Rumah Baru

1311 Kata
Jika ternyata kau bukan rumah Maka biarlah kucari sendiri tempat singgahku Yang akan memberiku kenyaman dan ketulusan Selamanya .... "Kakak Aidan ... pelan-pelan dong, tunggu adek-adeknya." tegur Laras. "Tapi Kakak mau naik ke sana," Aidan menunjuk playground yang terlihat di lantai 3. "Iya, nanti kita ke sana." "Mau ... mau ... " si kembar ikut berlompatan. "Iya, iya sabar yah ... kita naik lift aja yuk. Kalau naik ini susah, kalian belum bisa." Ketiga anaknya pun menurut dan mengikuti langkah Laras menuju elevator. Laras akui, selepas kepergian Raihan, ia memang sedikit kerepotan mengahadapi ketiga anaknya. Apalagi jika semuanya merengek atau berulah secara bersamaan. Tapi, ia terus berusaha untuk bisa memainkan peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah untuk ketiga buah hatinya. Setelah puas satu jam bermain di wahana permainan. Windy lalu mengajak semuanya untuk makan siang. Meski sempat menolak, tapi akhirnya anak-anak mau beranjak karena diiming-imingi dengan mainan baru. Mereka kemudian menyantap makan siang di salah satu restoran pizza. Meja mereka terdengar paling riuh di antara yang lain karena celotehan dan tingkah polah ketiga balita perempuan dan satu anak laki-laki. Hingga menarik perhatian seseorang. "Mbak Windy?" Semua mata tertuju pada laki-laki tegap yang kini tersenyum ramah di sisi meja. "Pak Dhana? Wah ketemu lagi kita, hehehe," cengir Windy. "Iya, loh Mbaknya kan yang tadi...?" Dhana menunjuk Laras yang juga sama-sama sedang mengerutkan kening. "Eh, Bapak ...." Laras tersadar sesuatu. Windy tersenyum jahil dan menyenggol lengan suaminya. Kemudian Windy berdehem, "ehm ...." seketika memutus kontak mata Dhana dan Laras. "Jadi, Mbak temennya Mbak Windy?" tamya Dhana dengan netra yang masih fokus pada Laras. "Iya, Pak. Ini temen saya yang waktu itu kita ketemu di depan rumah orang tua Pak dhana, kenapa, Pak?" "Pantesan saya kayak pernah liat, hehehe. Nggak apa-apa, tadi kami nggak sengaja ketemu di lantai satu." Kini Dhana yang tersenyum penuh makna. "Wah jadi kalian sudah ketemu duluan, kenalin Pak, ini Laras." Windy memperkenalkan keduanya. Laras hanya mengangguk sopan lalu mengalihkan pandangannya ke arah si kembar yang sedang bercengkrama dengan Arshila, putri Windy. Dhana pun membalas senyum Laras dengan ramah. "Oh ya, ini suami saya, Pak." Windy mengenalkan Ardhan, dua laki-laki itu lalu bersalaman. "Sendiri aja, Pak?" tanya Windy. "Iya, nih, Mbak." "Mari gabung, Pak," tawar Ardhan. "Iya, gabung sini aja, Pak," imbuh Windy. "Emm ... boleh deh." Dhana kemudian duduk bersebelahan dengan Ardhan dan berhadapan dengan Laras. Netranya seakan tak mau berpaling dari sosok perempuan berjilbab ayu yang sedang menyuapi kedua putrinya. Ada rasa penasaran dalam hatinya, di mana suaminya? Kenapa tidak ikut berkumpul bersama? "Mau pesen apa, Pak?" suara Windy memecah pikiran Dhana yang tadi sempat berpusat pada Laras. Laki-laki berkacamata itu kemudian menerima buku menu dan mulai memilih menu. Setelah memasan satu loyang pizza dan zupa sup serta minuman bersoda, Dhana lalu sibuk bertukar cerita dengan Ardhan. Dengan sesekali netranya melirik ke arah depan. Selesai makan bersama, anak-anak sudah menagih janji Windy untuk membelikan mainan. Akhirnya mereka pun menuruti kemauan keempat bocah tersebut. "Pak Dhana ikut aja." Kembali Windy mengajak, sebelumnya dia sudah mengkode suaminya. "Iya, sambil jalan cuci mata, Pak." Ardhan paham kode istrinya. "Hehe, boleh deh, kebetulan saya juga udah selesai sih." Akhirnya Dhana ikut berjalan beriringan dengan Ardhan di belakang rombongn ibu dan anak-anak di depannya. "Psst ... Ras, kayaknya Pak Dhana suka deh sama lo." Windy mengapit lengan Laras seraya berbisik. Ibu muda itu hanya menggeleng, "mulai deh ngehalunya." "Ini realita, Ras, bukan ngehalu. Emang lo nggak nyadar dari tadi si Dhana liatin lo mulu?" Kembali Laras hanya menggeleng dan tak menanggapi ocehan Windy, ia lebih fokus mengawasi anak-anaknya yang berjalan di depan mereka. Sesampai di toko mainan, anak-anak begitu antusias dan berlari menuju display mainan. Laras sampai kewalahan karena ketiga anaknya berpencar di lorong yang berbeda. Tapi, Laras lebih memilih mengawasi si kembar terlebih dahulu di rak set rumah mainan. Windy dan Ardhan pun sudah memisahkan diri mengikuti langkah si kecil Arshila di display boneka. "Kakak ... kamu diman-na?" Laras tertegun saat melihat Aidan yang sedang asyik bercengkrama dan memilih mainan miniatur figur superhero bersama Dhana. "Mama... mau ini..." Aidan menunjukkan miniatur Spiderman pada Laras. Dhana yang tadi berjongkok kini berdiri dan tersenyum ramah. "Kakak ‘kan udah punya yang Spiderman." "Tapi nggak punya yang Spiderman item." Laras menggeleng, lalu mengambil Spiderman dari tangan Aidan dan meletakkan kembali ke rak. "Mama... Kakak mau itu..." Aidan mulai merajuk, wajahnya sudah ditekuk. Laras hanya menghela napas dan menggeleng, ia harus bisa memainkan dua peran di depan anak-anaknya. Lagipula ibu muda itu juga harus berhemat mengingat kini pemasukannya terbatas. Ia harus memberi penjelasan yang masuk di nalar anak usia 8 tahun ini. "Kakak mau ini?" Dhana lalu mengambil kembali miniatur Spiderman dan menyerahkan kepada Aidan. Sulung dari tiga bersaudara itu berlompat kegirangan. "Eh, eh... jangan, Pak. Nggak usah," cegah Laras. "Nggak apa-apa, nanti saya yang bayar. Anggap aja sebagai hadiah perkenalan." "Tapi, Pak—" "Udah, nggak apa-apa." Laras pun hanya bisa pasrah, karena Aidan sudah teranjur kegirangan menggenggan manusia laba-laba berwarna hitam. "Kakak bilang apa kalau udah dikasih?" "Makasih, Om." "Sama-sama, Kakak Aidan. Tos?" Kedua laki-laki beda usia itu kemudian melakukan tos. "Terimakasih, Pak. Maaf merepotkan." "Iya, sama-sama. Santai aja, Mbak." Tak beda jauh dengan Aidan, ternyata si kembar Shifa dan Shafa juga sudah memeluk set rumah mainan warna pink. Begitu juga dengan Arshila yang sudah menggendong boneka Peppa Pig. Walaupun sempat rebutan saat di depan kasih, akhirnya Laras dan Windy pun tak bisa mencegah saat Dhana sudah mengeluarka sebuah kartu kepada kasir dan membayar semua mainan yang dibeli anak-anak. "Waduh, Pak Dhana terima kasih banyak yah. Jadi ngerepotin gini, hehehe," cengir Windy. "Ck, Mbak Windy nih kayak sama siapa aja." "Iya, nih, Pak. Maaf yah jadi ngerepotin," tambah Ardhan. "Nggak apa-apa, Pak. Kan nggak setiap hari juga ketemu." Meski dalam hati Dhana kini berharap bisa bertemu kembali dengan ibu muda nan cantik dengan ketiga anaknya yang lucu. Setelah berbincang sambil berjalan menuju parkiran, akhirnya mereka berpisah. Laras kembali mengucapkan terima kasih untuk kebaikan Dhana membelikan anak-anaknya mainan. Begitu juga dengan Windy dan Ardhan. Saat sudah masuk ke mobil, kini giliran Windy yang teriak histeris. Hingga membuat Ardhan kaget. "LARAAAAS! Fixed lo punya gebetan baru. Hahaha ...." "Ck, apaan sih, Win? Udah deh, kurang-kurangin tuh baca novel sama nonton drakornya. Biar nggak ngehalu mulu." "Ya, ampun, Laras. Masa lo nggak nyadar, sih? Segitu Dhana ngelirik lo mulu, ya kan, Mas?" Windy mencari pembenaran dan pembelaan dari suaminya. Ardhan yang masih sibuk menyetir hanya mengangguk dan berkata, "kelihatannya sih gitu. Pak Dhana kayak penasaran gitu sama Laras, tapi bingung mau nanya apa dan ke siapa." Laras kembali menggeleng menanggapi analisa pasangan suami istri yang duduk di depan. Baginya saat ini bukan lagi masa-masa seperti ABG yang mencari gebetan baru untuk dipacari. Apalagi mengingat ketiga buah hatinya yang sedang butuh perhatiannya. "Ras, apa gue comblangin lo sama Dhana aja kali yah." Tiba-tiba Windy punya ide cemerlang. Karena ia yakin sahabatnya kini butuh sosok baru untuk menggantikan peran Raihan. Apalagi anak-anaknya masih butuh figur seorang ayah. "Windy ... Jangan ngaco deh!" Laras terlihat sewot, baginya, ide Windy adalah sebuah lelucon. "Ras, mau semandiri apa pun seorang perempuan, apalagi udah punya anak, sehebat apa pun lo berjuang sendiri, meskipun udah terbiasa ngelakuin semua hal sendiri, tetep aja suatu hari nanti pasti butuh seseorang buat dijadikan rumah tempat untuk pulang, yang bisa diajak diskusi dan selalu ada di samping kita. Karena kita perempuan emang butuh sosok pelindung, Ras." Windy memberi ceramah kepada Laras. Ibu tiga anak itu hanya diam mencerna setiap kalimat yang diucapkan sahabatnya. Bagi Laras, sepuluh tahun dikhianati dan tak dicintai itu rasanya sudah cukup menyakitkan dan menderita. Dan ia kini merasakan hatinya menjadi beku dan kaku. Ia trauma, jika harus menaruh hati lagi pada kaum adam. Laras sudah mengunci rapat pintu hatinya bagi siapapun. Menurutnya, kelak ia pun akan bisa bahagia meski tanpa sosok laki-laki di sampingnya. Toh ada anak-anak yang akan setia menemani hari-harinya. Laras yakin ia bisa menemukan rumah baru, tanpa harus bersama penghuni baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN