Jika waktu bisa diputar kembali
Inginku bisa mengenalmu sejak dulu
Jika mengenalmu bisa semenyanangkan ini
Inginku jadiakan kau teman hidupku
"Terima kasih ya, Pak, sudah merepotkan, terima kasih juga buat makanannnya," ucap Laras tulus.
"Sama-sama, saya juga terima kasih Mbak Laras udah mau direpotin saya buat foto," Dhana menyunggingkan senyum termanis.
"Kan memang sudah job saya, Pak."
"Oiya, saya belum transfer. Nanti ya sampai kantor saya transfer yah."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Kalau gitu saya pamit dulu yah, salam buat orang tua sama anak-anak."
Laras mengangguk sopan, Dhana lalu pamit dan pergi bersama sedan mewahnya. Meski kali ini Dhana harus kecewa karena saat ia tiba di rumah Laras, anak-anak dan Ibu Laras sedang tidur siang.
Namun, bagi Dhana, sudah tahu dimana tempat tinggal dan nomor telepon perempuan ayu itu saja sudah membuat hati duda keren itu dipenuhi bunga warna warni. Hari-harinya esok akan terasa lebih indah dan bersemangat karena ada nama baru yang memenuhi hati dan pikirannya.
Selama perjalanan mengantar Laras pulang, Dhana tak hentinya dibuat takjub oleh cerita Laras yang begitu antusias membahas tentang fotografi dan masakan. Meraka layaknya teman lama yang sedang reuni, larut dalam obrolan dan canda tawa.
Pembawaan Laras yang ramah dan bersemangat membuat Dhana makin penasaran dengan cerita dibalik senyum manis ibu muda 3 anak itu. Bahkan Dhana merasa heran, kenapa wanita cantik dan multitalenta seperti Laras bisa berpisah dengan suaminya?
Namun, Dhana justru bersyukur jika saat ini Laras bukan lagi istri orang. Karena Dhana pun kini merasa yakin bahwa Laras adalah pemegang kunci hatinya yang telah tertutup rapat selama setengah dekade terakhir. Duda tampan itu juga yakin, Laras adalah jawaban doa dari Ibunya yang selalu mendamba seorang menantu baru.
Dhana lalu menelepon seseorang, "Halo, Mbak Windy, bisa bantu saya?"
*****
"Loh, Mas, kok nggak ada kerupuk kulitnya?"
Raihan menepuk jidatnya, "Astaga! Iya tadi Mas lupa."
"Kan tadi aku udah bilang pake krupuk kulit, sama extra sambel plus kuah, Gimana sih, Mas?"
"Iya maaf ya, Mas lupa bilang tadi. Ya udah dimakan aja seadanya, katanya tadi laper?"
Linda lalu menyantap nasi Padang pesanannya dengan malas karena tidak sesuai ekspektasi. Baru saja dua suap, suara tangis si kecil Alisha menggema.
"Hadeeh! baru juga makan. Mas ... itu Alisha nangis!" teriak Linda pada Raihan yang sedang asik bermain game di ruang tengah bersama Farhan. Dengan terpaksa, Raihan menghentikan permainannya dan menghampiri putri bungsunya.
"Dek, Alisha pup nih ..."
"Aduh! Ya Mas gantiin lah, aku kan lagi makan."
Raihan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan ibu dari anak-anaknya, lalu laki-laki tegap itu menuruti titah istrinya untuk membersihkan kotoran putrinya yang baru berusia satu tahun. Dan ini adalah pertama kalinya membersihkan kotoran anaknya, karena biasanya semua dikerjakan oleh Linda maupun Laras.
Mengingat nama Laras, ia jadi teringat dengan sosok laki-laki tinggi dan tegap yang membukakan pintu mobil untuk Laras, Raihan merasa penasaran, siapa laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Laras? Karena seumur pernikahannya dulu, Raihan tau persis Laras begitu pandai menjaga pergaulan, terutama dengan lawan jenis.
*****
"Kamu beli makanan sebanyak ini?" tanya Ibu Laila pada Laras saat melihat meja makan terisi penuh aneka masakan.
"Nggak, Ma. Itu tadi dikasih sama bos restoran yang tadi Laras foto. Yuk makan dulu, Ma, sebelum pulang. Mumpung Mas Alvin belum jemput."
