Dahulu ku bermimpi
Kisah cinta abadi bersamamu
Ternyata semua berakhir
Tak seperti yang ku harapkan
Baru ku mengerti ku sadari
Ohh
Ku tak sendiri
Pancaran sinar mentari
Menemani tiada henti
Ohhh Dan
Tak ku sesali
T'lah ku lupakan dirimu
Tak mengapa aku melangkah
Sendiri dapat ku jalani
-Raisa-
"Halo, Siang Mbak Windy."
"Siang, Pak Dhana, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Windy menerima panggilan dari Dhana.
"Mbak Windy, rencana kan saya lagi buka cabang baru buat resto, tapi saya lagi butuh dana dikit lagi buat finishing tempat nih. Bisa nggak saya top up?"
"Wah, bisa dong, Pak. Cabang barunya dimana?"
"Di mall yang kemaren, Mbak. Saya mau coba ekspansi di mall. Saya liat prospeknya bagus."
"Oh, di mall yang kemaren kita ketemu, Pak? Iya bener banget tuh, Pak, di mall prospeknya bagus. Banyak trafiknya."
"Iya, Mbak. Kemaren memang saya sengaja survei dan cek lokasi tenant yang kosong. Alhamdulillah udah ketemu yang stategis dan pas."
Windy manggut-manggut, seolah Dhana melihatnya.
"Oya, Mbak, saya juga rencana mau buat promo di media sebelum launching nanti. Mbak Windy punya kenalan nasabah yang bisa food fotografi nggak?"
"Food fotografi ya, Pak?Eumm ... siapa yah?"
Windy tampak berpikir, lama.
"Iya, buat foto-foto makanan, Mbak. Jadi nanti saya buat sampel menunya, terus difoto buat materi promo."
Ibu satu anak itu lalu teringat seseorang. Ia yakin pilihannya tak salah.
"Ada Pak, saya punya temen yang hobi foto makanan."
"Tapi yang hasilnya bagus dan aestetik ya, Mbak. Bukan yang asal jepret."
"Pastinya, Pak. Nanti saya kirim contoh fotonya deh ke Bapak," Windy meyakinkan.
Keduanya kemudian lanjut berbincang mengenai bisnis dan kebutuhan dana tambahan untuk pembukaan cabang baru restoran milik Dhana.
Dhanandaya Armansyah adalah pengusaha kuliner yang kini memiliki dua cabang restoran. Hobinya meracik bahan makanan dengan bumbu-bumbu ini adalah turunan dari ibundanya yang asli dari tanah minang dan jago memasak. Mak, usai menyelesaikan pendidikan tingginya di jurusan manajemen, Dhana segera mewujudkan impiannya membuka usaha kuliner.
Usai bertelepon, Windy langsung antusias membuka galery foto di smartphone dan mulai mencari foto makanan yang ia maksud.
"Nah ... ketemu!"
Windy lalu mengirim lagi foto-foto ke nomor Dhana.
Windy : [Pak, itu hasil jepretan temen saya. Gimana, bagus kan?]
Tak lama balasan masuk ke kolom chat.
Dhana : [Wow, bagus-bagus banget fotonya, Mbak. Boleh deh Mbak, minta tolong temen Mbak Windy buat fotoin nanti. Untuk tarifnya saya ikut aja sama temen Mbak, berapa per fotonya.]
Windy: [ Asiap, Bapak]
Windy pun kegirangan, serasa ia yang lolos audisi masterchef. Ia merasa bahagia akhirnya langkah awalnya untuk mendekatkan Laras dan Dhana semakin terbuka lebar.
Kini Windy sedang mengetikkan sesuatu dan mengirim pesan kepada Laras.
Windy :[Gue punya kerjaan buat lo, siap-siap yah bakalan sibuk.]
Tak lama, panggilan telepon masuk ke gawai Laras.
"Halo, Win, kerjaan apa sih?"
"Ada deh, kejutan pokoknya. Kata lo kan pengen ada kerjaan yang menghasilkan. Nah gue punya kerjaan yang cocok buat lo, hihihi," Windy terkikik geli mengingat rencana yang ia susun.
"Ya, tapi kerjaan apa, Win? Gue nggak bisa kalau kerjanya harus ngantor tiap hari. Nggak mungkin 'kan gue ninggalin anak-anak."
"Udah, lo tenang aja. Pokoknya kerjaan lo pasti asyik banget, sesuai sama hobi lo. Dan lo juga bisa kok bawa anak-anak ke tempat kerja lo nanti."
"Hah? Kerjaan apaan sih? Ceritain dong, jangan bikin orang penasaran, Win?"
"Sungguh mati aku jadi penasaran ... Oh, gadia manis yang menjadi rebutan ..." bukannya menjawab, Windy malah bernyanyi.
"Windiiii ...."
Windy justru terbahak dengan puas sudah membuat Laras penasaran. Ia memang sengaja membuat kejutan untuk Laras dan Dhana, agar saat mereka bertemu lagi akan menjadi momen yang berkesan.
Laras memang pernah bercerita kepada Windy bahwa ia harus mulai bekerja atau membuka usaha untuk menyambung hidupnya sebagai seorang janda. Meski Raihan masih mengirimkan sejumlah uang setiap bulan, tapi itu memang hanya untuk kebutuhan anak-anaknya terutama pembayaran sekolah.
Namun, untuk keseharian tetap saja Laras harus putar otak agar dapur tetap mengebul. Mas Alvin sudah menawarkan modal dan peluang usaha bagi Laras yang memang hobi memasak untuk membuka usaha kuliner berupa katering menu diet. Tapi, Laras masih memerlukan pertimbangan terkait waktu dan tenaganya.
Ia tak mau nanti waktu dan perhatiannya justru akan tersita untuk usaha, sedangkan anak-anak terbengkalai. Bagi Laras, cukup lah ketiga buah hatinya kekurangan kasih sayang seorang ayah, tapi mereka tak boleh kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Maka, Laras masih mencari-cari pekerjaan atau peluang usaha yang kiranya bisa ia lakukan sembari mengasuh ketiga anaknya dan tidak begitu menguras waktunya.
Sebagai sahabat dan sesama perempuan, Windy pun sangat berempati pada Laras. Ia pun terus men-support Laras agar kembali bangkit dan move on. Oleh karena itu, Windy sangat antusias saat Dhana membutuhkan jasa food fotografer. Ia langsung teringat Laras yang memang hobi memfoto makanan dan hasilnya pun tak kalah dari seorang fotografer profesional.
Windy yakin, kali ini rencananya sebagai makcomblang akan dan harus berhasil.
*****
Sejak pagi, Dhana sudah berkutat di dapur khusus yang terletak di belakang restorannya yang pertama. Dapur yang hanya ia gunakan untuk meracik dan bereskperimen menu yang baru.
Dhana sedang sibuk memasak menu baru untuk restorannya, yang akan ia jadikan menu andalan berikutnya. Setelah dua jam berkutat dengan asap, akhirnya menu siap disajikan dan difoto.
Duda tanpa anak itu dibantu oleh Chef andalannya memulai plating dan menata makanan di meja.
"Maaf Pak, ada tamu," Tia, asisten Dhana masuk ke ruangan.
"Oh, ya, suruh masuk."
Hari ini Dhana memang sudah membuat janji dengan Windy di kantornya. Ia sudah menyiapkan contoh menu untuk restoran barunya dan siap untuk difoto.
"Siang, Pak," sapa Windy saat membuka pintu.
"Siang, Mbak Windy. Ayo masuk-masuk."
"Wow, sudah siap yah makanannya?" mata lentik berpulas eyeshadow milik Windy berbinar kala melihat beberapa menu makanan tertata rapi di meja sisi kiri ruangan Dhana.
"Sudah dong," Dhana menjawab antusias.
"Wah ini masak dari jam berapa, Pak?"
"Sebentar kok, Mbak. Oya, mana temennya?" Dana mencari-cari orang lain.
"Ada di depan, Pak. Saya panggilin dulu yah."
Windy keluar ruangan Dhana sebentar, tak berapa lama ia masuk lagi diikuti seorang perempuan berjilbab pashmina warna ungu muda, senada dengan tuniknya.
"Mbak Laras?"
"Pak Dhana?"
Sementara Windy hanya cengar-cengir melihat dua insan yang terbelalak dan saling bersitatap.
"Ehm." Windy berdehem.
Suara Windy menyadarkan keduanya.
"Jadi... Foto-foto kemarin hasil jepretan Mbak Laras?"
"Foto apa ya, Pak?" Laras bingung.
Keduanya kini menatap Windy dengan pertanyaan di hati masing-masing. Tentu saja Windy hanya nyengir kuda.