makanya sekarang kalian siap-siap dulu, ganti baju baru kita jalan," terang Dhana. "ASYIIK!!" ketiganya melompat kegirangan lalu berlari ke kamar tanpa mempedulikan panggilan Laras. "Pak, apa nggak ngrepotin? Beli kado nanti aja biar sama saya," Laras mencoba menolak. "Ah, nggak kok, Mbak. Justru saya seneng bisa anterin anak-anak. 'Kan kemaren saya udah bilang mau pinjem anak Mbak Laras buat dateng ke undangan anak Mbak Windy." "Tapi, Pak ..." "Udah nggak usah dipikirin, silakan Mbak Laras kalau mau siap-siap dulu, biar saya tunggu di teras aja." Dhana tersenyum lalu pamit ke teras, sedangkan Laras masih diam terpaku di tempatnya. Sampai suara si kembar memanggilnya, meminta dipakaikan baju. Usai menggantikan baju si kembar, Laras kemudian bersiap-siap. Sebelumnya ia menelepon seseorang. "Hmmm ... kenapa, Ras?" "Wind, pasti kamu yang nyuruh Pak Dhana ke rumahku terus ngajak anak-anak jalan?" tuduh Laras. "Dih! apaan sih lo, ujug-ujug nuduh gue!" Windy terdengar kesal. "Eh, apa lo bilang barusan? Dhana ke rumah lo?" mendadak nada suara Windy berubah. "Iya dari tadi, sekarang malah ngajakin jalan-jalan." "WHAT?! Uwu-uwuuu ... kok Dhana nggak bilang gue yah mau ke rumah lo? Hmm ... udah mulai mandiri dan lancar ya, Bun, PDKTnya. Hihihi." Windy terkikik geli. "Ck! Windy serius... terus aku harus gimana ini?" "Lah ya nggak gimana-gimana, Ras. Ya udah buru berangkat gih! Ngapain malah telepon gue?" "Duh! aku nggak enak kalau ngerepotin dia terus, Wind, aku jadi beban nantinya, gimana cara bales kebaikannya Pak Dhana?" "Lo mau tahu cara balas budi ke Dhana?" Laras mengangguk seolah Windy sedang berada di hadapannya. "Ya lo terima aja itu Dhana jadi papa barunya anak-anak, beres!" "WINDY ...!!!" ***** Kelimanya kini sudah tiba di mall, meski awalnya ragu tapi Laras akhirnya menuruti ajakan Dhana. Ditambah ketiga anaknya sudah begitu antusias saat tahu akan diajak ke pusat belanja sekaligus bermain itu. "PAPAAA ...!" pekik Shafa, diikuti Shifa dan Aidan. Dhana dan Laras mengikuti arah pandang ketiga anak kecil yang berlari menuju seorang pria tegap yang sedang menggendong balita perempuan, disampingnya ada seorang perempuan berambut pendek, dan anak laki-laki yang lebih tinggi sedikit dari Aidan. Seketika mata Laras membulat melihat siapa yang ia temui. Satu keluarga bahagia dengan dua anak. Ragu, Laras ikut melangkah perlahan menyusul anaknya yang sudah mengerumuni ayah kandungnya. Mendengar kata 'papa' yang diucapkan ketiga anak Laras, cukup membuat Dhana mengerti siapa sosok laki-laki tegap di hadapannya. Keempat orang dewasa itu kini saling berhadapan, pertemuan tak terduda dan tak direncanakan justru semakin membuat suasan menjadi canggung dan kikuk. "Laras?" sapa Raihan dengan senyum sumringah yang hanya ditanggapi senyum tipis. "Kamu?" netra Raihan men-screening laki-laki tampan di hadapannya, otaknya mengenali bahwa dia adalah laki-laki yang sama dengan yang mengantar Laras tempo hari menggunakan mobil sedan putih. "Saya Dhana," uluran tangan Dhana sempat menggantung lama di udara sebelum akhirnya disambut oleh tangan kekar, "Raihan, saya Papanya anak-anak." "Oh, salam kenal, Mas." Sapa Dhana dengan tersenyum Ramah. "Saya Linda, ISTRINYA MAS RAIHAN," ucap Linda seolah sengaja menekankan kata 'istri' sambil tangan kanan terulur. Dhana bisa melihat pancaran luka dari sorot mata lentik Laras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN