Penasaran

1339 Kata
Senyum manisnya mampu mengalihkan duniaku Namun, sorot matanya seperti menyimpan ribuan luka yang mengusikku Siapa dia sebenarnya? Masalah berat apa yang sedang menimpanya? -Dhanandaya Armansyah- "Dek, kamu nggak masak?" Raihan membuka tudung saji di meja makan dan tak mendapati apapun. "Nggak, Mas. Tadi aku habis senam, capek." Linda menjawab enteng sambil rebahan di kasur. "Ayah ... laper ... " Seorang anak laki-laki merengek kepada Raihan. "Dek, ini Farhan kelaperan ..." "Duh, kan tadi baru aja makan. Beli makan diluar atau order online aja deh, Yah." Raihan hanya menggeleng melihat kelakuan istri sirinya yang sedang asyik bermain gadget di kasur. Beruntung si balita sedang terlelap di samping Linda. Mendadak ia jadi teringat ... Laras. Selama Laras menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, Raihan tak pernah mendapati meja makan yang kosong. Selalu saja ada makanan aneka menu yang variatif setiap hari dan juga kudapan buatan perempuan berjilbab itu. Ia dan ketiga anaknya tak pernah merasa kelaparan. "Ayah ... laper ..." Lagi, si sulung Farhan merengek minta makan. "Ya udah, yuk kita makan di luar." Farhan mengangguk dan mengikuti langkah ayahnya. Saat akan keluar, sebuah suara memanggil. "Eh, eh ... Mas mau kemana?" "Mau beli makan lah," jawab Raihan sedikit kesal. "Aku nitip nasi Padang dong, pake rendang, minta kuah sama sambel extra yah. Oh ya, sama kerupuk kulit," cerocos Linda masih dari kamar. Raihan hanya bisa menggeleng dan menghela napas. Tanpa menjawab, laki-laki tegap itu lalu masuk ke dalam mobil bersama putra sulungnya yang usianya tak jauh beda dengan Aidan. Keduanya lalu menuju restoran Padang di tengah kota dan memutuskan untuk makan siang di sana. Usai menyantap menu pilihannya, Raihan lalu memesan satu porsi untuk dibawa pulang sesuai permintaan istri yang dicintainya. Setelah menyelesaikan transaksinya di kasir, dua laki-laki beda generasi itu kemudian bersiap pulang. Saat akan melajukan mobilnya, manik mata Raihan menangkap sosok perempuan berjilbab warna ungu tengah berjalan keluar dari sebuah restoran di seberang. Matanya menyipit memastikan bahwa perempuan itu adalah seseorang yang ia kenal selama 10 tahun terakhir. Tapi kini ia harus terbelalak saat melihat seorang laki-laki tinggi dan tegap juga berjalan beriringan dengan perempuan itu. Kemudian laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk perempuan berjilbab yang ia yakini adalah ... "Laras?" Raihan menggumam seraya netranya yang tetap fokus pada pemandangan di seberang jalan. Kini mobil sedan putih mewah yang dinaiki oleh Laras dan seorang laki-laki itu melaju membelah jalanan. Saat akan mengikuti mobil tersebut, tiba-tiba suara telepon berdering. Segera Raihan mengusap layar. "Mas ... dimana? Cepetan pulang, aku laper!" Raihan menghela napas, lalu memutar arah kembali ke rumahnya. ***** Beberapa jam sebelumnya. "Wow, saya nggak nyangka kalau Mbak Laras jago foto. Hasilnya udah kayak di buku-buku resep masakan. Keren banget!" Dhana tak henti-hentinya memuji Laras dan hasil karyanya. Duda kaya itu mengakui kemahiran Laras dalam membidik kamera, mengatur tata letak objek dan pencahayaan hingga tercipta sebuah potret yang aestetik dan sedap dipandang mata. Dan tentunya, menggugah selera siapa pun yang melihat foto makanan itu. "Nggak salah kan pilihan saya, Pak?" Windy berbangga diri. Dhana hanya tertawa dan membenarkan kalimat Windy. "Kalau begini sih, saya yang baru liat fotonya aja mendadak laper. Hehehe ..." "Ah, Pak Dhana suka berlebihan deh..." jawab Laras dengan tersipu. Baru kali ini ada yang menyanjung hasil karyanya. Bahkan, dulu Raihan melabeli Laras dengan sebutan 'alay' karena setiap makanan yang akan dimakan harus difoto terlebih dulu. Kini Laras merasa dihargai dan diapresiasi hasil karyanya. Mengingat fotografi adalah hobinya sejak remaja, tapi karena terbentur kesibukan lain dan biaya, ia hanya bisa melakukan hobinya disela-sela waktu. Itu pun hanya menggunakan kamera handphone. Sampai akhirnya saat sudah bekerja, Laras bertekad untuk menabung dari sebagian gajinya untuk membeli sebuah kamera seperti seorang fotografer profesional. Saat ketiganya sedang melihat hasil foto di laptop, Windy memisahkan diri ke arah pintu untuk mengangkat telepon. Tak berapa lama, ibu satu anak itu kembali bergabung ke meja kerja Dhana. "Emm ... Ras, Pak Dhana, saya pamit duluan yah." "Loh kenapa?" kening Dhana berkerut, begitu juga dengan Laras. "Barusan suami telepon, anak saya nangis nyariin Mamanya. Nggak apa-apa yah, Pak, saya titip Laras dulu di sini?" Windy sengaja