Ibu Laila pun menurut, sementara Laras sedang menyuapi si kembar. Si sulung Aidan pun makan dengan lahap. Laras sendiri mengakui makanan dari restoran Dhana sangat menggugah selera dan memanjakan lidah. Semua menunya tak ada yang gagal baik dari rasa maupun penyajian.
Sebelumnya Laras pernah makan di restoran itu bersama keluarga, tapi Laras tak tahu jika restoran itu milik Dhana, nasabah Windy.
Laras bersyukur, selain mendapatkan pekerjaan baru sebagai foodphotographer, ia juga mendapat teman baru.
Bagi Laras, meski seorang pengusaha sukses, Dhana termasuk orang yang low profile dan tidak sombong. Ibu tiga anak itu kagum pada sosok Dhana yang ternyata tahu betul tentang seluk beluk usaha kuliner. Laras merasa punya teman yang satu frekuensi. Bahkan Dhana tak sungkan membagikan resep masakan yang tadi baru difoto oleh Laras.
Perempuan ayu itu tentu saja sangat bersemangat untuk mencoba resep baru ala restoran bintang lima milik Dhana. Laras pun semakin mantap untuk membuka usaha kuliner kecil-kecilan setelah mendapat sharing session dari Dhana saat perjalanan pulang tadi.
"Usaha kuliner itu kuncinya di rasa. Mau tempatnya sejauh apapun, sekumuh apa pun, orang pasti akan rela antri atau bahkan dateng jauh-jauh buat makan di situ atau dibungkus. Karena lidah nggak bisa dibohongi." Laras mengingat kembali kalimat Dhana.
Usai makan malam bersama, Ibu Laila pun dijemput Mas Alvin untuk pulang. Setelah kepulangan Ibu Laila, Laras menemani ketiga anaknya belajar. Saat sedang mengawasi si kembar mewarnai, notifikasi pesan masuk di gawai Laras. Segara Laras membuka pesan dari nomor baru yang belum dikenal.
[Selamat malam, Mbak Laras. Maaf baru transfer, saya terima kasih sudah dibantu sama Mbak Laras. Selamat istirahat]
Laras sudah menebak siapa pengirim pesan itu. Segera Laras mengecek saldo di m-banking. Seketika matanya terbelalak, mulutnya mengaga, ia tak percaya dengan deretan angka di layar.
"Masyaallah, ini banyak banget." Laras tak menyangka jika Dhana akan transfer sebanyak itu.
"Ini sih ngelebihin gaji aku dulu, apa nggak kebanyakan?" gumam Laras.
Laras kemudian mengirim pesan kepada nomor baru yang bergambar profil seorang laki-laki berkaos putih dan celana pendek hitam berlatar belakang pantai.
[Terima kasih, Pak. Tapi mohon maaf sebelumnya, ini kayaknya kebanyakan deh. Saya transfer kembali sebagian ya, Pak]
Pesan yang terkirim langung terbaca, seolah seseorang di seberang sana memang sedang menunggu pesan dari Laras. Tak selang berapa lama, telepon Laras berdering dari nomor yang sama.
"Halo, assalamualaikum," sapa Laras.
"Halo, waalaikumsalam." Dhana tersenyum mendengar suara lembut Laras.
"Pak Dhana, maaf ini kebanyakan transfernya. Saya transfer lagi sebagian ya, Pak."
"Eh, nggak usah, Mbak. Saya memang sudah budget-in segitu kok buat foto. Lagian hasil foto Mbak Laras kan bagus-bagus. Jadi pantes diapresiasi."
"Tapi, Pak ..."
"Udah, nggak apa-apa. Justru saya seneng banget bisa kenal sama Mbak Laras. Semoga nanti kita bisa kerja bareng lagi ya." Dhana mulai berharap.
"Iya, insyaallah, Pak. Saya juga nggak nyangka bisa kerja sama Pak Dhana."
"Mama ... Udah ..."
Terdengar suara Shifa memanggil.
"Udah, Ma ..."
"Shafa juga udah ..."
Si kembar menunjukan hasil gambarnya.
"Lagi sibuk yah?" tanya Dhana.
"Oh, nggak juga. Lagi nemenin anak-anak belajar aja, Pak."
"Wah, seru yah. Boleh 'kan kapan-kapan saya kenalan sama anak-anak?"
"Eh, b-boleh, Pak."
Laras sedikit merasa aneh, tapi ia coba mengabaikannya.
"Oya, minggu depan anak Mbak Windy ultah, ya?"
"Ah, iya bener. Arsyila ulang tahun ke tiga tahun. Pak Dhana diundang juga?"
"Iya nih, padahal saya nggak punya anak, hehehe. Makanya nanti mau pinjem anak Mbak Laras aja deh."
"Eh? maksudnya gimana Pak?"
"Iya, maksudnya nanti saya jemput ya, kalau mau ke acara ulang tahun anak Mbak Windy."
Hening, Laras sedang berpikir. Bukan ia tak mengerti kode-kode yang dikirimkan Dhana, apalagi ia ingat kata Windy yang ingin menjodohkannya dengan Dhana. Tapi, Laras memang benar-benar sedang tak ingin menjalin hubungan asmara dengan lelaki manapun. Pengalamannya dulu, cukup membuatnya trauma untuk berharap lebih pada kaum Adam.
"Halo? Mbak Laras?"
"Oh, eh, iya, halo, Pak. Maaf tadi..."
"Iya, nggak apa-apa. Pasti lagi sibuk sama anak-anak yah. Ya sudah, silakan dilanjut kalau gitu. Nanti kapan-kapan saya telepon lagi yah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Laras lirih hingga sambungan telepon terputus.
Laras menghela napas lega, jika boleh jujur, Laras merasa tak nyaman jika Dhana sudah membicarakan soal pribadi. Laras lebih nyaman jika membahas soal fotografi dan kuliner dengan Dhana.
Lamunan Laras terganggu saat teleponnya kembali berdering, kini wajah Windy sudah menghiasi layar. Segera Laras mengusap layar.
"Laraaaaas ... Eciee yang habis ditelepon sama duda keren yang tamvan. Hahaha." Pekik Windy sambil tertawa heboh saat telepon tersambung.
"Ck! Apaan sih, Win? Jadi bener 'kan ini semua rencana kamu. Kenapa tiba-tiba aku yang fotoin makanannya Pak Dhana itu, terus sampai dia nganterin ke rumah? Iya, kan?!" Laras terdengar kesal.
"Kalau iya, kenapa? Kan gue juga mau lihat sahabat gue tercintah bahagia dunia akhirat."
Laras menggeleng, seolah Windy melihatnya.
Laras pun mulai curiga, "Kok kamu tahu, Pak Dhana habis telepon aku?"
"Tahu dong, 'kan gue ini konsultannya Dhana, nggak cuma soal keuangan dan perbankan, termasuk soal percintaan, Dhana udah percaya sama gue."
"Hh ... Terserah lo deh, Win!"
"Asyik! Bener ya terserah gue? Jadi minggu depan lo harus dateng ke ultah Arsyila bareng Dhana. Titik!"
"Eh ... Mana bisa begitu?"
"Ya bisa dong! Kan terserah gue katanya. Lagian lo kenapa sih nggak dicoba dulu, Ras, buka hati lo buat Dhana. Sapa tahu kalian emang jodoh dunia akhirat."
Kembali Laras menggeleng, "bahas yang lain atau aku tutup telponnya?"
"Elah, jutek banget sih, Bun?"
"Udah deh, nggak usah bahas Pak Dhana mulu. Bosen seharian ini temanya dia terus."
"Iya deh, kalau gitu bersambung besok lagi yah bahas Dhananya?"
"Windy... !"
Windy hanya terbahak mendapati reaksi kesal sehabatnya. Ibu satu anak itu semakin bersemangat untuk melancarkan usaha perjodohan Dhana dengan Laras.
Apalagi siang tadi, Dhana terang-terangan meminta bantuannya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Laras. Windy pun sudah menceritakan tentang kisah rumah tangga Laras yang berakhir dengan ketok palu pengadilan.
Cerita Windy tentang Laras justru semakin membuat Dhana tertantang untuk bisa meluluhkan hati Laras dan anak-anaknya.
Usai bertelepon dengan Windy, kini Laras mendapati sebuah pesan masuk dari Raihan.
[Tadi siang aku liat kamu jalan sama laki-laki, siapa dia?]
Kening Laras berkerut, ia tak mengerti maksud pertanyaan mantan suaminya.