Kepergianmu telah kurelakan
Tapi pertemuan justru kembali membuka luka lama
Melihatmu bahagia bersamanya
Semakin kuyakin memang seharusnya kita tak bersama
- Dania Larasati -
[Tadi siang aku liat kamu jalan sama laki-laki, siapa dia?]
Kening Laras berkerut, ia tak mengerti maksud pertanyaan mantan suaminya.
[Temen]
Laras membalas singkat pesan dari Raihan. Lalu ia kembali fokus pada ketiga anaknya. Sebuah notifikasi pesan kembali berbunyi, tapi Laras memilih mengabaikannya.
"Mama ... Papa kemana sih? Kok nggak pulang-pulang?"
Si sulung Aidan menghentikan aktifitas menulisnya.
"Iya, Ma, Shifa kangen Papa ..."
"Shafa juga kangen Papa ..."
Laras menghela napas lalu tersenyum, "Papa lagi ada tugas jauh. Nanti kalau udah selesai juga Papa dateng kok."
Laras mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa diterima anak-anaknya. Hak asuh anak memang jatuh kepada Laras, tapi ia juga tak melarang jika Raihan ingin mengunjungi ketiga buah hatinya. Tapi nyatanya, sejak ketok palu pengadilan Raihan sama sekali belum mengunjungi mereka.
"Kakak pengen telepon Papa, Ma ..."
"Shafa mau juga ..."
"Shifa juga ..." si kembar sudah menghambur ke pangkuan Laras.
"Udah malem, Sayang, takut Papa masih dinas," Laras melirik jam di dinding menunjuk angka delapan.
"Tapi kakak kangen Papa!" Aidan malah merajuk, mendorong meja belajar di depannya.
Laras menghela napas, lalu dengan terpaksa ia mengambil gawai di meja dan menekan nomor yang dituju.
Setelah menunggu beberapa detik, sambungan telepon terhubung.
"Halo?"
Laras terdiam mendengar suara perempuan di seberang. 'Jadi ini perempuan itu?' batin Laras menerka.
"Hello?"
"Oh, ya halo. Assalamualaikum, Mbak, Mas Raihannya ada?"
"Ada perlu apa yah?"
"Eumm ... ini anak-anak lagi pengen ngobrol sama Papanya."
"Oh, Mas Raihannya lagi sibuk sama anak-anaknya juga, nggak bisa diganggu. Lain kali aja telepon lagi."
Belum sempat Laras menjawab, sabungan telepon sudah diputus sepihak oleh perempuan yang Laras yakini bernama Linda. Kali ini Laras harus menelan pil kecewa dan memutar otak untuk menjelaskan pada anak-anaknya.
"Mana Papa? Kakak mau cerita ..."
"Kakak, Papa masih dinas. Besok lagi kita telepon yah."
"Tapi kakak mau cerita sekarang, Ma. Kakak mau kasih tau Papa kalau Kakak pinter dapet nilai 10."
"Iya Kak, besok kita telepon Papa lagi yah. Sekarang kita bobo dulu yuk."
Meski awalnya menolak tapi ketiga buah hatinya akhirnya menurut dan beranjak ke kamar untuk tidur.
*****
"Telpon dari siapa, Dek?" tanya Raihan saat keluar dari kamar mandi.
"Oh, bukan siapa-siapa. Salah sambung." Linda buru-buru menghapus riwayat panggilan masuk dari Laras di ponsel Raihan.
"Anak-anak udah tidur?"
"Udah. Mas ... jadi kapan aku sama anak-anak diajak ke Lampung. Anak-anak 'kan juga pengen ketemu kakek neneknya."
Linda memeluk Raihan dan merengek manja.
Raihan membalas pelukan istrinya, "sabar, Dek, nanti kalau waktunya udah pas, kalian Mas ajak ke Lampung."
"Ah, bosen! ngomongnya gitu mulu!" Linda melepaskan dekapan dan berbalik dengan kedua tangan disilangkan di depan d**a.
"Aku kurang sabar gimana, Mas? Aku udah nungguin kamu 10 tahun, apa masih kurang? Kamu bilang kalau udah cerai sama Laras mau ajak aku ke orang tua kamu, terus mau daftarin pernikahan kita, tapi kapan?"
"Iya, Sayang, sabar yah. Aku harus urus dulu dokumen-dokumennya," Raihan memeluk Linda dari belakang.
"Ck! auk ah! capek aku, Mas!" Linda menghempaskan tangan Raihan yang melingkar di perutnya.
"Dek, mau kemana?"
"Ngantuk." Linda masuk ke dalam kamar tanpa menoleh.
Raihan menggusar rambutnya lalu duduk di sofa dan menyalakan tv. Ayah lima anak itu kemudian mengambil gadget yang tadi Linda letakkan di meja dan membaca pesan balasan dari Laras.
[Teman siapa? kok aku nggak kenal?]
Lama tak mendapat balasan, Raihan kembali mengetik sesuatu.
[Anak-anak udah tidur? kamu lagi ngapaian?]
Raihan mendadak merasa hampa, pesannya tak kunjung dibalas, bahkan belum terbaca oleh Laras. Ia lalu memilih ke kamar menyusul istrinya dan mendapati Linda sedang asyik bermain smartphone.
"Mas ... sini balikin HPnya!"
Raihan mengambil paksa gawai Linda dan menaruhnya di meja.
"Nggak! Daripada mainin HP mending main sama Mas aja, mumpung anak-anak udah tidur." Raihan lalu memulai permainannya, Linda pun hanya pasrah menikmatinya.
*****
Tok Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, dan menghebohkan anak-anak yang sedang asyik bermain.
Tok Tok!
"Mama ... ada yang ketok pintu ..." teriak Shafa.
"Iya bentar ..." Laras yang sedang sibuk memasak di dapur terpaksa berhenti sejenak dan berniat membuka pintu, sebelumnya ia memakai kerudung bergo terlebih dahulu.
"Itu pasti Papa! Biar Kakak aja yang buka!" pekik Aidan bersemangat menuju pintu.
Aidan lalu membuka pintu dengan wajah berbinar, "PAP ... pa..." seketika Aidan terdiam saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Siapa yang dateng, Kak ... Pak Dhana?!"
Laras terkejut melihat sosok laki-laki memakai kaos hitam dan celana chinos warna krem sedang berjongkok dan tersenyum pada Aidan.
***