memainkan alisnya, berharap Dhana mengerti kode yang ia lemparkan. "Ah ... iya, nggak apa-apa. Biar nanti saya yang anter Mbak Laras pulang," Windy tersenyum akhirnya Dhana mengerti kodenya. "Tapi, Win ..." Laras terlihat keberatan. "Udah, kamu pulang sama Pak Dhana aja, iya kan, Pak?" "Iya, kebetulan saya memang free hari ini, sengaja buat nungguin foto aja." "Nah! Ya udah saya pamit dulu ya, Pak. Titip temen saya, tolong anterin sampai rumah, Pak, hihihi ..." Windy bersalaman dengan Dhana sambil terkikik geli melihat ekspresi Laras yang sudah jutek. Dhana hanya tersenyum dan mengangguk mengerti. "Gue duluan yah, Ras," keduanya berpelukan, tapi wajah Laras sudah tak bersahabat. Perempuan berjilbab itu merasa dijebak oleh Windy. Setelah Windy berlalu, suasana mendadak menjadi canggung. Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Laras yang duduk di samping Dhana memilih untuk merapikan kembali kamera dan printilannya. "Kalau fotonya begini, saya yakin beneran jadi menu best seller nih di resto. Saya juga optimis launching resto yang ketiga nanti bakalan sukses," ucap Dhana dengan netra berbinar dan masih setia memandangi hasil karya Laras di depan laptop. Laras hanya tersenyum dengan tangan masih sibuk merapikan alat tempurnya. "Nanti Mbak Laras dateng yah di acara launching resto saya?" "Eh ... iya, insyaallah ya, Pak." "Ajak suami sama anak-anak juga ya, Mbak," pancing Dhana. Laras menghentikan aktifitasnya dan menunduk. Mendengar kata suami tiba-tiba hatinya kembali terasa nyeri. Dhana bisa melihat perubahan ekspresi di wajah nan ayu di sampingnya. "Tapi kalau Mbak Laras dan suami nggak bisa dateng juga nggak apa-apa," Dhana segera meralat kalimatnya. "Oh, nggak apa-apa, insyaallah saya dateng sama anak-anak aja, karena ... saya udah pisah sama suami," terang Laras dengan nada lirih saat mengucap kalimat terakhir. Sempat terkejut, namun Dhana bisa segera menguasai diri. Ada rasa penasaran sekaligus bahagia mendengar status Laras yang sudah tak bersuami. Dhana berniat akan mencari tahu tentang Laras lebih jauh dari Windy. Dhana yakin, Windy pasti tahu segalanya tentang perempuan berjilbab yang sudah mencuri hatinya. "Kita makan dulu yah sebelum saya anter Mbak Laras pulang," Dhana memulai usaha pendekatannya. "Eh, nggak usah Pak, saya makan di rumah aja. Kasian anak-anak kalau kelamaan saya tinggal." "Oh, jadi anak-anak sendirian di rumah?" "Nggak juga sih, Pak, kebetulan ada Eyangnya lagi main." Dhana tersenyum, ia membayangkan jika nanti mengantar Laras pulang, ia bisa berkenalan dengan orang tua dan anak-anak Laras sekaligus. "Kalau gitu saya minta karyawan buat siapin dibungkus aja yah?" Dhana mengeluarkan gawai dari saku celana dan siap menelepon. "Nggak usah, Pak. Nggak usah repot-repot," Dhana hanya mengibaskan tangan tanda mengabaikan permintaan Laras. Perempuan berjilbab itu hanya pasrah saat mendengar Dhana sudah menelepon salah satu stafnya dan menyebutkan beberapa menu untuk di-take away. "Oya, jadi ... berapa saya harus transfer buat foto-foto Mbak Laras?" Laras mendadak bingung, karena ia tak pernah menghargai fotonya dengan rupiah. Selama ini yang ia lakukan hanya sekadar hobi. Baginya, bisa ikut andil memotret menu masakan istimewa sebuah restoran ternama di kota ini saja, Laras sudah bersyukur karena telah diberi kesempatan langka. "Terserah Bapak aja deh, saya juga nggak tahu dan nggak pernah pasang tarif buat foto saya," cengir Laras yang membuat Dhana semakin gemas. Dhana lalu mengambil kertas note warna warni di sudut meja dan sebuah pulpen. Kemudian mengangsurnya ke hadapan Laras. Laras menoleh ke arah Dhana dengan dahi berkerut. "Buat apa ini, Pak?" "Silahkan tulis nomor rekening dan nomor HP Mbak Laras." Sempat berpikir sejenak, namun Laras menuruti perintah Dhana. Duda tampan itu lalu tersenyum penuh makna saat melihat deretan angka yang ditulis oleh Laras. Meski ragu, Laras akhirnya menuliskan nomor rekening dan nomor handphone-nya. Ia teringat kalimat Windy yang selalu menyemangatinya untuk terus berusaha dan tidak menolak rezeki yang datang. Apalagi ini adalah pekerjaan pertamanya sebagai food photographer. Laras berdoa dalam hati semoga ini adalah awal karir profesionalnya di bidang fotografi yang sudah ia tekuni sejak lama. Perempuan ayu itu berharap setelah ini, job motretnya mengalir deras seperti air sungai. Sehingga ia bisa kembali survive bersama ketiga anaknya. Tanpa Laras ketahui, ada seseorang yang mulai berharap lebih dari sekadar hubungan profesional kerja seorang fotografer dengan klien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN